
Malam hari.....
Pukul 9 malam Disya baru membuka mata, wanita itu tertidur sangat lama, entah apa yang membuat Disya merasa ingin memejamkan mata terus, yang jelas dirinya malas untuk membuka mata.
"Kau seperti putri tidur di sebuah dongeng."
Disya menoleh pada sumber suara yang ternyata Adam sudah berdiri disisi ranjang.
Disya mendudukkan tubuhnya, merentangkan otot tanganya yang terasa pegal.
"Rasanya aku ngantuk, malas untuk bangun." Jawabnya sambil masih menguap.
Adam hanya geleng kepala, "Kau itu seperti Hawa ketika sendang hamil." Ucap Adam menatap lekat wajah Disya, menelisik raut wajah wanitanya dengan seksama.
Jika dengan keluarganya, Adam begitu peka dan gejala Disya seperti adik kembarnya saat pertama Hamil.
"Hawa? siapa yang hamil?" tanya Disya menatap Adam dengan serius. "Kau punya wanita bernama Hawa, apa dia sendang hamil anakmu." Ucap Disya dengan nada berapi-api.
Adam mengernyitkan keningnya, "Apa kau kehabisan obat, sehingga otakmu bermasalah." Balas Adam datar.
"Ck, aku tanya apa kau punya wanita selain aku? jawab..!" Tiba-tiba amarah Disya meluap, dadanya naik turun mendengar Adam menyebut nama seorang wanita.
"Aku rasa kau harua diperiksa." Adam berlalu dari hadapan Disya menuju sofa, pria itu meraih benda pintarnya di atas meja, dan menghubungi seseorang.
Disya segera turun dari tempat tidur dan segera menyusul Adam.
"Jawab dulu siapa Hawa?" Tanya Disya setelah Adam menyudahi panggilan teleponnya.
"Hawa Malika Adhitama, jika kau uptudate, pasti kau tahu." Jawab Adam kembali fokus pada benda pintarnya.
"Ohh, putri satu-satunya kelaurga Adhitama, memangnya kenapa? apa kau juga menyukai_"
Tidak jadi melanjutkan ucapanya saat mendapatkan tatapan tajam dari Adam, Disya menutup mulutnya dan setelahnya dia baru menyadari kebodohannya.
"Saudari kembar Adam Malik Adhitama." Lanjut Disya dengan wajah masam.
Dirinya lupa jika pria didepanya adalah putra Nathan Adhitama, cucu dari Allanaro Adhitama.
"Otakmu terlalu lemot untuk berfikir." Ucap Adam sambil menoyor kepada Disya.
"Ish, kau itu." Disya menepis tangan Adam yang menoyor kepalanya.
Tak lama bel pintu hotel berbunyi, Adam memilih bangkit untuk membuka pintu, karena Disya sedang ada di dalam kamar mandi.
Ceklek
"Selamat malam tuan, saya dokter dari rumah sakit Xx." Ucap seorang dokter pria yang berdiri didepan pintu.
Adam menatap dokter muda yang tersenyum padanya. "Saya meminta dokter wanita, bukan pria." Jawab Adam datar.
"Kebetulan saya dokter jaga malam ini tuan, jadi saya yang datang." Ucap dokter itu sambil membenarkan kaca matanya.
Karena ingin membuktikan sesuatu, Adam pun mengujikan dokter itu masuk.
Dan saat masuk, keduanya dikejutkan dengan Disya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya.
"Disya..!! Sial..!!" Adam langsung berlari menuju Disya yang berdiri, belum menyadari jika didalam kamar itu ada orang lain.
Grep
"Ish, apa-apaan sih. Aku mau ganti baju." Kesal Disya mendorong dada Adam membuat pria itu sedikit mundur.
Karena pergerakan Disya, lilitan handuknya tiba-tiba jatuh, dan Disya yang sadar terkejut langsung mengambilnya.
Tapi tidak dengan Adam saat melihat pemandangan indah didepan mata, pria itu mencekal tangan Disya, dan menariknya hingga Disya jatuh ke pelukan Adam.
"Adam lepas." Disya berontak, tapi Adam tetap memeluk pinggang wanitanya erat.
Adam memajukan wajahnya, menghirup aroma wangi sabun dari tubuh Disya, gairahnya tiba-tiba langsung naik membuat Adam ingin mencicipi kulit mulus dan lembut milik Disya.
"Ah, Adam kau mau apa engh." Disya meleguh saat tangan Adam menyentuh kelembutannya. Bukan hanya itu Adam menyusuri leher dan dada Disya untuk memberikan tanda kepemilikan.
Setelah puas, tak lupa Adam sedikit memberi hukuman karena sudah berani memperlihatkan tubuhnya didepan orang selain dirinya, meksipun tidak sengaja tapi tetap saja, harus mendapatkan hukuman, karena dirinya tidak rela jika miliknya di lihat orang lain.
"Shh, sudahh." Disya yang sudah terpancing gairahnya mencoba untuk tetap waras.
Cup
Adam mengecup kelembutan Disya, setelahnya pria itu menyambar baltrobe dan memakainya pada Disya.
"Pakai ini." Ucap Adam dengan datar, sebisa mungkin Adam menetralkan gairahnya yang ikut naik, tapi pria itu sadar jika diluar ada dokter yang menunggunya, jika tidak ingin memastikan sesuatu, sudah Adam pastikan dia akan mengusir dokter pria itu.
Disya menurut, mekipun dadanya masih naik turun, tapi dirinya tetap melakukan apa yang Adam minta, dan entah untuk apa, karena Disya tidak tahu apa yang Adam lalukan.
Keluar dari kamar mandi, dokter itu sempat bingung kerena melihat keduanya.
"Apa kau tadi melihatnya." Tanya Adam dengan tatapan datar.
"M-melihat apa Tuan?" Tanya balik dokter itu.
"Apa-apaan sih kamu." Disya menarik lengan Adam.
"Seharusnya kau bisa melihat situasi, tidak sembarangan keluar hanya menggunakan handuk." Bisik Adam tapi dengan nada tegas.
"Saya tidak mengerti yang anda ucapkan tuan, dan saya sekarang jadi memeriksa siapa?" tanya dokter itu yang sepertinya jengah menunggu lama.
Karena memang dokter itu tidak melihat apa yang Adam maksud, karena saat masuk dokter itu melepaskan kacamatanya untuk dibersihkan, jadi tidak sempat melihat Disya yang hanya menggunakan handuk saja.
"Siapa yang sakit?" tanya Disya saat Adam membawanya untuk berbaring di atas ranjang.
"Tidak ada, hanya saja kamu butuh diperiksa." Jawab Adam dengan menyuruh Disya untuk berbaring, dan pria itu menyelimuti Disya sampai leher.
Dokter yang melihat kelakuan Adam jadi bingung, tapi dirinya tidak berani berkomentar karena tatapan tajam Adam langsung menusuk matanya melewati kaca mata yang dia pakai.
"Nona biar saya periksa dulu." Ucap dokter itu yang sudah mengeluarkan alat untuk memeriksa Disya.
"Dam, aku kan nggak sakit, kenapa_"
"Aku hanya ingin memastikan, kau hamil atau tidak." jawaban Adam membuat Disya terkejut.
"H-hamil?"
.
.
Kalau sempat up lagi ya Sayang 😩