
Rantika menatap senja sore dari jendela kamarnya, menatap langit yang begitu indah dilihat. Warna jingga yang begitu indah membuatnya betah lama-lama untuk menatap indahnya langit.
"Hampir petang, tidak baik orang hamil berdiri melamun. Apalagi jendela tidak di tutup.
Rahayu datang, dan menutup jendela kamar Rantika dan menguncinya.
"Kamu sedang hamil muda banyak pantangan yang harus kamu taati." Kata Rahayu lagi sambil berlalu pergi.
Rantika sendiri tersenyum, mekipun sikap ibunya masih dingin, tapi dirinya tahu jika sang ibu masih peduli padanya. Hanya saja sikap ibunya mungkin masih belum terima dan menunjukan rasa kecewanya.
Rantika keluar dari kamar setelah mendengar panggilan adiknya.
Pria remaja yang masih duduk di bangku sekolah kelas 10.
"Ibu menunggu mbak makan." Ucap Radit.
Rantika hanya mengangguk dan keluar dari kamar mengikuti langkah adiknya menuju meja makan.
Sampainya di sana ibunya sudah menunggu untuk makan malam bersama.
Meksipun kelurga sederhana, tapi sejak dulu mereka membiasakan untuk makan bersama di meja makan saat makan malam.
Ranti hanya melihat lauk dan sayur seadaanya, tidak seperti saat dirinya masih bekerja dan tinggal di apartemen, meskipun satu bulan sekali memakan stik setidaknya itu adalah makanan mahal yang hanya bisa di beli oleh kalangan orang kaya.
Dan sekarang dirinya hanya melihat makanan seadanya di atas meja, hatinya terenyuh. Begitu sedih mendapati dirinya yang sekarang sudah tidak bekerja dan mendapatkan penghasilan.
"Ibu tidak tahu makanan ini bisa kamu makan atau tidak, tapi paling tidak kamu harus makan." Ucap Rahayu yang memasak sayur sub dan ayam goreng dilengkapi dengan sambal kecap.
"Ranti bisa makan Bu, hanya saja kalau pagi memang sering mual." Jawabnya mencoba untuk tersenyum tipis meskipun hatinya begitu sedih.
"Memangnya mbak Ranti sakit apa? dan kenapa tidak periksa kerumah sakit." Tanya Radit yang belum mengerti.
Rantika menatap Ibunya yang hanya diam sambil mengambil nasi, dan hal itu cukup membuat Rantika bingung ingin menjawab apa.
Meskipun Radit mungkin sudah mengerti tapi untuk menjelaskan Rantika masih bingung.
"Sudahlah Dit, kamu makan saja." Rahayu memberikan satu potong ayam goreng di piring Radit.
Radit yang penurut pun diam dan tidak berkomentar lagi. Sedangkan Rantika mulai mengisi piringnya sendiri.
Kebersamaan mereka terasa berkurang, tapi melihat adik dan ibunya yang tegar membuat Rantika begitu senang, mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan walaupun sang bapak sudah berpulang. Hanya saja rasa kurang masih mengganjal karena tidak ada seorang bapak, dan setelah ini pasti semua akan baik-baik saja.
Di Jakarta, Dino sibuk mempersiapkan apa yang akan dia lakukan di kampung Rantika, pria itu menyuruh Tio menyiapkan semua lebih cepat, karena lusa Tio harus menyusul ke kampung jika semua sudah pasti.
Malam ini Dino sengaja pulang kerumah orang tuanya, pria itu datang di saat jam makan malam.
pemandangan seperti biasa yang Dino lihat, papanya duduk di kursi roda dengan seorang suster yang menyuapi, dan ibu sambungnya duduk dengan putrinya menikamati makan malam mereka.
"Dino tumben kamu datang." Tanya ibu sambung Dino yang melihat putra suaminya datang kerumahnya.
Dino hanya tersenyum tipis, dan mengambil duduk si kursi makan yang masih kosong.
"Papa apa kabar sus?" Tanya Dino pada perawat pribadi ayahnya itu.
"Baik tuan, tapi belum ada perkembangan yang signifikan." Jawab suster itu.
Dino hanya mengangguk, Hendro mengalami struk tidak bisa bicara dan menggerakkan organ tubuhnya, menerima suapan makanan saja masih kesusahan. Hanya saja Dino memberikan perawatan intensif pribadi di dalam rumah, karena mengandalkan ibunya saja Dino tidak percaya.
"Ngomong-ngomong ada apa kamu datang kesini?" Tanya Talia ibu sambung Dino.
Dino menatap Talia, wanita yang sudah memberinya seorang adik, tapi tidak memberinya kasih sayang. Karena yang Talia sayangi hanyalah papanya.
"Memangnya kenapa? Mama hanya ingin kamu mendapatkan jodoh yang baik dan dari kalangan yang sepadan dengan kita." Jawab Talia.
Dino hanya menghela napas, selama ini Talia memang suka sekali datang ke kantor dengan membawa seorang wanita, dan Talia datang memaksa untuk bisa masuk keruangannya.
"Salah, karena saya tidak menyukai sifat anda. Walaupun saya menghormati anda nyonya." Ucap Dino tegas. "Dan satu lagi, besok saya akan menikah." Terang Dino jelas membuat Talia terkejut.
Begitu juga Hendro yang mendengarnya, tapi pria itu bisa apa, selain bicara dalam hati, Hendro tidak bisa melakukan apa-apa.
"M-menikan? sama siapa Dino? sama siapa!" Tanya Talia dengan suara keras.
"Bukan urusan anda, yang jelas dia adalah wanita yang akan memberikan kelurga kecil untuk saya." Setelah mengatakan itu Dino pergi tanpa pamit pada Talia.
Dino hanya meminta restu pada Hendro saat menyentuh tangannya. "Dino meminta restu, karena papa adalah orang tua Dino." Hanya itu yang Dino katakan, dan mampu membuat Hendro menjatuhkan air matanya.
"Maafkan papa Dino." Hanya didalam hati Hendro berkata. "Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan."
Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia, hanya saja obsesi Hendro dengan bisnis membuatnya jauh dari putranya. Ambisinya dalam berbisnis membuat Hendro menghalalkan segala cara, dan Dino pria baik tidak seperti papanya memilih berdiri di atas kakinya sendiri meskipun pada akhirnya dirinya akan kembali ke dalam keluarganya, tapi semua itu tidaklah membuat Dino akan seperti papanya. Dino akan memperbaiki semua hal yang buruk menjadi semestinya.
Sedangkan Talia yang berharap ingin memilki anak laki-laki tidak terwujud, karena dia melahirkan anak perempuan. Jika laki-laki maka anak yang dia lahirkan akan memiliki kedudukan yang sama dengan Dino, tapi semua tidak seperti yang dia inginkan, karena anak perempuan hanya akan mendapatkan 20persen saham dan 10 persen untuk dirinya. Sisanya Dino lah yang berkuasa.
Maka dari itu, Talia mencoba untuk menjodohkan Dino dengan wanita yang dia pilihkan, tapi sudah beberapa wanita yang Talia bawa Dino menolaknya mentah-mentah. Tidak berhenti berusaha, Talia sampai datang ke kantor Dino dan hasilnya tetap sama, nihil.
Dino pulang ke apartemen miliknya, pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi Dino hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, dengan handuk kecil untuk mengusap rambutnya yang basah.
Melihat ponselnya Dino langsung menghubungi nomor Rantika.
Deringan pertama masih belum di angkat, hingga panggilan kedua barulah Rantika mengangkatnya.
"Hay.." Dino langsung menyapa Rantika saat wajah wanita itu memenuhi layar ponselnya.
Rantika tersenyum untuk membalas sapaan Dino.
"Sudah makan?" Tanya Dino.
Rantika memalingkan wajah saat Dino menaruh ponselnya di atas nakas dan memperlihatkan tubuhnya yang bertelanjang dada, Dino mengusap rambutnya sambil menatap wajah Rantika.
"Kenapa diam, sudah makan apa belum?" Dino mengulangi pertanyaannya lagi karena Rantika hanya diam dan tidak mau menatapnya.
"Sudah." Jawab Rantika yang belum mau menatap Dino.
"Hey, kenapa tidak mau menatapku?" Dino megambil ponselnya kembali, pria itu duduk dipinggir ranjang dan menatap layar ponselnya.
"Bapak pakai baju dulu." Cicit Rantika.
Dino malah tersenyum mendengar apa yang Rantika katakan, jadi dari tadi wanitanya merasa malu.
"Kenapa malu? bukankah kamu sudah melihat tubuhku, bahkan kamu sudah merasakan-"
"Bapak pakai baju dulu, kalau tidak aku matikan." Ucap Rantika cepat.
Dino terkekeh. "Baiklah aku pakai baju."
Rantika menghela napas, terlalu mengganggu matanya jika melihat pemandangan pria yang sudah membuatnya berteriak kenikmatan. Seketika bayangan malam panas di dalam mobil melintas di kepalanya.
"Tidak." Rantika menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Dino hanya diam sambil menatap wajah Rantika yang terkadang tersenyum, cemberut dan bingung. Entah apa yang wanitanya pikirkan. Tapi yang Dino sadari, hatinya menginginkan Rantika, tidak ada lagi bayangan wanita yang dia cintai. Karena hatinya sudah mengikhlaskan wanita itu untuk bahagia dengan pria yang dia cintai.
Kini saatnya dirinya memulai semua dari awal, apalagi sekarang dirinya sudah menemukan tujuan hidup untuk membina rumah tangga.