ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Adam yang mulai memahami



Dikediaman Adhitama suasana begitu ramai dengan adanya ketiga cucunya. Nathan seperti kembali muda saat menggendong dan bermain bersama Elga.


Elga Maurer adalah nama anak ke 3 Hawa dan Mario, umurnya baru saja menginjak 2tahun dua Minggu lalu.


Dan si Twins yang berjenis laki-laki bernama Enrico Maurer dan Enzio Maurer. Mereka berusia 10 tahun, dan sedang asik menemani sang Oma yang ada di dapur membuat kue.


"Kalian kalau mau pergi, pergilah. Biar papa yang menjaga Elga." Ucap Nathan pada Hawa yang duduk di sofa ikut bermain dengan sang putri yang terlihat senang bermain dengan Opa Nathan.


Mario yang baru turun dari atas tangga langsung ikut duduk di samping Hawa, mereka duduk di alas karpet halus.


"Mario ajak Hawa keluar, papa tau kalian butuh waktu berduaan." Nathan melirik Mario yang menatapnya. "Sebelum papa berubah pikiran, kalau tidak-"


"Eh, iya pah. Aku bawa Hawa jalan-jalan." Mario langsung menyambar ucapan Nathan sebelum berubah pikiran.


"By, mau kemana? kasihan Elga." Hawa menatap Mario bergantian dengan putrinya.


"Elga biar sama Mama dan papa, ada nany juga. Kalian boleh pergi tidak pulang juga tidak apa-apa." Ayana menaruh nampan berisikan cemilan yang dia buat tadi.


"Tapi Mah, aku tidak biasa meninggalkan Elga dengan waktu yang lama." Hawa tampak keberatan dengan usulan sang Mama.


Mario hanya diam mendengarkan, Hawa memang tidak pernah meninggalkan Elga dengan waktu yang lama, meninggalkan Elga juga saat tertentu dalam kepentingan. Mekipun ada pengasuh pribadi Elga tapi peran seorang ibu Hawa tidak lepas.


"Mommy mau kemana?" Tanya Enzio yang mendengar percakapan mereka.


"Mommy-"


"Twins nanti ikut Oma ke yayasan yah, disana banyak teman nanti kalian bisa bermain." Potong Ayana lebih dulu.


"Mau Oma Zio mau!" Anak laki-laki itu bersorak senang.


"Enric tidak mau ikut?" tanya Nathan yang melihat cucu satunya hanya diam dan fokus dengan cemilan di tangan.


"How could En not come, if only Zio did."


Nathan hanya terkekeh mendengar jawaban cucunya yang memang sedikit irit bicara. Berbeda dengan Enzio yang memilki sifat ceria.


Meskipun tinggal dan lahir di Swiss ketiganya bisa mengunakan bahasa Indonesia, selain bahasa asing tempat tinggal mereka, twins juga pintar berbahasa Inggris.


"Yaa...ya.. Opa paham."


Mereka terseyum mendengar ucapan Enrico. Sifat Enrico seperti Mario saat kecil irit bicara dan tidak mudah dekat dengan orang baru, tapi laki-laki yang masih bocah dan di panggil kakak tertua itu begitu penyayang.


"Kita mau kemana?" tanya Hawa yang sudah duduk di dalam mobil samping Mario duduk mengemudi.


"Bulan madu ke 3." Jawaban Mario membuat Hawa mendengus kesal, wanita itu sudah bisa merajuk pada suaminya.


"Oke, aku mau satu adik lagi untuk Elga." Ucap Hawa dengan bibir tersenyum lebar.


"Jangankan satu, 5 lagi aku juga mampu sayang."


Bugh


Mario tertawa melihat wajah Hawa yang merajuk, apalagi lenganya sampai di pukul karena kesal. Wajah Hawa yang kesal selalu bisa membuatnya tertawa.


"Ihh, kamu nyebelin By." Kesalnya lagi dengan memanyunkan bibir.


"Tapi cinta kan." Balas Mario sambil mengusap kepala Hawa dan menariknya hingga Hawa bersandar di bahunya.


"He'um, Cinta, Cinta banget malah."


Mario tersenyum dan mencium kening Hawa. "Hem, aku tahu."


.


.


.


Disya sudah menghabiskan 2 bungkus cemilan yang dia makan, itu berarti dirinya cukup lama duduk disofa. Tapi tidak ada tanda-tanda Adam yang kembali sudah satu jam lebih Adam pergi.


"Kemana sih, bikin kesel deh." Disya berdiri untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Dan disana Disya melihat chat serta panggilan tidak terjawab dari nomor Adam.


"Aku sebentar lagi pulang, kamu mau dibawakan apa?" Pesan yang Adam kirim 15 menit yang lalu.


"Ck, mana mungkin dia mau belikan kalau aku balas sekarang." Gumamnya sambil berpikir mungkin saja Adam sudah akan sampai di apartemen.


Disya mencoba untuk membalas pesan yang Adam kirim. "Aku pengen makan ramen yang ada di dekat kampus ku, disana ada ramen enak langganan ku."


Disya menekan tombol kirim, dan masih centang dua belum di baca.


Setelah beberapa menit tidak dibaca Disya menghela napas dan kembali menaruh ponselnya dengan perasaan sedikit kesal.


"Mana mungkin Adam mau beli jajanan di pinggir jalan." Ucapnya lagi yang memilih menonton TV.


Ting


Keluar dari lift ponsel yang ada di genggamannya berbunyi, Adam yang melihat pesan dari Disya menghela napas. Tidak sempat membuka karena pesan Disya tersemat paling atas, dan Adam sudah tahu apa yang wanitanya inginkan.


Menatap pintu hotelnya yang hanya tinggal beberapa langkah lagi, Adam rela balik badan dan masuk ke dalam lift untuk menuruti permintaan Disya.


Flashback


Saat mengobrol dengan Arfin, tidak sengaja Adam dihampiri salah satu temannya saat sekolah.


Dan kebetulan temanya itu membawa Istrinya yang sedang hamil.


"Kamu tahu Dam, Wanita hamil itu butuh kepekaan kita, kita harus tau bagaimana membuat suasana hati wanita kita agar tetap senang, dengan begitu kebutuhan kita sebagai laki-laki juga terpenuhi." Teman Adam tertawa setelah mengatakannya.


"Dasar kau..!" Adam ikut tertawa mendengar ucapan rekannya yang memang benar, Disya juga seperti itu, jika keadaan hatinya sedang baik wanita itu menjadi manja.


"Tapi bukan hanya itu, kita harus menjadi suami siaga untuk istri kita yang lagi hamil, dan permintaan ibu hamil tidak bisa diganggu gugat, kalau ingin hidup kita sejahtera, yang namanya ngidam kalau tidak dituruti akan menjadi bumerang untuk kita dan berdampak pada calon anak kita seperti-?"


"Seperti apa?" Tanya Adam yang penasaran, dirinya ingat tadi malam Disya ingin meminta sesuatu tapi Adam menolaknya lebih dulu sebelum Disya bicara.


"Kalau ngidam tidak dituruti anak kita bisa negeces, itu sih yang aku tahu. Dan aku ngak mau dong anak aku ngences gara-gara bini pengen makan seblak tidak dituruti.


Flashback Off


Dari pertemuan dengan rekanya tadi Adam menjadi mengerti kenapa ibu hamil suka minta yang aneh-aneh dan mendadak. Dan Adam ingat pertama kali Disya menginginkan sesuatu tengah malam tadi.


.


.


"Kita ke puncak?" Hawa menatap bangunan yang 11 tahun lalu dirinya pernah datang ke sini.


"Ya, kamu masih ingat vila ini?" Mario menghentikan mobilnya didepan gerbang Vila kelurga papa angkatnya.


"Hem, aku mengingat semua."


"Den Mario?" Penjaga vila atau lebih dikenal dengan mang Jajang membuka pintu gerbang dan terkejut melihat anak pertama majikanya datang.


"Sore mang, saya boleh masuk?" Tanya Mario yang masih duduk di kursi kemudi dan hanya bicara lewat kaca mobil yang terbuka.


"Boleh den, memangnya kenapa kalau tidak boleh." Mang Jajang tertawa, dan membuka pintu gerbang lebar agar mobil yang dikendarai Mario bisa masuk.


Terima kasih mang?" Mario tersenyum, dan kembali melajukan mobilnya sampai di depan Vila.


"Kenapa tidak memberi kabar si Aden dan neng Hawa mau kesini, kan mamang bisa suruh si mbok buat nyiapin keperluan Aden dan neng?" Mang Jajang langsung bicara saat Mario dan Hawa sudah turun dari mobil.


"Kami tidak berniat datang kemari mang, kebetulan sedang berlibur jadi saya pengen ke vila." Tutur Mario.


"Ya sudah den Mario dan neng Hawa pasti capek. Masuk saja kalau kamar insyaallah mbok Inem selalu bersihkan, biar mamang bilang mbok inem untuk buatkan makanan."


"Terima kasih mang." Mario dan Hawa masuk kedalam vila yang sudah lama tidak mereka kunjungi, terakhir mereka datang saat dimana Mike yang harus kehilangan Hawa.


Hawa Tersenyum sendiri mengingat bagaimana dirinya datang ke vila dan tidur di kamar siapa? padahal dirinya datang hanya untuk ikut dengan Mike, tapi siapa sangka jika ternyata Mario juga mengikutinya.


"Kenapa senyum-senyum begitu hm." Mario merangkul bahu Hawa untuk masuk kedalam kamar yang pernah mereka tempati.


"Aku hanya ingat saat datang kemari, itu saja." Hawa berjalan ke arah kaca besar yang ada di kamar itu, di mana ada pintu menuju balkon dengan pemandangan kebun teh yang sangat luas.


Mario tersenyum menyeringai dan membuka kemeja yang dia kenakan, hingga dirinya bertelanjang dada.


"Ingat apa?" Mario memeluk istrinya dari belakang.


"Ingat bagaimana kamu mengurungku di kamar ini, dan saat itu adalah pertama kali kita tidur berdua di ranjang yang sama."


Mario semakin mengembangkan senyum, sambil mencium bahu Hawa.


"Kalau begitu ini kali kedua aku mengurung mu di sini." Mario membalikkan tubuh Hawa hingga keduanya berhadapan.


Tatapan penuh cinta keduanya begitu besar, hingga tidak ada yang menembus ruang hati keduanya oleh siapa pun, cinta pertama yang tumbuh di hati keduanya membuat ikatan cinta mereka semakin kuat, lika-liku kehidupan sudah mereka rasakan, dimana Mario yang menikahi remaja 16 tahun yang masih labil dan manja, hingga kini gadis labil itu menjelma menjadi wanita dewasa dan memiliki sisi keibuan yang sangat Mario kagumi.


"My love is only you, to death."


Hawa tersenyum, dirinya sudah sering mendengar ucapan Mario sejak dulu mereka bersama.


Mario mendekatkan wajahnya untuk meraup bibir ranum yang sejak 12 tahun lalu menggodanya, dimana gadis berseragam abu-abu yang begitu dia inginkan sudah tumbuh dewasa.


Mario menumpahkan kenangan itu lewat cumbuan yang mereka lakukan, sampai tangan Hawa melingkar di lehernya.


"Eumm." Hawa meleguh saat Mario semakin memperdalam cumbuannya dengan meremat pinggangnya erat, sadar akan dimana mereka, Mario membawa Hawa masuk kedalam tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Kisah kedekatan mereka berawal dari vila dimana Mario yang memasang cctv di kamar Livia, dan saat itu mungkin saja keberuntungan Mario sampai Mike melakukan percintaan dengan Livia disaat ada Hawa yang dia bawa. Dan saat itu Mario begitu bersyukur disatukan dengan cinta pertamanya sewaktu remaja.


.


.


ADA YANG RINDU DENGAN M&H????


.


COMINGSOON BULAN DEPAN 🤣🤣🤣