ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Mood ibu hamil



"Papa Adam, Twins ingin itu." Disya menujuk sesuatu ke atas.


Adam yang sedang duduk di kursi taman mengikuti jari Disya yang menunjuk.


"Heh, itu punya orang sayang." Ucap Adam sambil menelan ludah kasar.


"Iya, tapi aku mau mangga itu." Ucap Disya lagi sambil menatap buah mangga yang bergelantungan di atas pohon.


"Kita beli saja ya, tidak harus mengambil di pohon itu." Bujuk Adam yang sepertinya dirinya mulai terancam.


Kandungan Disya yang tidak terasa sudah akan memasuki bulan ke tujuh membuat Adam sedikit kesulitan untuk menuruti permintaan Istrinya.


Padahal kata orang ngidam hanya di saat kandungan berumur 3-5 bulan tapi sepertinya Disya tidak seperti itu, karena nyatanya sampai sekarang wanitanya tetap menginginkan hal-hal aneh sampai saat ini.


"Kita beli saja ya.." Adam masih membujuk saat Disya menarik tangannya untuk mendekati pohon mangga yang ada diseberang jalan.


"Ngak mau, aku maunya mangga dari pohonnya langsung." Ucap Disya yang tetap kekeh membawa Adam mendekati pohon itu.


"Sya.."


"Permisi..!!!" Disya langsung berteriak didepan gerbang rumah yang punya pohon, entah milik siapa, yang penting Disya ingin buah mangga itu.


"Permisi!! apa ada orang..!" Panggil Disya lagi.


Adam menggaruk kepalanya yang sudah pusing melihat kelakuan Istrinya. Jika ada rekan bisnisnya yang melihat mau di taruh mana wajahnya.


"Cari siapa ya Mbak?" Tiba-tiba seorang wanita keluar dan mendekat ke arah mereka.


"Ibu pemilik rumah ini?" Tanya Disya.


Adam hanya diam saja melihat istrinya yang begitu antusias, dirinya merasa malu meminta mangga, padahal beli sama pohon bahkan rumahnya sekaligus Adam mampu.


"Iya Mbak, ada apa ya?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, saya hanya ingin-"


"Ada apa mah?" tiba-tiba seorang pria keluar dan menghampiri mereka.


"Ngak tau pak." Jawab wanita itu.


"Loh, pak Adam." Pria itu terkejut saat melihat seorang pria yang dia kenal.


Adam yang namanya disebut, menatap pria itu, tapi dirinya tidak tahu siapa pria itu.


"Sayang.." Disya memeberikan kode agar Adam menyapa pria yang ternyata mengenalinya itu.


"Ah iya, perkenalkan saya Herman bekerja di perusahaan bapak." Pria itu mengulurkan tangan.


Adam menjabat ala kadarnya, sifatnya yang dingin dan cuek membuatnya seperti itu.


"Loh, ternyata bapak ibu atasan kamu pak." Ucap istri Herman.


"Iya, Mah. Ayo suruh masuk. Suatu kehormatan untuk saya bapak dan ibu datang ke rumah saya." Ucap Herman yang begitu senang melihat pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja datang.


"Maaf, sebenarnya maksud kami datang kesini karena istri saya yang sedang hamil menginginkan mangga itu." Tunjuk Adam pada pohon mangga yang ada di samping pagar. "Dia ngidam pengen ambil mangga itu." Ucap Adam lagi.


Disya sudah tersenyum dan mengangguk, apalagi tenaganya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.


"Astaga, ternyata ibu sedang ngidam. Kalau begitu kebetulan istri saya sangat enak bikin bumbu petis." Ucap Herman yang begitu senang.


"Eh, kebetulan sekali ya Bu." Ucap Disya yang ikut senang. "Sayang kalau begitu ayo kamu ambil manganya, aku sudah tidak sabar ingin memakannya." Tutur Disya yang menyuruh Adam agar segera mengambil buah mangganya.


"Biar saya saja Bu yang mengambilnya." ucap Herman.


"Tidak pak, saya hanya mau suami saya yang mengambilnya." Kata Disya.


"Sayang, aku tidak bisa memanjat." ucap Adam dengan wajah memelas.


"Kamu pasti bisa sayang, papa Twins pasti bisa." Disya memberikan semangat untuk Adam.


Sedangkan Adam sudah pasrah dengan apa yang istrinya inginkan.


Sebagai seorang suami Adam harus rela bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan, yaitu resiko jika menghamili istrinya. Dan seperti inilah jika berani berbuat, dan berani bertanggung jawab.


Beberapa hari kemudian...


Di yayasan Ayana tampak begitu ramai dengan acara yang berlangsung, acaranya syukuran kehamilan Disya yang tepat memasuki angka ke tujuh. Ayana mengundang beberapa panti asuhan untuk merayakan tasyakuran itu dan mengundang pemuka agama yang sedang naik daun.


Acara berlangsung begitu khidmat, selain berbagai, mereka juga memberikan doa untuk Disya.


Mendirikan yayasan ini karena Nathan yang memberikan hadiah untuk Istrinya yang dulu suka mengajar di pinggiran kota, setelah pulang sekolah. Dan Nathan mewujudkan impian istrinya dengan mendirikan yayasan untuk sang istri.


"Sayang terima kasih." Ucap Disya sambil memeluk suaminya dari samping.


Adam merangkul bahu istrinya. "Untuk apa sayang?" Tanya Adam sambil menatap pemandangan sore hari di halaman taman belakang yayasan.


Karena acara sudah selesai keduanya memilih duduk santai di taman belakang.


"Semua, semua yang sudah kamu berikan." Ucap Disya dengan senyum. "Aku bahagia sayang, tidak menyangka akan menemukan kelurga seperti ini." Tutur Disya lagi.


Adam mengecup kening Disya beberapa kali membuat Disya merasa begitu di sayangi.


"Aku juga berterima kasih, kamu sudah mau mendampingiku meskipun awalnya dengan paksaan."


Disya mencubit perut Adam pelan. "Ish, kamu memang tuan pemaksa." Ledek Disya.


"Hm, tapi kamu cinta."


"Ihh, kamu nyebelin."


"Tapi ngangenin." Balas Adam lagi.


"Dasar kepedean." Ketus Disya.


"Memang kenyataanya."


Disya tertawa, begitu juga Adam. Tidak menyangka jika pertemuan mereka di London akan menjadi kehidupan kebahagiaan mereka.


Disya dan Adam dipertemukan dalam keadaan sebagai orang asing, tapi disatukan oleh takdir yang membawa mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Sebentar lagi Twins lahir, apa kau sudah menyiapkan nama?" tanya Disya yang masih bersandar di dada Adam.


"Sudah, aku sudah menyiapkan nama untuk mereka." Jawab Adam dengan tersenyum.


"Boleh aku tahu?" Tanya Disya.


"Tidak, nanti saja saat twins lahir."


"Kamu pelit." Kesal Disya yang langsung menghindar dari pelukan Adam.


"Kenapa?" Tanya Adam yang bingung melihat wajah kesal Disya.


"Nyebelin." Disya langsung meninggalkan Adam sendiri, wanita hamil itu berjalan masuk tanpa menggubris panggilan suaminya.


"Ya Tuhan, apa dia ngambek." Adam menepuk keningnya sendiri.


Menghadapi mood ibu hamil begitu sulit, berbeda dengan saat menghamili saja. Dan Adam sudah merasakan enak dan tidak enaknya menghadapi ibu hamil, dan dirinya tidak akan kapok untuk memiliki anak lagi.


Disya masuk kedalam kamar pribadi kelurganya, karena memang ada raungan khusus kelurga jika berkunjung.


Wanita itu mengambil tasnya dan hendak pergi tapi sebelum pergi tangannya sudah lebih dulu di cekal Adam.


"Kamu mau kemana Sya." Ucap Adam yang melihat Disya ingin pergi.


"Pulang, aku mau pulang. Kamu nyebelin." Ucap Disya sambil menahan tangisan dikedua matanya.


"Ya ampun Sya, hanya karena masalah sepele kamu marah." Adam frustasi menghadapi sifat Disya yang kembali labil.


Disya seperti awal mula hamil, sifatnya hampir membuat Adam gila.


"Sudah, kita pulang." Adam menggandeng tangan Disya untuk dia bawa keluar dari yayasan. Adam pun pamit kepada kedua orang tuanya dan pengurus yayasan.


"Kamu kenapa Sya?" tanya Ayana yang melihat wajah menantunya seperti menahan tangis.


"Tidak apa-apa mah, dia hanya belum bisa dipastikan mengontrol emisinya." Tutur Adam.


"Kenapa?" Tanya Ayana lagi.


"Panjang mah ceritanya, aku bawa pulang saja. biar dia bisa istirahat."


Ayana tidak bisa lagi berkata, dengan keputusan Adam. Dan Ayana memaklumi sifat Disya yang mungkin karena hormon kehamilannya sedang tidak baik-baik saja.


.


.


Teman bobok 😴😴😴