
Belum genap dua minggu Reina dan keluarga dari almarhumah ibunya memilih cepat pulang ke Indonesia setelah Reina tau dari eyangnya saat sedang saling berkabar dengan Wati jika proses pernikahan ayahnya dengan Nissa berjalan lancar.
Sekitar pukul 17.00 Reina sudah sampai di kediamannya. Iya melangkah masuk dengan cepat dan air muka yang sangat kecewa.
"Assalamualaikum oma… ayah… oma…"
"Waalaikumsalam" jawab Wati santai karena ia sudah tahu kepulangan Reina yang di percepat. Wati langsung akan memeluk cucu kesayangannya, namun Reina menolak pelukan Wati. "Nggak kangen sama oma?"
"Oma jahat hiks… hiks…" ucap Reina yang langsung menangis sejadi-jadinya.
Wati sudah memperkirakan ini akan terjadi karena Reina mengetahui ayahnya menikah pun, tak banyak bertanya dan mencoba menenangkan cucunya.
"Tenang dulu sayang, cup… cup… cup…" ucap Wati sambil memeluk Reina dan menepuk bahunya.
"Oma jahat, kalian semua jahat. Oma tahu kalau Rere nggak mau ayah nikah lagi tapi kenapa Oma… hiks... hiks... hiks..."
Belum sempat Wati menjelaskan kepada Reina. Nissa datang memberi salam. Wati pun menjawab salam nissa. Sedangkan Reina yang tahu kedatangan Nissa, ia langsung menghampiri Nissa dan langsung menampar Nissa dengan sangat keras sehingga pipi Nissa memar dan sudut bibirnya berdarah.
Tentu saja Nissa terkejut mendapat serangan dadakan di sore yang melelahkan ini.
"Aku benci sama kamu" teriak Reina nggak santai, yang langsung berlari mengunci diri kedalam kamarnya.
Wati yang terkejut akan tindakan Reina langsung menghampiri Nissa yang tengah berdiri merintih kesakitan memegangi pipinya.
"Assalamualaikum" ucap Yusuf.
Nissa terkejut mendengar suara Yusuf. "Bunda jangan ceritakan hal ini ke ayahnya reina" Wati pun langsung mengangguk dan Nissa pun langsung berlari menuju kamar.
"Nissa kenapa bun kok tiba-tiba lari?" tanya Yusuf yang langsung menyalami Wati.
Wajah Wati masih terlihat panik. "Bunda juga nggak tahu, dia juga baru pulang, mungkin kebelet" Tebak Wati asal. Alasan apa lagi coba kalau bukan 'kebelet' untuk menjawab, iya kan.
"Yusuf ke atas dulu bun"
"Yusuf" ucap Wati membuat langkah Yusuf terhenti. "Reina sudah pulang sekarang ada di kamarnya"
Yusuf melihat air muka Wati seperti menghawatirkan sesuatu, ia pun langsung beranjak ke kamarnya. Di lihatnya Nissa tidak ada namun terdengar gemericik air di dalam kamar mandi. Yusuf pun langsung mengetuk pintu kamar mandi.
"Nis… Nissa…"
"Iya om. Nissa lagi mandi om kalau butuh kamar mandi ke kamar tamu dulu ya om" ucap Nissa sambil berteriak.
Yusuf pun langsung melepas jasnya dan langsung menuju kamar Reina. Yusuf mengetuk pintu beberapa kali namun Reina tetap saja tidak mau membuka kan pintu.
"Rere kalau Rere nggak mau bukain pintu buat ayah. Lebih baik ayah kembali ke Jakarta lagi" sebuah jurus ancaman yang pasti membuat Reina luluh. ayah satu anak ini tahu dimana letak kelemahan anaknya.
Tak lama Reina pun membuka kan pintu, Yusuf pun langsung masuk. Yusuf Memeluk dan menenangkan putrinya yang tengah menangis. Sedangkan Wati ingin tahu cara Yusuf meluluhkan hati anaknya, berada di ambang pintu mendengarkan percakapan antara ayah dan anaknya itu.
"Ayah jahat" ungkap Reina kesal.
"Ayah minta maaf re…"
"Ayah sudah janji sama Rere nggak akan nikah kalau Rere nggak setuju. Ayah nggak nikah aja sudah nggak perduli sama Rere, ayah gak ada waktu buat Rere apa lagi sekarang ayah nikah pasti ayah akan lebih sayang sama istri muda ayah itu" tuturnya marah dalam mengutarakan isi hati.
"Rere ayah minta maaf kalau ayah nikah nggak kasih tau Rere dulu, nggak izin sama Rere ayah minta maaf nak. Tapi ayah janji kalau Rere mau menjalin hubungan baik sama Nissa ayah akan menetap disini ayah nggak akan tinggal di Jakarta lagi kecuali karena pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ayah tinggalkan"
"Jadi ayah bela dia" Reina jelas tak terima. sudah sangat lama ia meminta ayahnya untuk menetap dI kota ini tapi selalu memberikan alasan yang selalu sama. Pekerjaan. Tapi sekarang dengan mudahnya ayahnya berjanji menetap di Malang setelah menikah secara diam-diam.
"Bukan begitu nak"
"Buktinya ayah bilang begitu ke Rere hiks hiks hiks… sejak dulu Rere mau ayah menetap di sini ayah nggak mau giliran sekarang apa?" ucap Reina kecewa.
"Sayang semua sudah terjadi. Allah mentakdirkan ayah menikah seperti ini hingga membuat Rere kecewa ayah minta maaf. Namun kita harus bisa menerima semua dengan ikhlas nak. Mungkin caranya harus seperti ini agar ayah bisa Deket sama anak ayah yang cantik ini”
"Ayah janji akan tetep sayang sama Rere"
Yusuf pun langsung menuju kamarnya setelah Rere sudah mengerti dan tenang. Ia melihat Nissa yang sedang mengompres pipinya dengan air dingin. Yusuf langsung duduk di samping Nissa dan menarik tangan kirinya yang sedang mengompres.
"Om"
"Sampai seperti ini?" ucap Yusuf yang langsung akan menyentuh sudut bibir Nissa yang terluka, namun belum sampai jemari Yusuf menempel, Nissa memundurkan kepalanya."Maaf. Maafkan Rere"
"Eh ini bukan karena Rere om, tadi aku…"
"Aku tahu. Rere sebenarnya gadis yang baik dia seperti itu hanya karena mengira kamu akan merebut ku darinya dan takut waktu ku akan lebih banyak berkurang lagi"
"Eh… mana mungkin aku merebut ayah dari seorang anak"
Yusuf menghela nafasnya. Ia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya dan sekarang Reina ya harus ia beri pengertian. "Aku mau mandi dulu"
.
.
.
Tak lama kemudian Yusuf selesai mandi dan mendapati Nissa lagi video call dengan Amira.
"Iya Mira bubun juga kangen. Nanti kalau libur bubun pulang sayang"
"Mila kangen pengen di gendong"
"Ulu-ulu manjanya anak gadis"
"Dari kemarin Amira minta video call in kamu nduk" ucap Jumiasih memberi tahu.
"Iya bu maaf Nissa malah sampek lupa kasih kabar ibu"
"Dimana Yusuf nak?"
Nissa melihat kearah Yusuf yang sudah memakai pakaian lengkap.
"Om Yusuf lagi mandi bu"
"Loh kok suaminya masih di panggil om to nduk. Mbok ya di panggil mas atau apa gitu lo"
Yusuf langsung duduk di samping Nissa dan langsung merangkul Nissa mesra. "Nbgak apa-pa bu, Yusuf di panggil om"
"Eh nak Yusuf. Bagaimana apa Nissa merepotkan disana?" tanya Jumiasih khawatir. Melepas anak gadisnya dengan cara seperti ini membuatnya takut tidak menghormati dan menghargai suaminya.
"Nggak bu. Nissa mandiri banget" ucap Yusuf sambil menarik pipi Nissa.
"Dia melayani kamu dengan baik kan nak?"
Yusuf dan Nissa saling berpandangan. "Maksud ibu?" jelas pertanyaan Jumiasih terdengar ambigu. Melayani dalam hal apa. Mereka jadi saling memandang.
Tiba-tiba sambungan video call terputus Nissa pun langsung menjauh dari Yusuf. Sungguh ia merasa canggung jika berdekatan dengan suaminya ini.
Saat makan malam Nissa tidak ikut turun makan malam. Sedangkan semua di ruang makan nampak seperti biasanya. Adam dan Luna yang semakin romantis dan Yusuf masih tetap memanjakan anaknya.
Setelah selesai makan, Yusuf langsung menata makanan lagi ke dalam piring dan langsung menuju kamar. Di dalam ruang kamar tidak ada wujud Nissa akhirnya Yusuf menuju balkon dimana Nissa berada.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰
Ikuti juga novel terbaru ku ya 🥰