ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Perkara penampilan



Kehidupan memang tidak semulus yang kita harapkan, sering terjadi perselihan dan konflik itu hal biasa. Hanya saja semua tergantung kita yang menjalani dan bagaimana menyelesaikan sebuah perselisihan agar tidak semakin melebar.


Sama seperti sebuah hubungan rumah tangga yang banyak orang lihat begitu mudah dan enak. Ada kalanya kita hanya mengumbar ataupun memposting sebuah kehidupan kita yang layak untuk di lihat publik.


Tapi tidak dengan perselihan dan saat bertengkar kita perlihatkan di publik. Itu hanya akan membuat orang yang tidak suka semakin bersorak gembira.


Adam membawa Disya pulang ke apartemen, karena mereka ingin menghabiskan waktu berdua untuk lebih saling mengenal.


Meskipun sudah menyiapkan rumah, tapi Adam belum mau membawa Disya untuk tinggal di sana, nanti jika anaknya sudah lahir Adam akan memboyong kelurga kecilnya kerumah baru yang sudah dia siapkan.


"Air hangat sudah aku siapkan kamu tidak mau mandi?" Disya menghampiri Adam yang duduk disofa sambil menatap layar laptop didepanya.


Pria itu masih berkutat dengan pekerjaan yang di bawa pulang.


"Mas.."


Sontak Adam menoleh ketika Disya memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.


"Mas apa?" tanya Adam dengan alis satu terangkat.


"Mas Adam." Jawab Disya terseyum.


"No, aku tidak mau." Tolak Adam tegas.


Disya menautkan kedua alisnya. "Kenapa?"


Adam berdecak. "Aku tidak mau kau samakan dengan Dinosaurus. Itu apaan, Mas? Ogah." Adam kembali pada kesibukannya.


Disya mencebik. "Lalu aku panggil apa? masak Odam Adam Odam Adam." Ucap Disya bibirnya bergerak menye-menye. "Tar di kira aku Istri kurang ajar." Gerutu Disya.


Adam yang mendengar mengulum senyum, tapi pria datar itu masih cuek tidak menanggapi ucapan Disya.


"Ck, tidak mau ya sudah. Aku panggil Kang mas saja."


"Heh, kamu pikir aku keturunan darah biru." Adam menoyor kening Disya, membuat Disya terhuyung kebelakang badannya.


"Ck, mbuh lah kamu nyebelin." Disya hendak meninggalkan Adam.


Tapi tangannya langsung di tarik Adam membuat Disya langsung jatuh dipangkuan Adam dengan duduk membelakangi Adam.


Adam memeluk perut Disya dari belakang. "Gitu aja ngambek, panggil nya yang mesra geh, yang keren dikit. Masa panggil Mas sama wajah aku yang bule ini." Adam tersenyum menyeringai saat melihat wajah Disya yang cemberut, dengan bibir mengerucut tajam.


Disya memberengut sambil melepaskan tangan Adam dari perutnya, tapi Adam tidak melepaskannya.


"Auk ah, aku panggil kamu nama saja." Kesal Disya karena Adam mulai berulah.


"Panggil sayang saja, aku menyukainya." Bisik Adam di telinga Disya.


Bulu kuduk Disya meremang saat Adam berbisik ditelinganya. "Ya sudah sana mandi, aku lapar." Disya kembali mencoba melepaskan rengkuhan Adam.


Adam langsung melepaskan tangannya, saat mendengar kata lapar dari Disya. Dan Disya langsung berdiri saat ada kesempatan untuk kabur.


"Pesan saja makanan, aku mandi sebentar." Adam langsung melesat pergi masuk kedalam kamar mandi.


Pria itu tidak akan menunggu lama jika tentang urusan perut lapar mengingat ada sang buah hati yang butuh asupan gizi.


Disya tersenyum melihat tingkah Adam. Dari pada memesan makanan Disya memilih menunggu Adam selesai mandi.


Setelah lima belas menit, Adam keluar dari kamar mandi dan melihat Disya yang duduk disamping ranjang.


"Mau kemana?" Tanya Adam yang melihat Disya memakai sweater.


"Mau makan diluar, aku pengen makan yang dijual dipinggir jalan." Jawab Disya dengan bibir mengembang, membayangkan makanan yang begitu menggugah selera.


"Makanan apa?" Adam memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Disya di atas ranjang.


"Aku tidak tahu, tapi aku ingin pergi ke alun-alun yang banyak menjual makanan." Tutur Disya lagi.


Adam menyisir rambutnya didepan cermin, pria itu menyempurnakan penampilannya dengan di tambah parfum khas maskulin miliknya.


"Kenapa kamu begitu-"


"Tampan dan mempesona?" Potong Adam lebih dulu, dengan pede nya.


"Begitu repot-repot berdandan, aku saja tidak berlebihan seperti kamu." Ucap Disya ketus.


Penampilan santai Adam, justru semakin membuat adam mempesona, dan Disya merasa was-was membawa Adam ketempat yang mungkin saja banyak uler gatel yang ingin menempel.


"Aku memang seperti ini, tidak berlebihan." Tutur Adam yang memang apa adanya. "Lagian kalau aku tampan, kamu juga yang senang. Memiliki suami yang tampan." Adam tersenyum menggoda Disya.


"Pede tingkat dewa." Kesal Disya dengan berjalan keluar lebih dulu.


Adam hanya geleng kepala. "Mengakui saja kok gengsi."