
Kebahagiaan dalam rumah tangga adalah yang di cari, tidak ada yang bisa melakukannya jika bukan pasangan itu sendiri.
Kesalahan pertama kali yang di lakukan mengantarkan mereka kesebuah hubungan yang tidak ada dalam bayangan siapapun, karena jodoh adalah rahasia Tuhan.
menikmati kehamilan yang semakin membesar Disya memilih menuruti ucapan suaminya untuk cuti setelah kandungannya berusia tujuh bulan. Kerena hamil kembar perut besar Disya tidak seperti umumnya, dan itu cukup membuatnya kesulitan bergerak.
Sedangkan Nathan sudah membawa Disya pulang ke rumah kedua orang tuanya, mengingat kehamilan Disya yang semakin besar, dan jika tinggal di apartemen Adam takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya dan tidak ada siapapun di apartemen.
"Sayang kamu ikut Mama?" Ayana baru saja keluar dari kamarnya, Nathan megekori istrinya dari belakang. Semakin tua keposesipan Nathan semakin bertambah, dan Ayana yang menjadi tersangka tidak masalah karena itu memang sifat Nathan sejak dulu.
"Kemana Mah." Disya yang duduk didepan TV menoleh.
"Mau belanja kebutuhan Twins, Mama sudah tidak sabar." Ucap Ayana dengan senang.
Disya berdiri. "Boleh Mah, tapi apa Adam menginjinkan?" Tanya Disya mengingat Adam yang semakin overprotektif padanya.
"Kalau kamu capek bisa istirahat, tidak usah dipaksakan. Bila perlu kamu duduk di kursi roda." Ucap Ayana yang mendapatkan ide.
Disya tersenyum lebar. "Ide Mama bagus juga."
"Kalian ini suka sekali bikin ribet, tinggal belanja online kan langsung dikirim." Protes Nathan yang sepertinya keberatan jika harus mengikuti Istrinya keliling mall.
Ayana melirik suaminya sinis. "By, kalau sudah tidak sanggup jalan mending kamu di rumah aja. Aku takut nanti malam kamu hanya membuatku tidak bisa tidur." Kata-kata Ayana membuat Nathan tidak bisa lagi berkata.
Tapi dirinya yang ingin selalu dekat dengan sang Istri tidak membuatnya keberatan, entahlah Nathan hanya takut jika dirinya berjauhan dengan sang Istri.
"Papa juga bisa pakai kursi roda." Ucapan Disya sontak membuat Ayana tertawa.
"Ya, kalian lebih baik sama-sama pakai kursi roda." Ucap Ayana sambil tertawa.
Nathan mendengus, sejak dulu Istrinya tidak pernah berubah, selalu meledeknya.
Di kantor Adam meyelesaikan rapat pagi ini, dan siangnya ada pertemuan dengan klien. Arfin suka sekali membuatnya sibuk akhir-akhir ini karena pria itu harus mengurus resort milik keluarganya juga.
Selain itu Adam harus siap untuk memiliki asisten baru, mengingat Arfin juga memiliki tanggung jawab besar di resort keluarganya.
"Dam, lu seleksi dulu ini data yang menurut gue cocok." Arfin menyerahkan berkas pada Adam.
"Ck, sebenarnya gue malas ganti asisten, tapi gue juga kesal harus diteror terus sama bokap lu." Kesal Adam sambil meraih berkas yang Arfin beri.
Arfin tertawa. "Gue masih bisa bantu lu, jika lu butuhin gue. Sebelum benar-benar resign gue bakalan didik asisten baru itu."
Adam hanya bisa menghela napas, sejak remaja keduanya berjalan di jalan yang sama, dan sekarang waktunya keduanya meniti kehidupan yang baru.
Arfin sebagai anak tertua tidak mungkin lepas tanggung jawabnya, dirinya sudah cukup berkelana di luar dan kini harus kembali ke tempat aslinya, meneruskan bisnis papanya di bidang resort dan perhotelan.
Karena sejak menikah papanya juga mengundurkan diri menjadi asisten papa Nathan, tapi bedanya sekarang Arfin sudah harus menggantikan papanya yang juga sudah semakin tua.
Biarlah mereka menikmati masa tuanya tanpa harus memikirkan duniawi.
"Lalu kapan kau akan menikah, ayolah Fin umur kita hanya selisih 1 angka." Ucap Adam yang sudah dalam mood sahabat.
Arfin berdecak. "Umur bukan menjadi patokan Dam, gue masih ingin seperti ini." Tutur Arfin tapi dengan pikiran berkelana.
Akhir-akhir ini Arfin merasa ada yang aneh dalam dirinya, terutama dirinya yang menjadi tidak suka mandi setelah pulang kerja. Padahal Arfin adalah tipe pria suka kebersihan dan dirinya juga merasa bingung.
"Kalau udah ngerasain punya bini, gue yakin lu bakalan nyesel." Ledek Adam.
Arfin hanya mendengus kesal, dan berlalu meninggalkan Adam yang tertawa dan terdengar menyebalkan di telinganya.
"Mah pilih warnanya yang netral aja Mah." Ucap Disya saat Ayana ingin mengambil barang-barang berwarna pink dan Ungu.
"Memangnya kenapa sayang, ini bagus dan lucu bikin gemes." Ayana menunjukan dua sepatu dengan warna yang berbeda.
"Kita belum tahu jenis kelamin Twins mah, enaknya pilih yang netral aja." Kata Disya sambil menunjukan sepatu yang sama dengan warna yang berbeda.
"Ck, lagian kenapa sih kalian tidak mau melihat jenis kelamin mereka. Kan kalau tahu belanjanya enak." Keluh Ayana yang menaruh kembali sepatu yang dia pegang tadi.
Disya hanya tersenyum, memang kemauan Adam dan dirinya untuk tidak melihat jenis kelamin bayi mereka, karena mereka ingin memberikan kejutan untuk para orang tua, meskipun mereka sendiri juga penasaran.
"Mah, aku duduk di sana dulu yah." Disya menujuk kursi tunggu yang ada di pinggir kaca toko.
"Iya sayang, kamu pasti capek." Ayana mengusap lengan Disya. "Itu papa mu juga sudah selesai, Mama di temani papa saja." Nathan berjalan menuju kearah mereka setelah tadi tidak sengaja bertemu dengan rekannya.
"Iya mah.." Disya berjalan menuju kursi tunggu, kakinya sudah terasa pegal, dan sejak tadi berdiri dan jalan-jalan.
"Uhhh akhirnya.." Disya menyadarkan punggungnya dia sandaran kursi, terasa pegal membuatnya merasa nyaman jika seperti ini.
Saat melihat kesamping dirinya melihat dua orang yang begitu dia kenal, tapi Disya masih menajamkan penglihatannya takut salah orang.
"Mas Dino, Tika..!!" Panggilnya saat kedua orang itu ingin keluar toko.
Dino dan istrinya pun menoleh, dan mereka saling pandang melihat Disya yang duduk sambil melambaikan tangan.
"Kita kesana sayang?" Tanya Dino meminta persetujuan istri.
"Iya Mas, itu mbak Disya." Rantika tersenyum senang melihat istri pemilik perusahaan tempat dulu dirinya bekerja.
Dino hanya mengangguk, dia pikir Rantika akan merasa canggung atau kurang nyaman jika bertemu Disya, mengingat dirinya dulu pernah menjalin hubungan dengan Disya.
"Mbak Disya.." Rantika dan Disya langsung berpelukan, lebih tepatnya Disya menerima pelukan Rantika karena dirinya terlalu lelah untuk berdiri kembali.
"Tika apa kabar?" Disya menatap mantan sekretaris di kantor suaminya dengan senyum.
"Baik mbak, mbak sendiri apa kabar?" tanya Rantika balik.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." keduanya tertawa.
Dino hanya memperhatikan kedua wanita yang sedang berbadan dua, wanita yang sama-sama dia sayangi tapi memiliki tempat yang berbeda di hatinya.
"Mas Dino, kenapa kalian bisa-" Disya menghentikan ucapnya saat melihat Rantika yang tidak sengaja menyentuh perutnya. "Tika kamu hamil? jadi benar kalian-" Tanya Disya dengan bingung.
"Iya Sya, kami sudah menikah." Jawab Dino.
Rantika hanya tersenyum, sedangkan Disya syok mendengarnya.
"Sayang..."
Tiba-tiba suara yang begitu familiar menyapa pendengaran mereka.
.
.
Adam kenapa kau tiba-tiba muncul 🤣