
"Jadi siapa yang telah bertanggung jawab atas masalah ini?" tanya Yusuf dengan air muka terlihat marah.
"I… ini murni kesalahan saya pak" ucap laki-laki yang sejak tadi berdiri di hadapan Yusuf. Meski sudah di persilahkan duduk namun laki-laki yang umurnya setara dengan Yusuf memilih tetap berdiri dengan tetap menahan kakinya yang bergetar.
"Jangan karena dia masih paman kamu lalu kamu mau menerima semua kesalahannya. Jika kamu masih mau bekerja di sini. Lakukan apa yang jadi tanggung jawab mu jangan pedulikan orang lain dan bekerjalah dengan ikhlas untuk perusahaan ini”
"Ba... ba… baik pak" jawabnya tergagap.
"Saya tidak mau tahu. Bagaimana pun cara nya acara yang tidak layak di tonton khalayak apa lagi anak anak itu segera di blok. Singkirkan siapa saja yang telah melakukan itu tanpa persetujuan saya"
"Baik pak"
"Sudah cepat keluar dan segera bereskan semua"
"Terimakasih pak" ucap laki-laki itu dan langsung berlalu dari ruangan Yusuf. Saat sudah di luar barulah laki-laki itu bisa bernafas dengan lega dan menepuk-nepuk dadanya seolah meminta jantungnya untuk cepat bekerja lagi.
"Siti cepat keruangan saya" panggil Yusuf melalui telepon.
Siti adalah perempuan berusia 40 tahun yang telah bekerja di perusaan cabang selama 15 tahun. Dan selama 10 tahun terakhir Siti menjadi sekretaris ke 2 untuk membantu Yusuf memimpin perusahaan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk" masuk ucap Yusuf, Siti pun langsung masuk. Yusuf melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. "Udah jam 4 sore" batin Yusuf. "Siti tolong handle meeting bersama tim creator"
"Baik pak."
"Dan lagi. Apa kamu sudah mendapatkan semua daftar karyawan yang telah menayangkan acara itu?"
"Sudah pak. Ada 5 orang yang terkait dengan masalah itu dan ini daftar namanya" ucap Siti sambil memberikan selembar kertas.
Yusuf pun melihat sekilas tanpa membaca dan langsung meletakkan kertas itu di atas meja. "Beri dia pesangon sepantasnya. Saya tidak mau memperkerjakan orang yang sudah sering melakukan kesalahan dengan sengaja."
"Apa itu tidak terlalu berlebihan pak? Mengingat..." ucapan Siti terputus.
"Mereka masih punya anak istri yang harus di beri makan. Sudah lakukan semua saya mau pulang sekarang" pada dasarnya memang Yusuf atasan yang baik dan orang yang nggak tegaan.
Siti pun yang keluar dari ruangan Yusuf dan langsung menghela nafas kesal. "Meskipun sedang marah tapi pak Yusuf masih memikirkan keluarga kalian. Seharusnya kalian berfikir berkali-kali lipat untuk bermain api" batin Siti sambil melangkah menuju ruangannya.
.
.
.
Sesampainya di rumah Nissa langsung masuk ke rumah "Assalamualaikum bu."
"Waalaikum salam" jawab Jumiasih.
"Habis ada tamu bu?" tanya Nissa yang melihat ibunya sedang membereskan ruang tamu.
"Sudah bu tapi kayanya Nissa mau makan lagi. Ibu masak apa?"
"Ibu masak ikan tongkol sambel ijo sama cah kangkung nduk."
"Iya sudah Nissa ganti baju dulu buk."
Setelah menyegarkan badan dan berganti pakaian Nissa pun langsung ke dapur. Di lihatnya Jumiasih seperti sedang menunggu nya. "Ibu mau makan juga?" tanya Nissa sambil mengambil piring di rak.
"Ndak nduk ibu cuma mau nemenin kamu makan."
Nissa pun langsung mengambil makan dan menyantapnya. "Bapak sama Mira kemana bu?"
"Bapak mu ke rumah pak RT setelah tamunya pulang dan Mira lagi main sama mbak di rumah tetangga."
Setelah selesai makan Nissa langsung minum air putih dan langsung bersendawa. "Alhamdulillah kenyang" ucap Nissa sambil menepuk perutnya.
"Nissa ibu mau bicara."
"Mau bicara apa sih bu pake bilang dulu" ucap Nissa yang mengambil es krim di kulkas lalu kembali duduk di hadapan ibunya.
"Ibu nggak bisa basa-basi jadi ibu langsung saja. Nissa, kamu sudah dewasa sudah paham sama hal baik buruk bisa menjaga diri bisa merawat orang lain..." Jumiasih berhenti sejenak.
"Katanya nggak bisa basa-basi nah ini apa?" batin Nissa sambil terus memperhatikan Jumiasih dan terus menikmati es krim.
"Ibu sama bapak sudah tua. Mumpung kami masih sehat kami ingin sekali melihat kamu menikah nduk" ucapan Jumiasih sontak membuat Nissa terkejut.
"Apa" pekik Nissa terkejut. "Bu, sek Talah bu. Ibu sama bapak ini masih sehat lo. Lagian Nissa ini masih kuliah bu, belum mikirin nikah."
"Tapi ibu sama bapak pengen cepet liat Nissa nikah nduk."
"Wes angel iki" ucap Nissa sambil menepuk dahinya. "Wes gini, ok seandainya Nissa mau nikah sekarang juga. Nissa mau nikah sama siapa bu? Pacar aja Nissa nggak punya."
"Jadi Nissa mau?" tanya Jumiasih sumringah.
"Mau apa bu?" tanya Nissa.
"Nikah."
"Ya Allah. Ibu e Nissa seng tak sayang dewe kok maksa banget too. Jangan bilang ibu mau jodohin Nissa."
"Betul" ucap Jumiasih sambil mengacungkan dua jempol. Kemudian Jumiasih menceritakan tamu yang di terima Jaya dan Jumiasih tadi sedetail mungkin.
"Besok bu?" tanya Nissa yang hanya di anggukkan ibunya.
Saat malam semakin larut dan seisi rumah telah terlelap tidur Nissa hanya terus berbolak balik karena tetap terjaga memikirkan percakapan ulang membahas tentang perjodohan dengan bapak dan ibu nya.
"Yang benar saja aku nikah sama orang kaya gitu. Ibu sama bapak kenapa setuju aja sih. Gimana kalau orangnya sudah tua perut buncit rambut putih kan seremmm..." gumam Nissa. "Lagian ngapain aku main iya-iya aja ih bodohnya aku" tambah Nissa sambil memukul kepalanya.
Bersambung...
Mohon tinggalkan jejak ya 😊 kasih like dan komennya 💋 tab favorit ❤️ follow akun author juga ya nanti di follback 👍