
"Hey kau Cemburu." Adam menarik lengan Disya saat ingin memasuki lift.
Dan membuat Disya yang akhirnya berhenti berbalik menatap Adam.
Disya mendelik menatap Adam yang sepertinya salah sangka, tapi dengan tidak sadar Disya memang seperti wanita yang cemburu pada kekasihnya.
"Aku cemburu.!" Disya menujuk dirinya sendiri, tidak percaya dengan ucapan Adam.
Adam hanya mengaguk, dan Disya lebih dulu masuk kedalam lift saat pintu lift terbuka.
"Kalau tidak cemburu, lalu apalagi, melihatmu yang kesal saat ada wanita yang memperhatikan Ku." Adam ikut masuk kedalam lift.
Lift yang mereka tumpangi bergerak menuju flat yang mereka tuju, dimana tempat Adam selama ini tinggal.
"Cemburu denganmu tidak ada untungnya buatku." Ketus Disya dengan wajah judes.
Enak saja dirinya dibilang cemburu, padahal Disya hanya tidak suka jika Adam terlalu menjadi pusat perhatian dengan posisi pria itu terlihat manjakan mata, Disya tahu bagaimana para wanita-wanita itu menatap Adam dengan penuh minat.
Entah apa yang dipikirkan Disya, jika saja dirinya tidak menyukai Adam, tapi kenapa seolah dirinya berlagak seperti seorang kekasih. Padahal jika Disya menerima Adam dengan tangan terbuka, sudah pasti Disya tidak perlu menutupi rasa cemburunya. ehh tapikan Disya tidak cemburu.
Adam hanya bisa mengulum senyum, dirinya tidak ingin membuat Disya semakin kesal, lantaran Disya malam ini sangat cantik. meskipun terlihat natural Disya malah semakin cantik, apalagi gaun yang dia berikan begitu pas dipakai wanitanya, dan Adam menyukai penampilan Disya malam ini.
Disya menekan kode password pintu apartemen Adam, seperti seorang pemilik apartemen. Disya dengan pedenya melakukan apa yang dia mau. Tidak perduli Adam yang sejak tadi melihatnya sambil geleng kepala.
Keduanya masuk setelah pintu terbuka, dan Adam yang menutupnya kembali, pintu tertutup maka akan terkunci otomatis.
Bugh
Disya menjatuhkan tubuhnya disofa, sebenarnya dirinya lelah.Tapi demi menghormati acara kantor Disya tetap berangkat.
Melihat Disya yang memejamkan mata sambil bersandar di bahu Sofa, membuat Adam tahu jika wanitanya lelah. Adam pun mendekat, dan menunjukan badannya hingga kedua tangannya bertumpu di atas bahu sofa samping kanan kiri kepala Disya.
Cup
Adam memangut bibir Disya sekilas dan membuat kedua wanita itu membuka matanya langsung.
"Kamu lelah." Bisik Adam dengan posisi yang masih sama, Adam menatap Disya dengan intens bahkan jarak keduanya sangat dekat, membuat jakun Adam naik turun lantaran Disya terlihat begitu cantik, bibir tipis dan terasa manis yang selalu membuat Adam ingin selalu merasakanya lagi dan lagi.
Hap
Adam langsung mengendong tubuh Disya ala bridal menuju kamarnya, Disya yang awalnya berontak kini menjadi diam, lantaran Adam membaringkannya di atas ranjang.
"Istirahatlah sebentar, aku akan mandi." Ucap Adam sebelum meninggalkan Disya.
Disya melihat punggung Adam yang menjauh, tapi pria itu malah melakukan panggilan telepon yang membuat Disya tidak percaya.
"Hallo Fin, undur acara pesta satu jam kedepan. Gue dateng telat." Ucap Adam yang didengar oleh Disya.
Adam mematikan sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari Arfin, dan pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Walaupun Adam tidak memberikan alasannya, tapi Disya cukup tahu untuk siapa Adam melakukan itu. Kini Disya mengerti jika Adam memang pria yang berkuasa dengan sakali bicara, dan sepertinya Disya akan mencoba untuk menerima pria pemaksa itu.
Tangannya menyentuh perutnya yang sangat rata, dia takut jika didalam sana ada benih Adam yang tumbuh, karena saat terakhir kali mereka melakukanya, dirinya masih dimasa subur.
Tidak bisa memejamkan mata, dan pikirnya malah kemana-mana, Disya memilih bangun dari ranjang dan menuju lemari besar yang ada diruangan itu. Disya yakin disana Adam menaruh semua pakaiannya.
Tergerak dari hatinya, Disya membuka lemari besar itu, dan melihat pakaian Adam.
Bibirnya tersenyum, saat melihat setelah jas yang menurutnya bagus, dan kebetulan warnanya sangat cocok dengan bajunya, tanpa Disya sadari dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Adam selama beberapa minggu ini.
Adam keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Tubuh yang proporsional, dan dada yang bidang, ditambah perut Adam yang terlihat begitu menggoda jika saja Disya melihat pasti wanita itu akan ileran.
Tapi sayangnya Adam tidak melihat Disya yang berbaring, melainkan hanya melihat setelan jas yang sudah ada di atas ranjang.
"Apa dia yang menyiapkannya?" Gumam Adam mengambil pakaian yang Disya siapkan.
Bibir Adam terseyum, tanpa dia paksa Disya malah menunjukan sifat manisnya. Tapi bukan Adam namanya jika tidak memaksa.
.
.
Rindu kalian, 🥰🥰