
Hari ini Nissa mengajak Yusuf untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sejak kemarin ia begitu ingin makan sambel terong buatan Ibunya, Jumiasih.
Yusuf yang memang sejak tadi pagi mendengar rengekan sang istri pun berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus ia cek. Sejak tadi pagi Hendri sudah mengirim via email apa saja yang harus di kerjakan oleh pemimpin DS Group itu.
Ketika mata hari mulai terik akhirnya pekerjaan Yusuf selesai semua Dengan sempurna. Setelah menunaikan kewajibannya, Yusuf dan Nissa langsung meluncur ke rumah Jaya. Selama di perjalanan Nissa tak hentinya berbicara dari hal penting sampai hal receh membuat gelak tawa Yusuf. Bukan karena lucu hanya saja ia heran dengan perlakuan istrinya yang tiba-tiba seperti anak kecil. Meski tidak dapat dipungkiri kalau istrinya ini seusia dengan anaknya, jadi wajar saja.
"Assalamualaikum" salam dari Yusuf dan Nissa setelah berdiri persis di depan pintu kediaman orang tua Nissa.
"Waalaikumsalam" jawab Jumiasih. Mereka pun langsung saling berjabat tangan. Nissa memeluk ibunya cukup lama membuat yusuf keheranan.
"Apa serindu itu? Padahal beberapa minggu ini hampir setiap minggu kita kesini" batin Yusuf. Tapi memang akhir-akhir ini Nissa lebih bersikap manja pada suaminya. Nissa juga selalu meminta apapun. Kalau Yusuf tidak menuruti maunya Nissa akan merengek bak bocah kecil yang tidak di belikan permen.
"Bubun…" teriak Amira berlari dan langsung memeluk Nissa.
"Amira" Nissa langsung menggendong keponakannya itu. Menciumi seluruh wajah Amira dengan sayang. Kalau orang yang tidak tahu pasti akan mengira Amira adalah anak Nissa seperti perkiraan Yusuf dulu.
"Bu udah belum?" tanya Nissa. Wajahnya sudah berseri mengingat sambel terong lagi.
"Sudah" jawab Jumiasih. Anak satu–satunya ini sebelum datang kesini sudah pesan untuk di masakan sambel terong membuat sang ibu yang sedang asik bersantai ria sambil menonton acara salah satu stasiun televisi berjudul Suara Hati Seorang Istri. Kini Jumiasih harus berkutat di dapur. Dengan senang hati ia menuruti keinginan anaknya itu.
"Makan ah…" ucap Nissa yang langsung berlalu setelah memberikan Amira pada sang Ibu.
Sedangkan Yusuf semakin merasa heran dengan tingkah polah istrinya beberapa hari ini yang selalu banyak makan.
"Ayy… makan nggak?" tanya Nissa yang setelah ikut memasuki kamarnya dan menghampiri Yusuf yang tengah merebahkan diri diatas ranjang.
"Nggak sayang. Aku masih kenyang" Jelaslah Yusuf masih kenyang karna sebelum datang kesini mereka makan terlebih dulu.
"Temenin aku makan ayy" rengek Nissa sambil merebahkan dirinya di atas tubuh yusuf.
"Ok. Tapi kasih aku…" ucapan Yusuf berhenti namun jarinya mengisyaratkan agar Nissa mencium bibirnya. Tak butuh waktu lama atau berfikir panjang Nissa langsung mencium sekilas bibir Yusuf. Modus terus pokoknya.
"Udah, ayo ayy" ajak Nissa yang ingin bangun dari atas tubuh suaminya namun urung. Karena Yusuf menahan tubuh nissa.
"Aku maunya ciuman bukan kecupan" Jelaslah mana mungkin Yusuf merasa cukup dengan Skinship receh seperti itu.
"Nggak mau" rajuk Nissa memalingkan wajahnya. Nissa sudah sangat hapal dengan tabiat skin to skin receh yang berakhir pro.
"Perut ku mual sayang ayolah" Rayu Yusuf memelas mengeluarkan jurus andalan. Alasan apa lagi coba yang dibuat Yusuf. Biasanya dia akan jadi bayi-bayian kalau lagi mual dan sekarang obat mualnya ganti ciuman. Ckckck modus. Nissa hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap suaminya yang semakin hari semakin pintar cari kesempatan.
"Ogah. Ayy mah bilangnya cuma ciuman tapi tangannya pro aktif bikin orang berprestasi liar" tutur Nissa. "Aku nggak akan kejebak lagi" Nissa sudah mulai mode siaga.
"Lah kalau tangan dianggurin kan kasian dong sayang. Apa lagi ada yang bisa di buat mainan" ucap Yusuf tangannya sudah masuk melalui kaos Nissa. Nah kan.
Plak
Nissa memukul tangan Yusuf. "Nggak ada kerjaan ya ayy"
"Kan ini juga pekerjaan sayang. Wajib malah, dosa kalau di tinggalkan" jelas Yusuf membenarkan tindakannya.
.
.
.
Di meja makan
Yusuf dan Jumiasih hanya menemani nissa yang nampak lahap makan dengan nasi hangat dan sambel terong.
"Istri mu kenapa to Nak?" Tanya Jumiasih pada Yusuf setelah melihat Nissa menambah porsi makannya.
"Ayy sama ibu yakin nggak makan?" Tanya Nissa yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Yusuf dan Jumiasih. "Rugi lo Ayy nggak makan" Tambahnya. Seolah sambel terong langka yang dinikmati Nissa kini.
"Nduk… Kamu nggak lagi hamil kan?" Tanya Jumiasih spontan karena sejak tadi pikirannya banyak mengandung dugaan-dugaan. Apa lagi antar dua keluarga sama-sama menunggu kabar kehamilan Nissa.
"Nggak bu" Jawab Nissa singkat. Nissa memang sedikit sensitif jika membahas soal Kehamilan.
Kadang Nissa merasa dirinya tidak subur makanya ia lama hamilnya. Yusuf yang mengerti dengan pemikiran istrinya itu selalu memberikan penjelasan kalau mereka memang belum di berikan kepercayaan sebuah amanah yang besar dari sang pencipta. Bukankah anak adalah bonus dari Tuhan dari sebuah hubungan pernikahan.
"Kamu terakhir haid kapan?" tanya Jumiasih lagi. Sepertinya rasa penasaran Jumiasih semakin meronta.
Deg
"Apa mungkin…" batin Yusuf menatap Nissa lekat.
Nissa spontan menatap Yusuf. "Kapan ayy?" tanya Nissa dengan polosnya. Nissa memang tidak memperhatikan tanggal haidnya. Karena sejak Kehilangan bibit unggulnya. Siklus Haidnya menjadi tidak teratur.
"Lah ini yang dapet tamu bulanan kan kamu to ndok kok tanya Yusuf" Jumiasih jadi gemes sendiri dengan anak perempuan satu-satunya itu.
"Dua bulanan ini bukannya kamu nggak dapet tamu bulanan sayang" ucap Yusuf. Ia memang memperhatikan siklus haid istrinya yang acak-acakan.
"Lah iya. Kan ayy tiap malam min…" ucapan Nissa terhenti karena Yusuf langsung membekap mulut Nissa. Bahaya kalau Nissa membocorkan kelakuannya tanpa filter pada ibu mertuanya.
Sedangkan Jumiasih tampak menahan tawa melihat perlakuan anak dan mantunya. Meski sudah paru baya namun untuk masalah pengalaman masa muda, yang senior pasti lebih paham. Apa lagi mantunya mantan duda dalam kurun waktu cukup lama. Wes paham.
"Coba nanti Yusuf bawa periksa ke bidan terdekat sini dulu bu" ucap Yusuf. Detak jantungnya bahkan sudah terasa ingin melompat dengan kemungkinan kehamilan istrinya.
.
.
.
Niatnya sih setelah Nissa selesai makan dan istirahat sebentar, mereka akan langsung memeriksakan Nissa namun apalah daya.
"Ibu... itu jualan apa?" Teriak Nissa sambil berlari keluar kamar menuju ruang tamu dimana mereka tadi berbicara setelah menonton Nissa makan. Nissa mendengar suara 'tet... tet...' yang terdengar di telinganya.
"Nissaaa... hati-hati sayang" pekik Yusuf ikut lari mengejar istrinya. Khawatir dong kalau istrinya beneran hamil gimana coba. Kan bahaya.
"Itu rujak buah" Jawab Jumiasih. Ia menatap anaknya yang langsung menuju teras rumah.
"Pakde... Rujak..." Teriak Nissa takut kalau penjualnya nggak denger.
Dan kini Yusuf menopang dagu dengan kedua tangannya menatap sang istri yang tengah menikmati Rujak Serut. Padahal belum ada satu jam Nissa makan dan sekarang seporsi rujak tengah ia kunyah dengan sangat lahap.
Sedangkan Jumiasih menatap sang anak dengan keheranan. "Pelan-pelan nduk makannya nggak ada yang minta"
"Ayy sama Ibu bener nggak mau?"
Jumiasih dan Yusuf sama-sama menggeleng kepala.
Bersambung...
Kita lanjutkan besok pagi lagi ya 😊
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰
Ikuti juga novel terbaru ku