ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Sah



Rumah Frans yang terbiasa sepi kini mulai ramai karena kerabat dan sanak saudara yang datang, acara ijab kabul akan di lakukan satu jam lagi, dan semua sudah berkumpul untuk menyaksikan acara sakral yang akan berlangsung.


Disya sudah duduk manis didepan cermin dengan dirinya yang sudah di rias sedemikian rupa, hingga wajah cantiknya semakin terlihat cantik dan anggun dengan make up natural.


Sejak tadi jantungnya berdebar menunggu acara sakral yang sebentar lagi akan berlangsung.


Ceklek


Disya menoleh kearah pintu, dan disana ada Vivi dan Dina yang baru saja masuk.


"Ya Tuhan Sya. Kamu cantik bingits." Vivi begitu kagum melihat sahabatnya yang begitu cantik.


"Sumpah, ini mah Disya kw nya Anisa Pohan." Ucap Dina sambil tertawa.


"Kamu pikir calon suaminya Disya AHY." Sabar Vivi pedas yang tidak suka dengan ledekan Disya.


"Ya kan cuma mirip loh, lagian calon suaminya kan AMA." Dina menaik turunkan alisnya menggoda Disya.


"Adam Malik Adhitama." Ketiganya berseru bersama dan setelahnya tertawa.


Rasa gugup Disya sedikit berkurang lantaran dua sahabatnya yang datang untuk menghibur.


"Sumpah Sya, kamu cantik banget. Pasti bos datar itu semakin tak berkedip di buatmu." Dina menatap Disya lewat pantulan cermin didepan Disya.


"Kamu bisa ada Din, bulan depan pasti kamu juga tidak kalah cantik." Balas Disya sambil tersenyum.


"Ihh, tapi kamu beneran cantik tau." Dina masih memuji kecantikan Disya.


Vivi juga mengatakan hal yang sama, "Aku pikir yang mau soul out duluan di Dina, taunya kamu duluan Sya." Ucap Vivi yang duduk ditepi ranjang dekat Disya duduk.


"Iya loh, apalagi si Jino itu tidak sabaran menunggu tahun depan." Keluh Dina yang masih ingin menikmati masa sendirinya, tapi tunangannya malah mengajaknya menikah bulan depan.


"Itu sih si Jino nya aja yang ngak mau menunggu lama nyicipin belah duren." Ledek Vivi pada Dina.


"Emangnya Disya, belah dulu baru unduh duren."


"Sialan kamu Din." Disya mengumpat membuat keduanya tertawa.


"Setelah ini kita panggil dia Ibu Presdir." Ledek Dina lagi.


"Ibu Disya Adhitama."


Hahahaha


keduanya kembali tertawa, tapi tidak dengan Disya yang kesal karena menyebut nama marga suaminya.


"Awas aja kalau kalian kerja macem-macem, aku akan memberi perhitungan dengan kalian." Ucap Disya dengan suara pura-pura mengancam.


"Uuhhh takut." Mereka malah tertawa, kedatangan sabatnya membuat Disya melupakan rasa gugupnya, Disya masih tertawa lantaran dua sahabatnya tidak berhenti saling mengolok, hingga terdengar ketukan pintu yang membuat ketiganya berhenti.


"Sya, sudah ditunggu yuk." Diana masuk sambil tersenyum menatap putrinya. "Putri Mama cantik sekali." Wajah Diana berubah sendu.


Disya hanya tersenyum. "Siapa dulu Mamanya." Ucapnya yang mencoba untuk tidak terharu, karena melihat kesedihan di kedua mata Diana membuat perasaan Disya juga merasa sedih.


Mereka malah tertawa. "Adam dan kelurganya sudah datang, ayo acara akan segera dimulai." Diana mengusap sedikit matanya menggunakan tisu. Disya hanya tersenyum dan mengusap tangan ibunya.


Kedua sahabatnya mengapit Disya saat berjalan menuruni tangga.


Semua mata melihat ke arah pengantin wanita yang menuruni tangga, Ayana tersenyum lebar saat melihat calon menantunya, yang beberapa menit lagi akan menjadi menantunya.


"Mah coba lihat kak Adam, sepertinya matanya terkena lem, tidak bisa berkedip." Ucap Hawa yang duduk disamping Ayana.


"Kamu ada-ada aja, kamu tidak tahu saja kalau kakak mu yang kaku kayak kanebo kering itu sudah bisa ditekuk karena wanita itu." Balas Sena sambil melirik Disya yang sudah duduk di depannya, tepatnya di samping Adam.


"Awa pikir kak Adam akan menjadi bujang lapuk, tapi ternyata malah-"


"Ssttt, jangan bilang kamu mau bilang kakak mu itu mesum." Bisik Ayana malah ngerumpi dengan putrinya yang kini usianya sama dengan Adam.


Hawa cekikikan. "Kalau tidak mesum, tidak mungkin Mama akan mendapat cucu lebih dulu."


Keduanya malah asik membicarakan Adam yang kaku ternyata memiliki sifat mesum yang bisa membuat mereka tidak percaya. Adam yang sebelumnya terkenal anti wanita, kini malah mendadak menikah.


"Bukan hanya kakak mu saja yang mesum, lihat suamimu itu."


Hawa melirik Mario yang sedang memangku putri kecilnya yang berusia 2 tahun. Sedangkan 2 putra lembarannya yang berusia 10 tahun asik mengobrol dengan Daniel yang menjadi pemain sepak bola internasional.


"Ck, itu sih dia yang kebelet pengen punya anak cewek." Ucap Hawa yang mengingat usia Mario sekarang 34 tahun dan Masih menimang balita 2 tahun.


Ayana hanya tersenyum. "Kamu bahagia sayang?" Tanya Ayana pada putrinya yang sejak menikah diboyong oleh Mario ke Swiss.


"Hm, Awa bahagia Mah. Mario tidak pernah menyakiti Hawa." Hawa berkata jujur, Mario memang tidak pernah menyakitinya, dan mungkin dirinya yang malah terlalu banyak menuntut pada suaminya.


"Syukur kalau kamu bahagia, karena Mama dan papa akan bahagia jika kalian anak-anak Mama bahagia." Ayana mengusap pipi Hawa yang bersandar di bahunya.


"Iya Mah, Hawa beruntung memiliki Daddy anak-anak." Hawa tersenyum tipis.


"Kamu cantik Mama." Bisik Adam saat Disya baru saja duduk disebelahnya.


Disya hanya melirik sekilas. "Papa Dedek juga ganteng." Balasnya dengan nada centil.


Adam tak kuasa menahan senyumnya mendengar ucapan Disya.


Waktunya acara dimulai, Adam mulai menjabat tangan Frans yang akan menjadi wali nikah dari Disya.


Semua tampak hening mendengar kalimat yang Adam lontarkan, hingga kata 'Sah' menggema di ruangan itu.


Adam mengusap wajahnya dengan perasaan lega, sedangkan Disya meneteskan air matanya saat kata 'Sah' terdengar ditelinganya.


Tidak menyangka perjalanan cintanya seperti ini, berawal dari kesalahan semalam, membuat mereka akhirnya memiliki ikatan yang sakral, keduanya akan mengarungi rumah tangga yang tentunya tidak akan mudah. Karena tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus tanpa adanya batu sandungan di depannya, dan mampukah keduanya melewati batu sandungan itu.


.


.


Butuh kopi 🥱🥱🥱