NISSA

NISSA
BAB 65 IKHLAS



Malam sudah semakin larut. Semua orang sudah sejak tadi pulang ke rumah begitu pula dengan Luna dan Adam yang sudah pulang sejak tadi sore sebelum Yusuf datang. Awalnya Wati yang ingin menjaga Nissa di rumah sakit, namun Yusuf menolak karena ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Nissa saat sadarkan diri nanti.


Yusuf terus saja menggenggam tangan istrinya sambil mencium punggung tangan istrinya. Ia terus merapalkan doa agar istrinya segera sadar. Meskipun sudah mendapatan keterangan dari dokter bahwa keadaan istrinya sudah normal hanya tinggal menunggu pasien siuman.


Namun penjelasan itu belum memuaskan bagi Yusuf jika belum melihat istrinya sadarkan diri dan mengingatnya. Meski hanya luka ringan yang ada di kepala Nissa, namun Yusuf mewanti-wanti jikalau istrinya amnesia. Terkesan kebanyakan nonton sinetron ini om Yusuf.


Tak lama kemudian Nissa perlahan mulai membuka matanya. Ingin sekali rasanya mengangkat kedua tangannya namun tangan yang satunya terasa di genggam erat. Wangi khas yang biasanya ia nikmati kini mulai menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya. "Ayy" lirih Nissa sambil menyentuh pucuk kepala suaminya dengan tangan yang terpasang infus.


Yusuf yang mendengar dan merasakan sentuhan lembut pun langsung mengangkat kepalanya dan sedetik itu pula matanya melihat gadis yang sudah tidak perawan lagi itu telah membuka matanya dan menatapnya. "Sayang" lirih Yusuf. Ia pun langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Nissa. menghujani banyak kecupan disana. "Alhamdulillah sayang kamu akhirnya sadar juga" lirih Yusuf lalu mengecup bibir Nissa.


"Jorok ayy aku belum mandi" seketika Nissa sadar kalau tangannya terpasang infus. "Loh kok aku di infus?" pekik Nissa.


"Kamu nggak inget kejadian tadi siang?" tanya Yusuf. Nissa langsung tampak mengingat kembali kejadian tadi.


"Ayy… Rere gimana keadaannya? aku khawatir banget tadi…” Nissa tampak mengingat sesuatu. "Motor tadi ngebut banget Ayy, Rere di klakson nggak denger aku lari dorong rere Ayy. Habis itu aku… aku nggak ingat apa-apa. Rere gimana keadaannya?” tanya Nissa cemas.


"Lagi-lagi kamu nyelametin anak ku dan ngorbanin diri kamu sendiri" ucap Yusuf lirih.


“anak kita ayy” ralat nissa.


Deg


Mendengar kata 'anak kita' kini yusuf mulai teringat akan anak yang telah gugur dari rahim sang istri. Semua keluarga sepakat untuk tidak memberi tahu Nissa dalam waktu dekat ini.


"Rere gimana Ayy?” tanya Nissa lagi. Ia belum puas jika belum mendapatkan jawaban dari Yusuf.


"Alhamdulillah Rere baik-baik aja, sekarang dia ada di rumah. Bapak, ibu, bunda dan Reina sudah pulang sebelum jam sepuluh tadi. Adam sama Luna dan si baby juga pulang sejak sore tadi" tutur Yusuf.


"Syukurlah kalau Rere baik-baik saja" Nissa tersenyum manis membuat Yusuf terus mengusap-usap pipi Nissa. Nissa nampak mengingat-ingat sesuatu. "Ayy…"


"Iya sayang"


"Kayanya kita perlu periksa ke dokter kandungan" ucap Nissa membuat bibir yusuf bergetar. Kelu rasanya telinganya mendengar ucapan Nissa.


"Ke… kenapa?"


"Siapa tau aku hamil ayy" ucap Nissa sambil mengusap perutnya. "Aku pikir-pikir sejak beberapa hari yang lalu aku ngerasa kaya tanda-tanda waktu almarhumah mbak hamil Amira ayy. Siapa tau aku beneran hamil" ucap Nissa, tatapannya menerawang langit kamar rawatnya sedangkan tangannya tampak terus mengusap perutnya. Bibirnya pun terlihat terus tersenyum membuat Yusuf tak mampu mengatakan apa yang seharusnya istrinya ketahui.


"Ayy kenapa?" tanya Nissa yang melihat Yusuf hanya diam saja sedangkan di ujung kedua netranya sudah nampak embun yang siap menetes.


"Haruskah aku katakana saja?" batin Yusuf sambil mencium punggung tangan Nissa. "Sayang" lirih Yusuf.


"Kamu memang hamil sayang…" ucapan Yusuf membuat senyum Nissa terbit. Jiwanya seolah melambung tinggi bersama bunga-bunga yang menghiasi hatinya. "Usianya enam minggu tapi…" ucapan Yusuf terhenti. Nissa menatap Yusuf terdapat kesedihan di kedua netra suaminya itu. Membuat jantung Nissa berdegup seolah tak ingin mendengar ucapan selanjutnya dari suaminya.


"Tapi itu sebelum terjadinya kecelakaan" tambah Yusuf lirih.


"Ma… mak… maksudnya ayy?" tanya Nissa terbata. Ia sudah paham dengan makna kata sebelum namun hatinya masih berharap ia salah mendengar ucapan suaminya.


"Kamu keguguran sayang" jelas Yusuf lirih.


Membuat Nissa yang mendengar semuanya pun terasa dirinya tersambar petir di tengah malam. Matanya seketika terasa panas. Sudah tak mampu lagi membendung air matanya yang memang sudah ingin membasahi wajah pucat nya.


"Maafin aku ayy" lirih Nissa.


Deg


Yusuf bingung kenapa Nissa malah meminta maaf padanya. Ia bahkan sudah menyangka bahwa ynissa akan menangis histeris seperti drama yang sering di tonton bundanya. Wati. Yusuf pun langsung naik ke atas brankar, memeluk istrinya yang sedang menangis sesenggukan.


"Maafkan aku ayy… padahal kita sudah sangat lama menunggu kabar ini tapi aku malah tidak bisa menjaganya dengan baik hiks… hiks… hiks…" lirihnya. Nissa menyusupkan wajahnya ke dada sang suami. mencari kenyamanan untuknya.


"Kamu nggak salah sayang. Jadi nggak perlu minta maaf" ucap Yusuf sambil mengusap punggung istrinya. "Kita harus bersabar dan terus berusaha lagi. Kita harus ikhlas karena memang saat ini bukan rezeki kita" tambah Yusuf. Nissa mengangguki kata-kata Yusuf seolah membenarkan, setuju dengan ucapan suami


Bersambung...


Lanjut nanti malam ya ❤️


Selamat bobo siang 😴


Yang kerja harus tetep semangat 💪💪💪


Semoga harinya selalu menyenangkan 🥰


good babaiii... 👋👋👋


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋


Ikuti juga novel terbaru ku ya 😊