
Selama satu minggu berada dirumah Qai. Baik Qai maupun Rey sama-sama diam tidak melakukan obrolan apapun. Padahal keduanya tidur di ruangan yang sama dan diatas ranjang yang sama.
"Kita harus bicara" Ucap Rey setelah memasuki kamar mereka. Rey ikut duduk di samping Qai.
"Mau bicara apa?" Tanya Qai.
"Kita harus sama-sama terbuka malam ini."
Kata terbuka membuat Qai mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?"
"Sejak awal kita sama-sama menolak perjodohan ini. Tapi jujur saja aku heran kenapa aku dan kamu bisa bersamaan menerima hal ini tanpa kita saling bertemu terlebih dahulu. Bukankah itu aneh?"
Qai mengangguk setuju. "Aku pun berfikir demikian."
"Jujur, aku patah hati karena seseorang yang aku tunggu selama ini ternya sudah menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak." Ucap Rey mulai bercerita.
"Kami pacaran sejak SMA. Kami menjalin hubungan jarak jauh sejak kami lulus SMA. Aku harus kuliah disini sedangkan dia memilih kuliah di Jakarta. Aku menunggunya karena aku pikir dia tidak akan berpaling" Rey menarik nafas dala-dalam. "Karena Akulah orang yang merusaknya. Meski kita melakukan itu sama-sama mau."
"Aku juga sama. Aku sakit hati karena melihat pacar ku sedang berhubungan badan dengan perempuan yang entah siapa." Tutur Qai tiba-tiba.
"Kita sama-sama sudah menerima pernikahan ini. Meski belum ada rasa diantara kita, tapi aku mau kita komitmen menjalani hubungan ini."
Qai menatap Rey. Lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya mengatakan hal yang sangat ingin ia dengar dari sang mantan kekasih. Komitmen.
"Aku tidak bisa menjaminkan apa pun selain diri ku sendiri. Maka aku akan setia selama kamu setia sama aku. Jadi aku mau kita menjadi suami istri sungguhan." Jelas Rei yakin.
"Apa kamu mau menerima ku, jika aku bekas lelaki lain?" tanya Qai. Ia ingin tahu terlebih dahulu bagaimana reaksi Rey jika seandainya ia bukan perempuan yang utuh.
"Aku bujang tapi bukan perjaka. Kita satu sama bukan?" jawab Rey santai. Namun terdengar meyakinkan dalam nada lelaki yang menatap Qai.
"Apa aku bisa memegang janji yang kamu ucapkan tadi?"
"Yang mana. Komitmen atau kesetiaan?" tebak Rey.
"Lelaki yang di pegang adalah ucapannya. Jadi cobalah percaya pada ku."
Bagaimanapun akhir perasaan mereka nanti. Tapi Rayhan akan tetap memilih memperjuangkan hubungan yang baru ia rajut.
Meski belum ada cinta di hati keduanya, apa salahnya dengan saling mendekatkan diri. Mungkin dengan hal itu mampu menumbuhkan benih-benih rasa yang tersisa di hati keduanya.
"Aku bingung mau memanggilmu apa." Ucap Qai saat Rey akan memajukan wajahnya.
"Terserah kamu saja. Apapun panggilan mu aku akan terima dengan senang hati."
"Mari kita lakukan sekarang" ajak Qai dengan berani.
"Sudah yakin?" tanya Rey untuk terakhir kalinya. Dan saat itu juga Qai mengangguk.
Cup
Rey langsung mengecup bibir Qai setelah mendapat persetujuan Qai. Hanya sebuah kecupan karena setelah itu Rey menjauhkan wajahnya untuk melihat reaksi Qai.
.
.
.
Yuk lanjut langsung ke novel 2 RASA YANG TERSISA π₯°
Yang masih menunggu S2 NISSA (khusus cerita Reina, sabar ya π insha Allah akan segera aku buatkan ya π
jangan lupa mampir di HUJAN, Beri Aku Cinta β€οΈ karna nanti disana ada Nissa dan Zen yang bakal mampir di part nya Zantisya dan Arjuno π₯°
Reina aja belum aku kerjakan ini sudah ada planing bakal buatin lapak untuk Zen versi bujang π
Sabar ya sabar tunggu giliran π