
Sampainya di kampus Disya, Adam mencari pesanan yang Disya maksud, dan tidak jauh dari tempatnya parkir Adam melihat tenda yang bertuliskan mie ramen. Melihat tempat berjualan Adam tidak yakin. Tapi kata Disya tempat itu adalah langgananya.
"Apa itu tempatnya." Adam bicara pada diri sendiri, tapi melihat banyak pengunjung yang membeli Adam akhirnya turun dari mobil.
Kedatangan Adam menyita perhatian pembeli yang ada disana, hingga Adam harus mengantri dibelakang beberapa pembeli.
Adam menatap kesekiling yang tempat duduknya ternyata penuh, patas saja Disya menyukai mungkin memang rasanya enak.
Setelah hampir satu jam berdiri, akhirnya Adam bisa bernapas lega karena hanya tinggal satu orang lagi didepanya.
"Maaf den, ramen nya habis. Tinggal untuk ibu ini." Ucap penjual yang meminta maaf lebih dulu.
Adam tertegun. "Habis?" Ucapnya untuk memastikan.
"Iya habis, kebetulan hari ini sangat ramai." Istri penjual itu yang menjawab.
Adam tampak lemas mendengarnya. "Tapi Bu, saya butuh ramen nya satu aja. Istri saya lagi pengen." Tutur Adam dengan wajah memelas.
"Eh, tapi ini udah abis den. Ibu ngak ada stok lagi." Ibu penjual itu juga merasa tidak enak, melihat wajah Adam yang memohon.
Adam mengusap wajahnya seperti orang frustasi, tapi dia memang benar-benar frustasi kalau tidak mendapatkan apa yang Disya inginkan, Adam takut jika bayinya nanti akan menjadi ngences seperti yang rekannya tadi bilang.
"Memangnya untuk apa Mas? kok kayaknya ngebet banget pengen ramen?" Tanya ibu-ibu yang mengantri didepan Adam.
"Istri saya sedang hamil, dan pengen makan ramen ini." Kata Adam dengan jujur. Berharap ada belas kasihan ibu-ibu itu untuk memberikan yang dia mau.
Ibu-ibu itu menatap Adam dari atas sampai bawah, menilai penampilan Adam yang santai.
Padahal dirinya pantang untuk cara sogok menyogok.
"Kalau boleh sih, selain uang saya juga mau cium mas nya ini. Biar anak saya nanti ketularan ganteng." Ucap ibu itu dengan senyum malu-malu menatap wajah Adam yang seperti artis yang sering dia lihat.
"Eh, Vi itu kan Sir Adam ngapain di sana?" ucap Dina yang baru sadar jika ada atasanya di bawah tenda yang sama.
"Masa sih, sir Adam di sini." Vivi ikut menoleh kearah Dina tunjukan.
Dan benar, di sana ada Adam yang sepertinya sedang merayu ibu-ibu.
"Video coba nanti kita kirim ke Disya." Ucap Dina yang menyuruh Vivi.
"Boleh deh, sepertinya baliau sedang melakukan sesuatu." Vivi cengengesan melihat Adam yang di pegang-pegang ibu hamil.
Adam yang di tanya seperti itu menelan ludah kasar, dicium? yang benar saja dirinya di cium ibu-ibu hamil di tempat umum.
Tapi Adam kembali memikirkan Istrinya yang sedang ngidam bisa saja Disya sangat menunggu makanan ini.
"Tapi cuma sebentar ya Bu, tidak pakai lama." Tawar Adam yang memang tidak pernah dekat dengan wanita lain, kecuali Mama dan juga adiknya dan sekarang ada Disya.
Ibu itu hanya menurut. "Demi kamu sayang papa rela di cium." Ucap Adam dalam hati.
Sedangkan Vivi dan Dina sudah tertawa ngakak sambil menutup mulutnya takut jika Adam mendengar, mereka menertawakan Adam yang terlihat begitu tertekan saat ibu itu menciumnya. Tapi mereka salut dengan Adam yang menjadi suami siaga, rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan satu porsi ramen permintaan Disya.
Jangan lupa tinggalkan jejak 😴😴😴