
Disya yang sudah mondar-mandir menunggu Adam datang tapi tak juga kunjung datang, wanita itu melihat ponselnya yang terdapat notif pesan masuk berupa Vidio.
"Apaan si Vivi ini." Disya menunggu pesan Vidio yang masih berputar loading, hingga Vidio itu berputar sepenuhnya membuat Disya melotot tak percaya.
"Ngak sia-sia lu hamil anak bos kanebo Sya, lihat dia sampai rela dicium ibu-ibu hanya untuk sebuah ramen satu porsi." Pesan di bawah Vidio membuat Disya semakin tak percaya, Vivi mengirim pesan di tambah dengan emot tertawa.
Disya mengulang Vidio yang hanya berdurasi 45 detik itu, tapi dengan 45 detik Disya tahu bagaimana sang suami yang ternyata melakukan itu hanya untuk mendapatkan ramen yang dia mau yang kebetulan sudah habis.
Disya tersenyum dengan penuh haru, jika seperti ini dirinya percaya jika Adam benar-benar menyayangi dirinya dan juga calon bayinya, mekipun Adam belum mengatakan cinta setidaknya Disya bisa melihat perjuangan Adam sebagai suami yang siaga.
Apalagi melihat seorang Adam yang datar dan kaku, terlihat memelas di hadapan seorang ibu-ibu, mungkin jika Disya melihatnya secara langsung wanita itu semakin tidak percaya.
"Mungkin sekarang hanya rasa sayang, tapi aku yakin kamu hanya gengsi." Ucap Disya sambil tersenyum.
Dia memikirkan bagaimana reaksi Adam nanti setelah sampai hotel, dan Disya akan pura-pura tidak tahu.
Tak lama pintu hotel terbuka, Disya yang masih duduk disofa menonton tv beranjak berdiri.
"Kamu baru pulang?" tanya Disya yang memilih biasa saja.
"Hm, ini pesanan ramen kamu." Adam menyerahkan bungkusan ramen pada Disya.
"Kamu masih mendapatkan ramen di jam segini?" Disya merima yang Adam kasih. "Padahal biasanya jam segini sudah habis, tapi kamu masih mendapatkan nya." Lanjut Disya hanya ingin memancing Adam bercerita atau tidak.
"Mungkin sudah rezeki untuk ku, ya sudah kamu makan. Aku mandi dulu." Adam meninggalkan Disya yang sejak tadi menahan senyum, apalagi melihat wajah Adam yang sepertinya risih dengan sesuatu. Dan Disya menyadari jika ada bekas lipstik dipipi Adam mekipun sudah samar dan mungkin Adam yang sudah menghapusnya.
Disya segera membuka ramen yang dibeli Adam, wanita itu memakannya dengan lahap seperti tidak pernah makan saja. Porsi makan Disya pun bertambah dari biasanya semenjak hamil, dan Disya tidak perduli dengan porsi makanya. Yang terpenting dirinya dan bayinya tercukupi gizi dan nutrisi.
Tidak lama Adam keluar hanya dengan bertelanjang dada dan melilitkan handuk dipinggangnya.
Disya yang melihat Adam bertelanjang dada tidak sengaja malah tersedak.
Uhukk...uhukk..
"Ya ampun Disya..!" Adam memekik dan langsung menghampiri Disya yang tersedak dan memberikan minum. "Kenapa tidak pelan-pelan sih." Adam membantu mengusap punggung Disya.
Uhukk.. uhukk..
Disya mencoba menetralkan napasnya yang terasa sesak.
"Are you oke." Adam menatap wajah Disya yang merah dan berkaca-kaca membuatnya tidak tega.
"Emm sudah, uhuk.." Disya menolak Adam yang kembali memberinya minum, karena sudah merasa lebih baik. "Hah... terima kasih." Ucap Disya yang sudah menormalkan napasnya.
Adam hanya mengaguk dan mengusap bibir Disya bagian bawah yang terlihat kotor.
"Kenapa sampai bisa tersedak, tidak akan ada yang memintanya." Ucap Adam sambil menatap wajah Disya yang sedikit malu ditatap Adam begitu dekat. Meskipun bukan pertama kali, tapi tetap saja rasanya masih malu.
"Em, itu aku-" Disya bingung ingin jawab seperti apa, dirinya tidak mungkin bilang jika tersedak karena melihat Adam yang bertelanjang dada, terlihat begitu menggiurkan.
"Ck, kau terlalu lama berpikir." Adam hendak berdiri tapi tangganya di tahan Disya membuat Adam menoleh.
"Katakan, bagaimana kamu bisa mendapatkan ramen itu?" Tanya Disya yang menatap wajah Adam mendongak, karena posisi Adam berdiri dan Disya duduk.
Adam menaikkan satu alisnya. "Kenapa?" tanya Adam yang tidak mengerti dengan pertanyaan Disya. Yang penting kan dia sudah makan apa yang dia inginkan, kenapa harus bertanya bagaimana dia mendapatkan makanan itu.
"Ya.. ya aku ingin tahu saja." Disya tampak kikuk ditatap Adam, tangannya melepaskan pegangannya pada Adam.
"Tidak perlu tahu, karena memang itu tidak penting." Balas Adam dengan ekspresi datar.
Disya hanya diam melihat Adam yang sedang ingin memakai pakainya.
"Aku bantu." Disya meraih kaus yang akan Adam pakai, sedangkan Adam malah diam terpaku melihat sifat Disya yang tidak biasanya.
"Kenapa?" Disya menatap mata Adam yang juga menatapnya.
Grep
Adam menarik pinggang Disya membuat dada Disya terbentur dada bidang Adam.
"Apa yang kau pikirkan hm." Wajah keduanya begitu dekat, hingga Disya bisa merasakan aroma mint dari mulut Adam.
"Ti-tidak." Disya menggeleng dengan wajah kaku, berdekatan seperti ini kenapa membuat jantungnya berdebar.
"Tidak ingin bermain?" Adam tersenyum menyeringai melihat wajah Disya yang sudah memerah.
Disya membuang wajahnya kesamping, tidak ingin melihat wajah Adam yang datar berubah menjadi mesum seperti ini, dan tatapan mesum Adam sudah pasti Disya tahu apa yang Adam maksud dengan 'bermain'.
"Baiklah kalau tidak mau."
Hap
Adam melepaskan rangkulan di pinggang Disya, membuat Disya mundur dan terkejut, untung saja dirinya bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh.
Adam menatap Disya yang masih bingung, padahal Disya pikir Adam akan menjadi pria pemaksa seperti yang sudah-sudah. Tapi lihatlah pria itu malah seperti menolak untuk 'bermain' dan entah kenapa malah Disya menjadi kesal.
"Ayo pakaikan, katanya mau bantuin." Adam mengulurkan tangannya agar Disya segera memakaikan pakaiannya, dan dengan cemberut Disya memilih menurut.
Adam sendiri ingin tertawa melihat reaksi Disya yang tidak mendapat jatah, karena yang Adam tahu jika ibu hamil memiliki hormon yang tinggi sehingga keinginannya untuk bercinta juga tinggi.
"Kenapa cemberut hm." Adam menyentuh dagu Disya agar menatap wajahnya, keduanya saling menatap dan tanpa jarak.
"Tidak apa-apa." Jawab Disya yang ingin menghindar dari tatapan Adam tapi Adam tidak mengijinkannya.
"Jangan bilang tidak apa-apa, jika ternyata kamu sedang tidak baik-baik saja." Adam menatap lekat bola mata Disya yang berwarna cokelat, bola mata terang yang Adam lihat malam itu di London. Adam menyukai tatapan Disya yang begitu bergairah saat itu, hingga Adam terpancing untuk menyentuh wanita yang tidak dia kenal malam itu.
Adam memajukan wajahnya untuk melumatt bibir ranum Disya yang sudah menjadi candunya. Bibir tipis yang terasa begitu manis bila Ia sesap dengan penuh kelembutan.
"Enghh.." Disya meleguh saat Adam semakin memperdalam cumbuan bibirnya, lidah Adam menyusuri setiap inci rongga mulutnya membuat Disya tak kuasa membalasnya.
Ciuman yang semakin menuntut membuat Disya tidak sadar jika Adam sudah menurunkan resleting gaun santai yang di pakai, hingga gaun itu meluncur bebas kebawah meninggalkan dirinya yang hanya memakai kain dalaman saja.
"Emm, Dam." Napas Disya tersengal dengan dada naik turun setelah Adam melepaskan sebentar ciumannya, tapi itu hanya sebentar karena Adam kembali memangut bibir Disya dengan brutal dan lebih menuntut.
"Ahh.." lenguhan Disya membuat Adam semakin bersemangat untuk mencumbu tubuh Disya, gelora hasrat Keduanya sudah melambung tinggi membuat Disya sudah jatuh di bawah kungkungan Adam yang mencicipi sumber pegunungan untuk si buah hati.
"Emm.." Disya tak kuasa merasakan sensasi bibir dan jari Adam di pucuk kelembutannya, Disya sudah tidak tahan sesuatu dalam dirinya ingin meledak.
Adam yang mengerti gerakan tubuh Disya melepaskan apa yang sejak tadi dia mainkan, Adam berdiri dan melepaskan pakaian yang baru saja dia pakai, hingga kini Adam hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya, karena tadi Adam hanya sempat memakai atasan saja.
Melihat tangan Adam yang bergerak membuka kaitan handuk di pinggang, Disya memalingkan wajah, tanpa di buka pun Disya bisa melihat rudal Adam yang sudah nenatang ingin dibebaskan.
"Kenapa tidak mau melihat hm." Adam mensejajarkan wajahnya dengan wajah Disya, bahkan Adam menekan pinggangnya di bawah bagian bawah Disya.
"Emphh.. "
Adam semakin menyeringai, perlahan tangannya membuka lebar kedua paha Disya untuk melancarkan aksinya yang sudah diujung tanduk.
"lets play.."
Aahhh