
Persiapan perayaan ulang tahun perusahaan sudah rampung tinggal menunggu 1 jam lagi acara akan segera di langsungkan secara live di semua stasiun televisi milik DS Group. Hampir seluruh tamu undangan sudah mulai memadati ruangan dimana acara akan di selenggarakan. Semua rekan bisnis yang menjalin hubungan baik dengan perusahaan dan rekan kerja yang masih menjalin kontrak mau pun tidak turut di undang untuk menyaksikan kemeriahan pesta. Sekitar dua ribu undangan tersebar.
"Hen. Tolong belikan aku rujak serut" ucap Yusuf setelah Hendri menerima panggilan melalui benda pipih yang ia genggam.
"Baik pak" ucap Hendri yang langsung di akhiri oleh Yusuf. "Tumben banget si bos minta rujak. Mana main di matiin aja ini telepon" gerutu Hendri sambil melangkah menuju lift.
Sedangkan di Malang tepatnya di kediaman rumah Wati semua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga untuk menyaksikan acara yang akan berlangsung. Segala macam minuman segar, buah dan camilan sudah tertata rapi di atas meja.
"Nissa, kamu baik-baik aja?" tanya Luna yang melihat Nissa memijit keningnya.
"Aku baik-baik aja kok" ucap Nissa sambil memberikan senyuman.
"Tapi nda kelihatan pucat" ucap Reina yang memperhatikan raut wajah Nissa.
"Aku cuma sedikit pusing" ucap Nissa. "Nggak usah khawatir gitu deh" tambahnya lagi.
Wati langsung mendekati Nissa dan menyentuh kening Nissa. "Hangat lo sayang, ayo bunda antar periksa" Ajak Wati yang mulai khawatir.
"Nissa nggak apa apa bunda. Tadi juga sudah minum obat kok, nanti juga sembuh" ucap Nissa mencoba menenangkan kekhawatiran Wati.
"Tapi bunda khawatir sayang" ucap wati sambil membelai pucuk kepala Nissa.
"Nissa baik-baik saja bun, lagian Nissa juga ingin melihat acara pesta"
"Ya sudah, panggil bunda kalau memerlukan sesuatu" ucap Wati yang langsung di anggukki Nissa. Wati pun langsung kembali duduk di sebelah Reina.
"Kamu serius nggak apa-apa? Pucat lo wajah mu" tanya adam lirih ikutan khawatir.
"Aku nggak apa-apa"
Tak lama kemudian ponsel Nissa berdering. Nissa pun langsung mengangkat panggilan video dari Yusuf dan langsung menjauh dari ruangan keluarga.
"Ayy" ucap Nissa setelah menggeser tombol warna hijau dan duduk di ruang makan.
"Kamu kenapa sayang? Kok pucat, masih sakit?" tanya Yusuf semakin khawatir.
"Aku nggak apa-apa ayy, cuma sedikit pusing aja. Ayy lagi makan apa?" tanya Nissa yang melihat Yusuf tengah memasukan sesuatu kedalam mulutnya.
"Rujak serut" jawab Yusuf dengan mulut yang sedang menikmati rujak.
"Nih, aaa…" ucap Yusuf sambil menyodorkan sendok berisi rujak ke kamera laptopnya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Yusuf. "Sebentar sayang aku buka pintu dulu" ucap Yusuf yang langsung beranjak tanpa mematikan sambungan video.
"Kamu. Ngapain kamu kesini?" tanya Yusuf setelah membuka pintu dan melihat siapa yang ada di depannya saat ini.
Perempuan seksi itu pun langsung masuk tanpa di persilahkan oleh Yusuf.
"Keluar" usir Yusuf dengan suara tinggi. Sedang Nissa langsung membuka matanya saat mendengar suara tinggi Yusuf.
"Siapa dia?" gumam Nissa melihat sosok perempuan di depan Yusuf.
"Kamu, tega Yusuf sama aku hik… hik… hik..." perempuan itu terisak. "Apa kurangnya aku? Apakah kedekatan kita selama ini tidak membuat mu jatuh cinta pada ku? Apa lebihnya bocah itu dari pada aku?" tanya perempuan itu sambil terisak dan sesekali mengusap air matanya yang membasahi pipi.
"Aku tidak ingin membuat istri ku salah paham pada ku Maya" ucap Yusuf sambil melirik kearah laptopnya yang terlihat Nissa sedang menyaksikan meraka berdua dari sebrang sana. "Kita tidak mempunyai kedekatan apapun selain pekerjaan. Dan juga aku tidak bisa membandingkan kalian berdua karena sudah jelas kalian orang yang berbeda" Yusuf menghela nafas seolah berharap Maya memahami semuanya.
"Aku mau jadi simpanan kamu. Aku mau jadi istri kedua kamu" ucap Maya menawarkan hal konyol membuat Nissa yang menyaksikan sejak tadi membulatkan kedua netranya karena terkejut.
"Sentuh aku sekarang juga, aku rela" ucap Maya mencoba menyentuh tangan Yusuf namun dengan cepat Yusuf menyingkir.
"Jangan melewati batas mu Maya. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku" ucap Yusuf mencoba memberikan pengertian.
"Seujung jari mu pun kamu tak berniat menyentuh ku Yusuf. Aku ingin menyerahkan diri pada mu, terima aku" ucap Maya sambil menurunkan lengan bajunya.
Yusuf pun langsung berbalik melihat layar laptopnya "Nissa" gumam Yusuf. beberapa detik tatapan Nissa dan Yusuf bertemu sebelum akhirnya sambungan video terputus karena di akhiri oleh Nissa. "Aku harap kamu percaya pada ku sayang"
Yusuf pun langsung mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuh Maya lalu mendorong Maya keluar kamarnya. "Aku anggap hari ini tidak ada yang kau lakukan di depan ku. Kamu perempuan pintar dan bermartabat jangan rendahkan dirimu seperti ini Maya" ucap Yusuf sebelum akhirnya menutup pintu.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋
Ikuti juga novel terbaru ku ya 🥰