ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Bicara empat mata



Disya duduk di depan Dino yang sudah datang lebih dulu. Pria itu sudah menunggu Disya sejak 10 menit yang lalu.


Dino mengajak Disya kekafe yang tidak jauh dari kantor.


"Maaf mas, menunggu lama." Ucap Disya sambil menaruh tas yang dia bawa kursi sampingnya.


"Tidak apa, aku tahu kau pasti minta ijin suamimu lebih dulu." Dino tersenyum tipis, meskipun hatinya terasa perih.


Disya hanya tersenyum untuk menanggapi, karena ucapan Dino memang ada benarnya, bahkan Disya harus merayu Adam lebih dulu sebelum pergi. Karena bujuk dan rayu Disya pun akhirnya di ijinkan.


"Apa yang ingin Mas Dino bicarakan?" tanya Disya.


Tak lama pelayan datang membawa menu makanan yang sudah di pesan oleh Dino, dan Disya yang melihat stik setengah matang.


"Em, maaf mbak. Aku pesan spagheti saja." Ucap Disya sebelum pelayan itu pergi.


Dino menatap Disya Heran. "Memangnya kenapa Sya, bukankah kamu suka stik setengah matang?" tanya Dino.


"Iya Mas. Tapi aku sedang hamil, bukankan tidak boleh memakan daging setengah matang."


Deg


Hati Dino mencolos mendengar penuturan Disya barusan. "Hamil? kamu sedang hamil?" tanya Dino dengan suara lirih.


"Em." Disya mengaguk. "Jadi aku pesan makanan lain saja."


Dino sudah tidak bisa berkata lagi. Hatinya semakin sakit mendengar wanita yang dia cintai sudah hamil. Dino pikir masih ada kesempatan untuk mengembalikan Disya, tapi ternyata kenyataan yang dia dengar begitu membuatnya tidak bisa lagi berharap, dan harapan itu semakin sirna dari sebelumnya.


"Mas Dino mau bicara apa?" Tanya Disya lagi yang melihat Dino hanya diam dengan tatapan begitu sedih.


"Apa tidak ada kesempatan untukku lagi?" Dino menatap wajah Disya, tersirat rasa putus asa dikedua matanya.


"Maksud Mas Dino apa? kesempatan apa?" Disya memilih menatap kesembarang arah, dirinya tahu jika Dino begitu terluka setelah mendengar dirinya sedang hamil.


"Sya, aku mencintaimu." Dino menggenggam tangan Disya yang ada diatas meja.


Dan Disya dengan perlahan menarikannya lalu menggenggam tangan Dino.


"Mas, aku percaya jika Tuhan pasti mengahdirkan wanita baik untuk orang baik seperti Mas. Dan mungkin kita tidak bisa berjodoh dan Tuhan mempertemukan aku dengan Adam di London. Tapi aku percaya Mas Dino orang baik dan aku yakin jika Mas Dino menerima takdir yang sudah Tuhan gariskan dengan lapang dada, aku tidak ingin kebaikan Mas Dino hilang karena satu kesalahan yang akan membuat aku benci. Dan aku yakin Mas Dino tidak akan melakukan itu."


Hati Dino tersentil mendengar apa yang Disya katakan, rasa bersalah kini menyelimuti hatinya setelah apa yang dia lakukan. Wanita yang dia cintai sudah tidak bisa digapai lagi, dan rasanya Dino benar-benar akan menyerah.


"Jika aku melakukan kesalahan, apa kamu akan memaafkan ku?" Dino begitu terlihat sangat rapuh dengan kenyataan yang dia alami.


Cinta yang dia jaga selama bertahun-tahun kini harus benar-benar kandas, harapan yang dia bayangkan pun sirna tanpa sisa.


"Jika Mas Dino melakukan kesalahan yang menurut Mas Dino aku tidak bisa memaafkan maka, aku tidak akan memaafkan dan mungkin aku akan membenci mas Dino."


Glek


Dino menundukkan kepala, merutuki kebodohannya yang menuruti ego dan dendam yang dia lakukan.


Disya kembali menggenggam tangan Dino, membuat Dino mendongak menatap Disya yang tersenyum.


"Mas Dino akan selalu menjadi bagian penting untuk ku, karena kehadiran mas Dino yang baik membuatku merasakan kasih sayang dan merasa dilindungi. Aku seperti memiliki seorang kakak yang begitu menyayangiku. Dan aku tidak mau Mas Dino yang aku kenal begitu baik menjadi orang yang pendendam."


.


.


.


Disya kembali ke kantor bersama Dino, mereka berpisah ketika ingin memasuki ruangan masing-masing.


Disya menghela napas sebelum masuk kedalam ruanganya, berdoa semoga Dino bisa membuka hati dan pikirannya agar tidak melanjutkan balas dendamnya, sejujurnya Disya sangat merasa bersalah tapi semua itu Disya lakukan agar Adam tidak membawa masalah yang Dino lakukan ke jalur hukum. Disya cukup mengerti dengan keadaan Dino sampai melakukan hal itu, dan Disya tidak ingin dendam Dino berkelanjutan jika sampai Adam membawa Dino ke jalur hukum. Pasti orang tua Dino tidak terima dan akan kembali ada dendam setelahnya lagi.


Ceklek


Disya masuk kedalam ruanganya, dan disana Disya bisa melihat Adam yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Kamu tidak kembali ke kantor?" Tanya Disya berjalan mendekati Adam.


Belum sempat Disya semakin dekat, Adam sudah menarik tangannya.


"Eh, kenapa? mau apa?" Disya yang langsung ditarik tangannya menjadi bingung, dan harus mengikuti kaki Adam yang membawanya ke kamar mandi kecil didalam ruangan itu.


"Tangan kamu harus dicuci bersih, aku tidak mau bekas aroma Dinosaurus ada di sini." Adam menghidupkan kran air dan membasuh tangan Disya, bahkan Adam beberapa kali membersihkannya dengan sabun.


Disya hanya tersenyum melihat bagaimana adam begitu posesif. Bahkan dia sangat yakin jika tadi tangannya di sentuh oleh Dino.


"Memangnya kamu tahu kalau tanganku di sentuh dia?" Tanya Disya sambil menatap wajah Adam yang serius mengeringkan tangannya, bahkan Adam sampai menciumi tangannya untuk memastikan seperti tidak ada bau yang tertinggal.


"Tanpa aku melihat, aku bisa membayangkannya." Kesal Adam sambil menghela napas.


Disya tersenyum. "Ohh sosweet, jadi kalau aku sedang dalam bahaya kau juga merasakannya?"


Disya lebih dulu keluar dari kamar mandi kecil yang ada di ruanganya itu. Dan Adam mengikutinya dari belakang.


"Ku sebut namamu tiga kali dan kau langsung muncul." Ucap Disya.


"Hm, sekalian kau elus-elus lampu Aladin."


Hahahaha


Tawa Disya langsung pecah mendengar jawaban Adam yang begitu receh, Adam menatap Disya kesal.


Pria itu duduk di pinggiran meja kerja Disya dan menarik istrinya untuk dia peluk.


"Sejak tadi aku memikirkan apa yang kalian lakukan saat bertemu." Adam menyandarkan kepalanya di dada Disya yang berdiri diantara selah kakinya.


Disya hanya mengulum senyum mendengar ucapan suaminya yang terdengar begitu manja. "Apa kamu salah makan?" tanya Disya sambil menangkup wajah Adam untuk dia tatap.


Adam berdecak. "Memangnya kenapa? apa salah aku khawatir pada istriku sendiri." Kesal Adam yang merasa di tertawai Disya.


"Bukan itu, kenapa kamu menjadi manja. Tapi menyebalkan mu itu masih ada."


Adam melepaskan pelukan tangannya, dan Disya kembali menarik tangan Adam untuk memeluknya lagi.


Adam hanya menarik napas kasar. "Begini kalau kasih ijin ngak ikhlas." Disya mengusap kepala Adam lembut. "Aku tidak melakukan apapun di sana, memang dia memegang tanganku, tapi percayalah itu hanya sebuah untuk meyakinkan." Tutur Disya yang ingin bercerita, apa saja yang dia bicarakan saat bertemu Dino tadi.


Disya memang tidak memberi tahu pada Dino jika dirinya mengetahui apa dilakukan pria itu. Disya hanya ingin Dino sadar dan tidak di kuasai dendam.


Dan Disya berharap Dino akan berubah sebelum terlambat.


Keesokannya....


"Sayang ahh." Adam menatap wajah Disya yang sudah terlihat begitu sayu, dengan tubuh yang terus bergerak naik turun, peluh sudah membasahi keduanya tapi tidak membuat keduanya menyudahi kegiatan mereka.


Adam meringis sambil mendesis, merasakan kenikmatan yang Disya berikan pagi hari ini.


"Ough yes Sya, lebih cepat." Tangan Adam meraih buah kelembuta Disya yang bergerak seirama dengan hentakan tubuhnya yang naik turun.


"Ahh sshh.." Rancauan Disya semakin dalam ketika area sensitifnya semakin berkedut dengan Adam yang menyesap dan bermain di pucuk dadanya yang begitu menegang.


"Ahh sayang kamu begitu enak ah, aku menyukainya." Adam melihat pergerakan Disya yang naik turun, melihat bagaimana rudalnya yang dilahan habis masuk begitu dalam.


"Engh..akuhh arrghh.."


Adam menekan pinggang Disya saat wanitanya mencapai puncak, dan Adam yang merasakan ledakan Disya yang begitu hangat tak urung membuat rudalnya ikut meledak.


"Ough..uhhh shhh.." Tubuh Adam bergetar dengan kepala mendongak, seiring tubuh Disya yang ambruk memeluknya.


Adam selalu mencapai pelepasan dengan hebatnya setiap kali bercinta, sampai-sampai Disya terus merasakan semburan hangat dirahimnya sampai berkali-kali.


"Uuuh nikmat sekali sayang." Ucap Adam dengan napas memburu setelah merasa begitu lega.


Disya mengakat kepalanya menatap Adam dengan wajah sayu.


"Sudah lunas." Ucapnya dengan suara lirih.


Adam terkekeh. "Ya, untuk janjimu sudah lunas. tapi sebagai seorang istri kau harus melayani ku." Adam tersenyum melihat bibir Disya yang cemberut.


Ya, sebelum bertemu Dino, keduanya melakukan kesepakatan. Dimana Disya yang meminta ijin bertemu Dino dan Adam yang memberinya syrat, padahal jika Disya kekeh menolak syarat dari Adam, pria itu akan tetap memberi ijin pada wanitanya untuk bertemu Dino dan bicara empat mata.


Tapi karena Disya menyetujui syarat dari Adam, maka Disya harus melayaninya sebanyak 2 ronde. Jika saja Disya tidak hamil, pasti Adam akan menggempur Disya dari malam sampai pagi, mengingat Disya sedang hamil membuat Adam tidak mungkin meyakiti anak dan istrinya.


Grep


Adam langsung menggendong tubuh Disya seperti koala dengan rudalnya yang masih menancap, keduanya dalam keadaan polos dan Adam berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Disya hanya pasrah meskipun rasa geli dia rasakan ketika Adam berjalan, rasanya Adam tidak pernah lelah jika untuk bercinta, stamina pria itu begitu kuat.


Engh


Disya meleguh saat Adam mendudukkan dirinya di atas wastafel marmer kamar mandi. Tapi dengan jahitnya Adam menghentakkan milikinya membuat Disya meleguh.


"Ahh."


Adam tersenyum senang. "Mau ronde ke tiga?" Ucap Adam dengan tampang mesumnya.


Disya langsung melotot mendengar ucapan Adam.


"Aku lapar, apa kau tega membiarkan anak dan istrimu kelaparan!" ketus Disya yang kesal dengan tenaga Adam yang seperti kuda.


Jika saja dirinya tidak hamil, pasti dirinya akan senang hati melayaninya, mengingat ada jabang bayi, Disya tidak segila itu untuk menuruti napsu birahinya.


Adam mengecup kening Disya dan memundurkan tubuhnya, hingga membuat rudalnya terlepas dari sarang hangat milik Disya.


"Engh.."


Adam menunduk melihat rudalnya yang kembali setengah berdiri." Lihat, dia begitu antusias menyambut ronde ke tiga."


Bugh