
"Nissa…" gumam Yusuf dalam hati. Ia menyentuh Nissan yang terdapat nama Iman dzuhairi Sucipto Bin Sulaiman dzuhairi Sucipto. Ayahnya.
"Ayah tolong bantu Yusuf, pintakan secara langsung pada sang pemilik kehidupan untuk menyehatkan istri Yusuf, Nissa ayah" lirihnya .
"Yusuf sungguh tidak ingin apa yang terjadi pada Rere Akan terjadi juga pada adiknya" Yusuf terdiam sejenak menjeda ucapannya.
"Yusuf masih ingin bahagia lebih lama lagi bersama Nissa. Yusuf belum siap bahkan sama sekali nggak siap jika harus kehilangan Nissa. Semuanya terasa baru kemarin Yusuf rasakan" tambah Yusuf lagi.
Hari itu Yusuf sengaja ziarah ke makam kedua orang tuanya dan juga makam ibunda Reina.
.
.
.
Setelah dari pemakaman Yusuf langsung menuju rumah sakit. Ia berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit yang masih banyak lalu lalang orang. Setelah mengucap salam Yusuf langsung masuk mendekati brankar dimana Nissa terbaring lemah.
Entah berapa kantong darah yang Nissa butuhkan karena terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya saat itu. Sudah tidak dihitung lagi cairan infus yang masuk kedalam tubuh istrinya.
"Ibu sama bapak istirahat saja gantian Yusuf yang jaga" ucap Yusuf pada Jaya dan Jumiasih.
Sejak tadi pagi hingga sore memang Jaya dan Jumiasih yang menjaga Nissa. Agar Yusuf bisa gantian istirahat.
"Memangnya Yusuf sudah istirahat dirumah?” tanya Jumiasih. Masih nampak jelas wajah Yusuf terlihat lelah.
"Yusuf sudah cukup istirahat tadi dirumah bu. Bapak sama ibu istirahat saja dirumah besok kalau Yusuf perlu di gantiin jaga Nissa, Yusuf pasti langsung nelpon ibu sama bapak"
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu dulu nak” pamit Jaya.
Setelah Jaya dan Jumiasih pulang Yusuf duduk di kursi yang ada di dekat brankar dimana Nissa tengah berbaring selama satu minggu ini. Ia menatap wajah Nissa sendu. Tangannya meraih tangan Nissa dan ia genggam seolah menyalurkan kekuatan agar istrinya tetap bertahan dan segera bangun dari tidur panjangnya.
"Sayang" ucap Yusuf sambil mencium punggung tangan Nissa. "Terimakasih sudah bertahan untuk kami semua. Tolong buat kami semakin bahagia dengan mu bangun tersenyum menyapa kami semua" lirihnya terhenti. "Aku butuh kamu sayang, anak kita pun sangat membutuhkan mu. Jangan terlalu lama tidur, bangun lah dan peluk kami semua" lirihnya lagi sambil mencium punggung tangan Nissa.
.
.
.
Hari ini dengan sedikit perdebatan dengan bundanya, Wati, Yusuf akhirnya membawa bayinya ke rumah sakit bersama Wati dan di antar oleh sopir.
Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruang rawat yang sudah dua minggu ini menjadi tempat tidur Nissa. Disana ada Jaya dan Jumiasih yang tengah menggantikan Yusuf menjaga Nissa.
"Assalamualaikum nda" ucap Yusuf menirukan suara anak kecil seolah mewakili bayinya. Ia juga meletakkan bayinya di samping Nissa lalu Yusuf mencium pucuk kepala istrinya. "Nda ayo bangun adek pengen di peluk dan di gendong nda" tambah Yusuf lagi.
Jaya, Jumiasih dan Wati hanya bisa melihat interaksi Yusuf dengan haru sehingga air mata tak mampu lagi di bendung oleh kedua perempuan paruh baya itu.
Tak lama kemudian bayi laki-laki itu menangis kencang sedangkan tangannya nampak bergerak memukul tangan Nissa yang ada di dekatnya.
Wati pun langsung bergegas membuatkan susu formula agar cucunya itu segera tenang kembali karena memang sudah waktunya minum susu.
Yusuf menghentikan tangan wati saat ingin mengambil cucunya dari samping Nissa.
"Kenapa?" tanya Wati heran.
"Tangan Nissa gerak bun" lirih Yusuf. Wati pun ikut memperhatikan tangan Nissa hingga tak berkedip.
"Mbak, mas tangan Nissa gerak" ucap Wati memberi tahu Jaya dan Jumiasih. Segera pasangan paruh baya itu pun mendekati brankar.
Dengan perlahan Nissa membuka matanya yang sudah dua minggu terpejam. Yusuf dan yang lainnya terus menunggu Nissa membuka kedua matanya.
"Bayi ku" lirih Nissa saat matanya terbuka sempurna dan hanya langit langit rumah sakit serta suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan itu. Tanpa sadar tangan Nissa meraba perutnya yang sudah terasa mengecil spontan nissa menoleh ke sumber suara tangisan bayi sesungguhnya. Sedangkan semua orang sudah mengucap syukur karena nissa telah siuman.
"Ayy… bayi ku" lirih Nissa.
Bersambung...
Duh maaf ya yang sudah mengira Nissa meninggal🙏 mengenaskan sekali nasib om Yusuf kalau sampai duda dua kali😀
Besok kita kembali ke Part uwu-uwuan lagi ya aku lebih suka sikap om Yusuf yang hobby ngerjain Nissa ketimbang beginian😌
Jangan lupa mampir di novel tebaru ku ya mohon diramaikan juga 😘 kisah cinta Zantisya dan Arjuno yang nanti akan aku kemas seuwu mungkin semoga sesuai ekspektasi khayalanku.
...Mohon tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 kasih vote juga gak nolak kasih hadiah juga di terima dan follow akun author juga pasti seneng banget 🥰 selamat malam dan selamat istirahat ❤️...