NISSA

NISSA
BAB 36 BUNDANYA AMIRA DAN REINA



Keesokan paginya nissa sudah segar dengan menggunakan pakaian rumah sakit. Rambut yang masih basah nissa bungkus dengan handuk. Infus yang terpasang ditangan nissa sudah di lepas sejak akan melaksanakan solat subuh tadi karena nissa merasa badannya sehat dan yang pasti sudah mendapat izin dari dokter. Yusuf yang sejak tadi sudah mandi lebih dulu hanya memainkan ponselnya.


Sejak kejadian semalam yusuf memang irit bicara. Entah apa penyebabnya nissa pun bingung di buatnya. Dari pada bersusah payah mencari alasan kenapa lebih baik diamkan saja. Nanti juga pasti ngomong sendiri kalau sudah puas dengan puasa bicara.


Yusuf melihat nissa yang tengah menatapnya. “kenapa?” tanya yusuf yang hanya di jawab dengan gelengan kepala nissa.


Yusuf yang tengah memperhatikan nissa tengah mengeringkan rambutnya pun langsung mendekati nissa. Berdiri tepat di hadapan nissa. Nissa yang tertular puasa bicara pun mengacuhkan kehadiran yusuf.


Yusuf menatap intens nissa apa lagi melihat leher yang terbalut kulit putih dengan beberapa tanda kepemilikan membuat yusuf tersenyum di buatnya.


“lah kenapa ni orang senyum senyum” batin nissa sambil bergidik ngeri.


Yusuf langsung duduk di tepi brankar dan meminta nissa duduk di pangkuannya. Karena nissa malas berdebat mengingat waktu masih pagi nissa hanya menurut saja. Dan seketika itu yusuf lah yang mengambil alih handuk yang di pegang nissa guna mengeringkan rambutnya.


Tok…


Tok..


Tok…


Suara ketukan pintu sontak membuat nissa terkejut dan hendak turun dari pangkuan suaminya namun ditahan oleh yusuf . “masuk” ucap yusuf .


Klek…


Pintu terbuka dan ucapan salam serentak diucapkan oleh semua yang ada di depan pintu. Jumiasih, jaya, amira datang dengan membawa rantang berisi makanan kesukaan nissa, jumiasih tidak tahu makanan apa yang di sukai yusuf, mantunya. jadi ia memasak apa yang menurut nya enak untuk Yusuf. Sedangkan wati, adam, luna dan rere membawa segala makanan kesukaan yusuf dan nissa. Mereka semua kompak datang bersamaan karena ingin sarapan bersama nissa dan yusuf.


“assalamualaikum” salam serempak dari para gerombolan keluarga yang baru saja datang.


“waalaikum salah” jawab yusuf dan nissa bersamaan.


“apa kita mengganggu kemesraan kalian?” tanya wati membuat nissa spontan turun dari pangkuan yusuf. wajahnya bersemu merah karena menahan malu.


Setelah semua mengetahui nissa sudah baik – baik saja dan sudah di perbolehkan pulang, dua keluarga itu langsung mengatur posisi untuk segera sarapan. Sambil menikmati apa yang di hidangkan sesekali mereka melemparkan canda tawa.


“bubun, lehelnya kenapa kok meyah – meyah?” tanya amira polos dengan nada cadelnya yang super gemes.


“eh”


Sontak semua mata tertuju pada nissa menatap intens karena sejak tadi mereka hanya fokus dengan perbincangan mereka saja. Nissa yang merasa tak nyaman dengan tatapan semua orang pun langsung menyambar handuk di atas brankar dan menutupi lehernya. “astaga, jangan bilang om yusuf bikin tato di leher ku” batin nissa sedangkan pipinya sudah bersemu merah merona menahan malu mendapat tatapan semua orang. Ia merasa sedang di kuliti dengan tatapan penuh selidik itu.


Lalu semua mata tertuju pada yusuf namun yusuf yang sedang menikmati sarapannya pun hanya bersikap cuek pada semua orang termasuk nissa yang menatap kesal yusuf. sikap nissa dan yusuf membuat semua orang saling melempar senyum.


Setelah membereskan peralatan makanan, reina, yusuf, adam, jaya dam jumiasih yang memangku amira duduk santai di sofa. Sedangkan wati dan luna menemani nissa di brangkar.


“kamu serius semalam belah duren?” bisik luna.


“ya nggak lah. Ini rumah sakit” jawab nissa sambil berbisik juga.


“ya kirain diterjang juga”jawab luna dan langsung tertawa lepas membuat semua orang menatap ke arah mereka.


“kalau nggak lagi hamil sudah ku tendang kamu” lirih nissa penuh ancaman.


Saat semua hening tanpa bicara reina dengan percaya diri mendekati nissa lalu memeluk nissa erat. Sontak pemandangan itu membuat semua orang terkejut terselip rasa bahagia terlebih lagi nissa dan yusuf.


“terima kasih sudah menolong ku” ucap reina.


Nissa pun menepuk – nepuk punggung reina. “nggak perlu berterimakasih kan sudah kewajiban aku mengelilingi kamu”


Reina seketika menangis. “hik… hik… hik… kalau nggak ada yang nyelametin aku… aku nggak tau gimana nasib aku kemarin”.


Nissa langsung mengarahkan tubuh reina untuk ikut duduk di brangkar dan langsung mengusap air mata reina. “sudah jangan nangis lagi yang penting sekarang kamu aman dan selamat”


“terima kasih bunda” ucap reina lalu mengecup pipi nissa.


“bunda” gumam nissa.


“mulai sekarang rere panggil bunda ehhh nda aja. bagaimana pun nda sudah jadi istri ayah jadi artinya nda ibu rere”.


Nissa menangis haru namun terdengar imut saat di panggil bunda oleh reina. Nissa langsung memeluk reina. Semua orang menatap mereka penuh bahagia terlebih lagi yusuf yang pasti lebih bahagia karna akhirnya reina menerima nissa menjadi istrinya.


“padahal kamu panggil aku nissa juga gak apa kan kita seumuran, tapi panggil nda juga boleh terdengar manis meski aku jadi berasa tua” ucap nissa yang mampu mengundang tawa seisi ruangan.


Amira mendekat dan langsung memeluk kaki nissa. “bunda? Bunda kan bubunnya amila” protes amira tak terima.


“tapi bunda ini nda nya kak rere” ucap reina bergelayut manja pada nissa.


Nissa langsung mengangkat tubuh amira dan di pangkuannya. “bunda sekarang punya amira dan kak rere” ucap nissa sambil memeluk keduanya.


“terima kasih ya allah” batin yusuf bersyukur melihat drama kebahagiaan yang mereka saksikan saat ini.