
"Arrghh Disya..."
Dino mengerang keras saat miliknya menyemburkan lahar panas. Pria itu terkulai lemas dengan tubuh yang basah oleh keringat. Dada bidangnya terekpose saat kancing kemejanya terlepas, dan Tika yang masih mengatur napasnya mencoba untuk kembali meraup tenaganya setelah menjadi pemimpin olahraga yang begitu menguras tenaganya.
Meskipun yang Dino sebut nama Disya, tapi Tika tetap merasa bahagia karena pria pertama yang memilikinya adalah pria yang dia cintai dalam diam. Dino sepertinya jauh untuk dia gapai, karena Tika sadar sejak pertama melihat Dino pria itu terus menjaga jarak darinya, bahkan dari wanita lain juga.
"Shhh, perih sekali." Gumam Tika sambil mengigit bibir bawahnya. "Jika begini besok aku tidak bisa masuk kerja." Tuturnya dengan ekspresi meringis saat merasakan nyeri di area miliknya.
Sebelum meninggalkan Dino di dalam mobil, Tika lebih dulu membersihkan sisa percintaan mereka dengan tisu yang ada di sana, untung saja tadi Dino menirukan celananya sampai kaki, jadi tidak ada jejak yang berarti dalam percintaan mereka.
Tika mengusap semua menggunakan tisu, jelas noda merah terlihat di bekas tisu itu.
"Mungkin ini malam tersial, tapi bagiku ini adalah malam yang tidak akan aku lupakan." Tika tersenyum sambil mengusap kening Dino yang basah sisa keringat percintaan tadi, bahkan Dino langsung terlelap setelah pria itu mencapai pelepasan yang begitu hebat.
Dan sebelum meninggalkan Dino, Tika mencium kening dan bibir Dino sekilas, karena setelah ini pastinya Dino tidak akan mengingat kejadian mobil bergoyang.
Di apartemen, Adam baru saja menerima telepon dari Arfin, pria itu memberi tahu kan data pribadi Dino yang memang di tutup untuk publik. Tapi karena Arfin yang meminta batuan Mario untuk mengetahui data Dino yang sebenarnya.
"Hm." Adam menutup sambungan telepon, pria itu mengusap wajahnya kasar dengan wajah yang frustasi.
"Ternyata Dino anak Hendro." Gumam Adam yang duduk bersandar di bahu ranjang.
Disya yang merasakan pergerakan Adam membuka matanya perlahan, dan melihat Adam yang sepertinya melamun.
"Kamu kenapa?" Tanya Disya dengan suara serak khas bangun tidur.
Adam menoleh pada sumber suara, dan disana Disya sedang menatapnya.
"Tidak apa-apa, ayo tidur lagi." Adam kembali meluruhkan tubuhnya untuk berbaring kembali dan memeluk Disya, lenganya untuk bantalan sang Istri yang memeluknya.
Tangan Adam mengusap kepala Disya lembut. "Sya.."
"Hm.." Disya bergumam dengan mata terpejam.
"Apa kamu belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Dino?" Tanya Adam.
Adam mengingat Disya melihat video yang Arfin kirim, dan Istrinya itu tidak mengenali siapa pria yang bersama Dino.
"Belum, memangnya kenapa?" Disya mendongak untuk melihat wajah Adam.
"Tidak apa-apa." Adam mengecup kening Disya.
"Dam.."
"Hm.."
"Aku ingin makan jagung bakar."
.
.
.
Empat puluh lima menit kemudian, Adam sudah duduk di kursi pinggir jalan bersama Disya yang begitu lahab memakan jagung bakar yang dia inginkan, Adam ikut menikmati jagung bakar sambil menatap wajah Disya yang terlihat begitu bahagia.
"Em, ini sangat enak. Aku suka." Jawab Disya seperti anak kecil.
Adam hanya terkekeh. "Sya.."
Adam memanggil Disya dan membuat wanita itu menoleh.
"Kenapa?"
"Apa kamu akan mendukungku jika masalah Dino sampai ke jalur hukum?" Tanya Adam dengan tatapan serius menatap Disya.
Disya tertegun mendengarnya, walaupun dua tahu yang di lakukan Dino adalah kecurangan yang tidak bisa di maafkan, tapi melihat Dino terseret kasus dan digiring polisi Disya juga tidak tega.
Disya menatap wajah suaminya dengan tatapan bingung, dan Adam tahu arti akan tatapan Disya.
Meskipun Adam suka kesal dengan Dino yang masih mendekati istrinya, tapi Adam tahu jika istrinya tidak akan tega. Walau bagaimana pun Dino pernah menjadi pria yang menjaga Disya untuknya, dan berakhir dirinya yang mendapatkan wanita itu.
"Jangan dipikirkan, cepat habiskan." Adam mengusap kepala Disya, dan tersenyum. Pria itu kembali memakan sisa jagung yang belum habis ditanganya.
Keesokannya...
Adam dan Arfin menatap pria yang sedang duduk di depan mereka, pria yang sedang mencekram erat kertas yang ada di tangannya.
"Aku tahu kau pria baik, yang pernah Disya banggakan dan aku tidak bisa membayangkan jika betapa kecewanya Disya melihat apa yang kau lakukan." Adam bicara santai didepan Dino.
Dino langsung menatap Adam tajam. "Kamu tahu, diantara suami istri tidak ada hal yang ditutupi, dan untuk hal ini pasti Disya akan tahu, dan mungkin dia akan membencimu."
Deg
Dino sejenak mematung, pria itu memikirkan ucapan Adam.
Arfin hanya menjadi pendengar, pria itu ogah ikut masuk ke topik masalah wanita.
"Pikirkan lagi, aku berharap kau berubah pikiran dan menjadi pria baik seperti yang Disya tahu." Adam sebisa mungkin bersikap tenang, dia hanya ingin Dino mengembalikan semua kembali semula perusahaan yang dia pegang, karena sejauh ini pria itu belum menyerahkan berkas penting kepada papanya.
Disya meyelesaikan laporan bulanan untuk diserahkan kepasa atasanya, dan hari ini kebetulan Adam datang ke kantor.
Wanita itu keluar dari ruanganya menuju ruangan Adam, dan saat ingin masuk tiba-tiba pintu dibuka dari dalam.
Dino mematung sesaat setelah melihat Disya yang berdiri didepan pintu, pria itu menatap Disya yang juga menatapnya.
"Pak Dino." Disya menelan ludah melihat Dino yang berdiri didepannya.
"Sya.." Suara Dino tampak berat, ingatanya mengingat kembali ucapan Adam yang baru saja dia dengar.
Disya hanya diam, tapi wanita itu merasa risih ditatap Dino seperti itu.
"Jam istirahat, aku ingin bicara berdua."
.
.
Apakah kalian bosan???🤕