
Desiran lembut mulai Adam rasakan, rasa nyaman saat bersama wanita yang sudah dia renggut kesuciannya Adam merasakannya. Hanya saja pria itu tidak mengerti arti cinta. Karena Adam memang tidak pernah menyukai lawan jenis ataupun wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya.
Meskipun sejak sekolah Adam mendapat julukan good looking dan pangeran disekolah, tapi tetap saja Adam tidak tertarik dengan lawan jenis, karena Adam lebih tertarik pada dunia bisnis yang menurutnya memacu adrenalin untuk menaklukkan lawannya. Dan adan sama sekali tidak memikirkan untuk pacaran dan sebagainnya. Jadi pria itu termasuk akan buta dengan cinta.
Disya mengerjapkan matanya, saat merasakan usapan lembut di pipinya. Wanita itu perlahan membuka matanya dan menatap Adam yang berada disampingnya.
"Em, kamu menganggu tidurku saja." Ucap Disya dengan suara parau khas bangun tidur.
"Aku menyuruhmu tidur diranjang bukan diluar seperti ini." Ucap Adam yang melihat Disya malah membalikkan tubuhnya dan memunggunginya.
Disya tidak merespon, wanita itu kembali terlelap. Karena memang dirinya sangat mengantuk.
"Disya hey." Adam menggoyangkan bahu Disya yang memunggunginya, tapi wanita itu sama sekali tidak merespon.
"Ck, benar-benar ya." Ucap Adam yang mulai kesal.
Adam dengan cepat kembali menggendong tubuh Disya untuk dia bawa masuk, pria itu tidak perduli jika Disya akan melawan. Tapi ternyata Disya tidak merespon, dan tetap terlelap.
"Apa kamu begitu lelah, sampai tidak mau bangun." Ucap Adam sambil berjalan menuju ranjang.
Padahal dia tadi sedang membuatkan makanan untuk wanitanya yang sepetinya kelaparan. Adam merasa bersalah karena sudah membuat Disya kelelahan dan kelaparan.
"Tidurlah, nanti setelah bangun kamu bisa langsung makan." Ucap Adam.
Pria itu kembali menyelimuti Disya yang terlelap, mencium kening Disya sebelum dirinya pergi meninggalkan kamar.
Banyak pekerjaan yang Adam belum selesaikan, bahkan sejak tadi Arfin terus saja menghubunginya, karena belum sampai kantor.
Meninggalkan Disya sendiri diaparteman itu tidak mungkin, Adam memilih bekerja dari rumah dan menyuruh Arfin untuk mengirim pekerjaannya lewat email.
Adam berkutat dengan pekerjaannya didepan televisi ruang tengah apartemen.
Pria itu memiliki apartemen yang cukup luas, dengan dua kamar. Ruang televisi yang terhubung langsung dengan dapur, dan sebuah bar mini. Apartemen ini menjadi miliknya semenjak dirinya memenangkan tender pertama kali saat masih duduk di bangku sekolah.
Terlahir dikeluarga kaya dan memiliki banyak harta, tidak membuat Adam lupa diri. Pria itu tahu bagaimana susahnya berjuang dalam meraih impian.
Kini bisa dibilang dirinya sukses di usia muda. Kerena mampu melebarkan sayap Adhitama Grub ke penjuru dunia.
Perusahaan yang masih menduduki nomor satu di Asia.
Adam cukup lama berkutat dengan pekerjaannya yang dikirim Arfin lewat email, hingga membuat Disya yang sudah lelah tidur menjadi bangun.
Disya menatap ke sekeliling masih dengan suasana yang sama, itu berarti dirinya masih berada di kamar Adam.
"Emmh, kenapa badanku rasanya sakit semua." Ucap Disya sambil menggerakkan tubuhnya. Untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
Kruk...kruk...
Tiba-tiba perutnya berbunyi, dan bisa menunduk sambil menyentuh perutnya.
"Rupanya aku bisa tidur dalam keadaan lapar." Ucapnya yang merasa luar biasa.
"Eh, tapikan aku tadi tidur diluar. Tapi sekarang_"
Disya menyentuh selimut yang menutupi kakinya. Dan saat menoleh kesamping Disya melihat nampan berisikan makanan dan segelas susu.
"Apa dia yang menyiapkannya." Gumam Disya yang melihat makanan di atas meja.
Disya pun memiringkan tubuhnya untuk mengambil nampan itu. Dan Disya melihat ada 3 potong sandwich dengan toping lengkap ditambah segelas susu dan jus.
Disya tanpa sungkan memakan sandwich yang Adam siapkan, dia begitu lahap memakannya, hingga habis dua potong, ditambah jus jeruk satu gelas yang tinggal setengah, dan Disya sudah merasakan kenyang.
"Errggh.."
Mulutnya bersendawa membuat Disya menutup mulutnya, karena tepat saat itu pintu kamar terbuka.
"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Adam yang berjalan mendekati Disya yang duduk diatas ranjang dengan nampan makanan di atas pangkuannya.
Disya tidak menjawab, melainkan menaruh nampan makanan tadi ketempatnya semula.
"Hey, kenapa susunya tidak diminum?" Ucap Adam lagi yang sudah sampai disamping ranjang.
Adam duduk disisi ranjang, dimana Disya yang duduk sambil bersandar di bahu ranjang.
"Ini siang hari, bukan pagi hari yang harus minum susu." jawab Disya dengan nada sewot.
Pokoknya jika bicara dengan Adam Disya tidak ada manis-manisnya seperti lemineral.
Tapi jika dengan Dino, Disya seperti pisang coklat yang lumer dan lembut. Memang berbeda karena pertemuan mereka pun berbeda. Hanya saja disini Adam yang sudah memiliki hak paten untuk Disya.
"Ya sudah."Jawab Adam singkat.
Disya yang awalnya membuang wajah kini menoleh pada Adam yang hendak berdiri.
Tumben saja pria menyebalkan dan pemaksa itu tidak bicara banyak, apalagi memaksa dirinya utuk melakukan apa yang dia inginkan, tapi sikap Adam barusan membuat Disya terhenyak, terasa aneh.
Melihat Adam yang beranjak dari duduknya, reflek tangan Disya menyentuh lengan Adam.
"Mau kem_" Menyadari perbuatannya, Disya buru-buru melepaskan tangannya dan membuang wajah.
Malu tentu saja dirinya malu, dan merutuki kebodohannya sendiri.
Disya menyematkan rambutnya kebelakang telinga' karena gugup, apalagi kini Adam kembali duduk.
"Apa? kamu bilang apa?" Tanya Adam.
Padahal dalam hati dirinya tertawa keras, melihat sifat Disya yang jaim.
"Tidak apa. Sana kamu pergi!" Usir Disya ketus.
Tangan Adam menarik dagu Disya untuk menatapnya, tapi wanita itu menepis tangan Adam karena merasa malu.
"Apa sih, udah sana." Ucap Disya lagi.
Adam yang gemas karena melihat tingkah Disya ingin sekali memakannya, tapi Adam tidak tega, karena pasti wanitanya itu lelah.
"Bilang saja pengen tau, tapi kok gengsi." Ledek Adam yang langsung pergi sambil mengulum senyum.
Disya menatap pugung Adam melotot. "Cih, pede sekali anda." Kesal Disya.
"Bodoh Sya, bisa besar kepala dia."
Disya mengacak-acak rambutnya frustasi, dirinya masih merutuki kebodohannya yang memang sok perduli.
Didalam kamar mandi Adam membersihkan dirinya, meredam hawa panas yang tiba-tiba datang dalam dirinya.
Berdekatan dengan Disya memang membuat dirinya benar-benar menjadi pria brengsekk. Adam terasa lebih menjadi dirinya sendiri yang memang memiliki gairah besar jika sudah terpancing.
Melihat Disya bangun tidur saja, dirinya sudah merasakan gejolak dalam dirinya. Padahal selama dewasa Adam tidak pernah merasakan gairah seperti ini, tapi entah kenapa sejak bertemu Disya dirinya seperti singa kelaparan yang tidak tahu waktu.
Di kamar Disya turun dari atas ranjang dan berjalan menuju pintu untuk keluar, dirinya bosan sejak tadi hanya di dalam kamar dan Disya membawa nampan sisa makanan yang dia makan tadi untuk dia taruh di dapur. saat melihat interior di dalam apartemen itu Disya memang mengaguminya baru kali ini dirinya melihat apartemen semewah ini jelas ini bukan apartemen biasa yang bisa dimiliki siapa saja karena di sini memang terkenal apartemen milik orang-orang berduit seperti Adam tentunya.
"Hm, masih muda, tampan dan kaya. Pasti harus siap mental dan hati yang jadi pasangannya. Kalau ngak selingkuh, ya digoda pelakor." Ucap Disya pada diri sendiri.
.
Kembang kopi sayang πππ