ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Cinta yang terbalas



Adam mengembangkan senyum. "katakan sekali lagi." Ucapnya sambil menindih tubuh Disya dibawahnya.


"Em, tidak ada kata ulang." Jawab Disya dengan jantung yang berdebar.


"Ck, ayolah. Aku ingin mendengar lagi." rengek Adam seperti anak kecil yang malah membuat Disya tertawa geli.


"Kok malah ketawa." Ucap Adam kesal karena Disya malah tertawa bukanya menjawab.


"Hem, kamu lucu." Tangan Disya menangkup wajah Adam yang terlihat kesal.


Keduanya beradu pandang dengan Disya yang tersenyum.


"Aku mencintaimu, papa dari anak ku."


Seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan didalam perut, Adam begitu bahagia mendengar perkataan Disya yang mencintainya.


"Kenapa malah tersenyum, apa kamu tidak mau membalas cintaku?" tanya Disya dengan wajah menyelidik.


Adam malah mendaratkan kecupan di bibir Disya dan melumattnya begitu lembut, mencecap manisnya bibir Disya sejak pertama kali Adam merasakanya.


"Engh." Tautan bibir keduanya terlepas, Adam mengusap wajah Disya dengan lembut, mata abu-abunya menyorot kedalam bola mata Disya yang berwarna cokelat.


"Sejak pertama kali aku menjamah tubuhmu, maka disaat itulah aku menjadi milikmu, begitu juga sebaliknya, dan kini Tuhan benar-benar mengabulkan apa yang aku inginkan, menyatukan kita dengan adanya malaikat ini." Tatapannya masih tertuju pada Disya, tapi tangan Adam mengusap lembut perut Disya yang masih sangat rata.


"Jadi apa kamu masih butuh kata cinta dariku?" Tanya Adam yang langsung di tanggapi anggukan kepala dari Disya.


Adam terkekeh, "Memang wanita itu tidak cukup hanya dengan perbuatan, tapi dengan kaca cinta mereka justru senang sekali." Ucap Adam tidak habis pikir.


"kerena wanita juga butuh kepastian, bukan hanya ucapan belaka." Balas Disya. "Ck, katakan kamu mencintaiku atau tidak." ketus Disya yang tidak sabar dengan kata cinta dari Adam.


"Ya, aku mencintaimu Disya. Sejak pertama bercinta denganmu di London."


Bugh


"Kau pria mesum menyebalkan." kesal Disya yang mendengar ucapan Adam.


"Kenapa di pukul, aku berkata jujur." Adam membela dirinya.


"Tapi tidak dengan bercinta, apa kau jangan-jangan mencintaiku karena hanya ingin bercinta denganku saja, hah!" Disya menatap Adam tajam. Rasa kesalnya tiba-tiba muncul mendengar ucapan Adam.


"Pikiranmu itu yang mesum." Ucap Adam sambil beranjak duduk.


"Eh mau apa kau?" Disya waspada saat Adam membuka kaos yang dia pakai.


"Memangnya kenapa? bukankah kau yang mengantikan pakaian ku? lalu kenapa kau malu dan ketakutan begitu, Hem." Adam tersenyum meryeringai melihat wajah Disya yang tiba-tiba merona.


"Apa baby ingin di jenguk."


Bugh


"Kau menyebalkan Adam, aku menyesal mencintaimu pria seperti dirimu." Kesal Disya yang melempar bantal kearah Adam.


"Adam..!!"


.


.


.


Arfin baru saja pulang kantor setelah seharian dibuat stres oleh Adam karena harus bertemu dengan klien dari London Mr.Chaiton.


"Arfin dari mana kamu baru pulang."


Arfin menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara ibu suri yang begitu membuatnya mengehela napas.


"Bertemu klien Mah." Ucap Arfin yang kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Ehh, tunggu dulu." wanita yang disebut ibu suri itu menghampiri Arfin dan menatap Arfin dengan seksama. "Kamu habis dari club?"


Arfin mengusap wajahnya kasar. "Mah Arfin bertemu klien di club, Adam sedang berada di luar kota dan aku yang menggantikannya." Jawab Arfin sedikit tinggi karena pengaruh alkohol yang dia minum.


"Arfin kamu bentak Mama." Wanita itu menatap Arfin tajam.


"Kenapa kalian ribut-ribut tengah malam begini?" Seseorang berjalan menuruni tangga, dan melihat anak berserta istrinya yang sedang berdebat.


"Arfin kak, dia mabuk." Jawab Olive dengan nada kesal.


"Arfin kamu kenapa pulang larut seperti ini?" tanya Ando menatap putranya dengan intens.


"Kerja Pah, kalau tidak percaya tanya sama Om Nathan." kesal Arfin yang berlaku menaiki tangga dengan berlari kecil.


"lihat tu anak kamu, kelakuannya sama seperti kamu. Jangan-jangan Arfin juga suka menyebrangi lembah dan mendaki gunung." Ucap Olive menatap Ando dengan sebal.


"Loh kok kamu nyalahin aku? dia anak kamu juga." Jawab Ando yang tidak ingin disalahkan sepihak.


"Tapi kelakuan dia menurun dari kamu. Suka ke club dan minum-minuman."


Ando mengusap wajahnya kasar. "Biarkan saja mah, Arfin sudah besar. Dia bisa menentukan yang baik dan tidaknya."


"Bela saja terus, malam ini kamu tidur diluar!" Olive meninggalkan Ando begitu saja dan pergi masuk kedalam kamar dan menguncinya.


"Ya Tuhan, Olive!" Ando mengejar Olive dan mencoba untuk merayu agar di bukakan pintu.


.


.


Arfiano\= Titisan sendal jepit 🤣🤣🤣🤣