
Adam berdiri di atas panggung dan memberi sedikit sambutan hingga tak lama dirinya membicarakannya acara inti yang akan dia sampaikan. Adam menatap kesekeliling orang-orang yang hadir di acara khusus kantor cabang itu. Bahkan secara tidak langsung Adam melakukan siaran langsung hanya untuk satu orang yaitu Ayana Malika Ifana, ibunya sendiri. Karena sedang kurang fit, Ayana meminta suaminya papa dari Adam untuk menghubungkan acara yang Adam gelar lewat laptopnya, dan tentu saja permintaan nyonya besar itu dituruti oleh Nathan.
"Dan untuk malam ini sengaja saya menbut acara seperti ini untuk memberikan ucapan selamat atau penghargaan untuk salah satu karyawan yang kalian pasti ketahui, bukan tanpa alasan saya melakukan ini, karena selama bertahun-tahun kalian hanya tunduk dengan pria yang memiliki jiwa koruptor. Bukannya saya tidak tahu apa yang terjadi, saya hanya ingin menujukan seseorang yang benar-benar bekerja dengan dedikasi yang baik dan bertanggung jawab, tidak mudah terhasut hanya karena iming-iming sebuah uang."
Ucapan Adam membuat beberapa orang tertohok dengan ucapan Adam, walaupun tidak menyebutkan nama, tapi mereka sendiri yang merasakannya.
"Dan untuk karyawan yang bisa dibilang cukup berani dalam bertindak maka saya akan memberikan hadiah yang sepadan untuk karyawan itu. Tanpa saya sebutkan kalian pasti sudah tahu, jika orang itu adalah Disya Fanesya Handoko." Ucap Adam menyebut nama Disya dengan lengkap. Dan yang membuat mereka saling berbisik adalah nama belakang Disya yang tidak asing.
"Putrimu memang keturunan mu Frans." ucap Nathan melirik Frans dengan senyum.
"Aku hanya menyuruhnya bersekolah, dia sendiri yang memilih untuk menjadi mengabdi sepertiku." jawab Frans santai.
"Dan sebentar lagi pasti akan ada hadiah besar yang dilakukan anak nakal itu." ucap Nathan membuat Frans menatap penuh tanda tanya.
Nathan yang mengerti tatapan Frans hanya tersenyum. "Siapkan saja mentalmu Frans, agar tidak terkena serangan jantung." Ucap Nathan sambil terkekeh.
"Nona Disya Fanesya, yuhuuu Anda dimana? pangeran sudah menunggu anda nona Disya." Pembawa acara kembali memanggil nama Disya, karena wanita itu tidak kunjung terlihat naik keatas panggung, sedangkan Adam sudah mengepalkan tangannya saat tidak melihat Disya di dalam aula itu. Sudah pasti Disya sedang menemui Dinosaurus.
"Disya Fanesya Handoko apa aku perlu mendatangimu. Dan membawamu naik keatas panggung!"
Deg
Suara Adam begitu menggelegar hingga membuat wanita yang akan masuk ke dalam aula pengetikan langkahnya, apa yang dikatakan Adam sampai-sampai suara pria itu terdengar seperti ancaman untuknya.
Perlahan Disya muncul dari balik pintu yang terhubung arah toilet, dan saat itu juga lampu aula langsung padam, hanya satu lampu yang menyorot kearah Disya yang berdiri mematung karena terkejut, apalagi dirinya sudah pasti menjadi pusat perhatian semua orang.
Dino yang baru saja mengikuti Disya, berdiri mematung melihat bagaimana wanita yang tadi begitu mudah memutuskan hubungan mereka sepihak. Dan apa yang dia lihat wanita itu seperti seorang wanita spesial yang di diberi kejutan oleh kekasihnya. Dada Dino begitu sesak melihat pemandangan yang terlihat jelas didepan matanya.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka." Gumam Dino dengan menahan sesak yang semakin mendera.
Disya pun dengan penuh keberanian berjalan menuju panggung, dimana disana ada Adam yang berdiri menatapnya tajam. Disya tidak memperdulikan tatapan Adam, bukankah sudah biasa Disya mendapat tatapan seperti itu.
"Woohoo sepertinya dia memang bidadari yang sedang mendatangi pangerannya, cantik sekaliii.." Pembawa acara itu heboh sendiri melihat Disya, merasa tidak percaya jika wanita bernama Disya itu cantik dan sepertinya serasi dengan CEO mereka.
Disya berdiri disamping Adam, wanita itu tersenyum menatap rekan satu perusahaan yang dia naungi. Lampu sudah kembali terang saat Disya sudah berada di atas panggung.
"Bagaimana? senang bisa berduaan dengan Dinosaurus itu!" Bisik Adam dengan suara penuh penekanan.
Dan semua mata menatap dua orang diatas panggung dengan tatapan menilai, apalagi melihat gesture Adam yang sepertinya lebih dominan untuk Disya yang fokus kedepan, sedangkan Adam pria yang diselimuti rasa kesal itu tidak sadar menujukan sifatnya yang aneh pada Disya.
"Berhentilah bicara, apa kau ingin mempermalukan dirimu didepan bawahanmu." Ucap Disya yang sudah jengah mendengar bisikan Adam yang sama sekali tidak benar itu.
Adam membulatkan kedua matanya, dan dirinya berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya yang tidak dia sadari sejak tadi berbisik pada Disya.
"Silakan pak Adam untuk memberi penghargaan untuk nona Disya." ucap pembawa acara itu.
Adam kembali berdehem, dan mendekatkan bibirnya pada mic diatas podium.
"Untuk malam ini, bukan hanya penghargaan yang akan saya berikan, tapi saya juga akan mengumumkan sesuatu." Adam tampak menarik napas untuk mengurangi rasa gugupnya, jujur dirinya juga merasa gugup saat situasi seperti ini.
Disya menarik belakang jas Adam agar pria itu tidak salah bicara. Dan Adam yang merasakannya malah menarik tangan Disya untuk dia genggam.
"Saya akan memberikan jabatan direktur keuangan kepada nona Disya sebagai bentuk apresiasi yang sudah dia lakukan." Ucapan Adam membuat semua bertepuk tangan.
"Dan satu lagi." Adam merangkul pinggang Disya posesif, dirinya tahu jika diantara mereka para laki-laki tidak sedikit mengagumi kecantikan wanitanya.
Disya mencoba melepaskan diri dari rangkulan Adam, tapi nihil karena Adam merangkulnya begitu erat.
"Mulai malam ini dia wanita yang ada disampingku ini adalah_"
Blam
Tiba-tiba lampu mati, membuat semua orang panik, termasuk Disya yang takut akan kegelapan.
"Adam, aku takut." Disya memeluk erat tubuh pria yang dia yakini Adam.
Dan tak lama lampu hidup kembali membuat Disya bernapas lega, tapi seketika matanya melotot terkejut, bukan hanya dirinya tapi semua orang yang hadir.