
Sesampainya di rumah Nissa langsung masuk ke rumah. Rumah nampak sepi ia pun langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Eh mbak Nur masih dirumah?" tanya Nissa.
"Masih mbak. Karna mbak Nissa sudah pulang saya tak pamit pulang enggeh mbak"
"Iya mbak. Hati-hati. Oh iya mbak, bapak ibu kemana?"
"Semuanya pada solat magrib di masjid mbak"
"Oh… ya udah mbak pulang saja. Hati-Hati lo mbak"
"Enggeh"
Setelah Nur pulang, Nissa pun langsung memasuki kamarnya dan langsung menyegarkan diri. Lalu berganti pakaian memakai piyama berwarna hitam lengan pendek celana panjang motif tom and jerry kesukaannya dengan rambut yang masih dililit handuk kecil.
Nissa pun langsung menuju sofa ruang tamu, mencharger ponselnya. Lalu tidur tengkurap sambil memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum" salam Jaya yang langsung masuk karena sejak tadi pintu di buka langsung oleh Nissa.
"Waalaikumsalam" ucap Nissa tanpa membalikkan tubuhnya dan masih fokus ke ponselnya. "Pak maaf Nissa pulang telat tadi jam kuliahnya mundur"
"Iya ndak apa-apa nduk" ucap Jaya langsung duduk di sofa singel. Sedangkan sepasang mata masih tetap mematung di ambang pintu.
"Oh iya pak. Orang itu nggak jadi kesini kan?" tanya Nissa yang nampak bahagia sambil membalikkan tubuhnya. Karena kemarin kata jaya yang melamar akan datang jam 4 sore. Makanya ketika jam kuliah di undur Nissa nampak sangat bahagia. "Eh bapak ada tamu?" ucap Nissa yang melihat lelaki yang terlihat gagah berdiri di ambang pintu. Sepertinya Nissa tak mengingat atau mungkin belum bahwa ia pernah bertemu dengan orang itu di mall.
"Gadis ini kan…" batin Yusuf sambil mengingat beberapa hari yang lalu. "Apa dia yang akan di jodohkan dengan ku" batin Yusuf lagi.
"Assalamualaikum" ucap Jumiasih, Wati dan Amira secara bersamaan.
"Waalaikumsalam" ucap Nissa, Jaya dan Yusuf bersamaan.
"Bubun" Amira lari melewati Yusuf dan langsung memeluk kaki Nissa.
Nissa langsung memeluk keponakan kesayangannya itu. "Eh tante disini?" tanya Nissa yang langsung menyalami Wati dan Jumiasih. "tante kesini sama siapa?"
"Sama anak tante"
"Sama Adam? Terus dimana dia? tanya Nissa sambil mencari sosok Adam di luar celingukan.
"Tante sama Yusuf" ucap Wati sambil memegang bahu Yusuf.
Nissa pun menatap dari atas ke bawah penampilan Yusuf yang memakai baju kemeja warna merah marun sarung hitam dan peci hitam. "Tante tumben mampir ke rumah Nissa?"
"Kan ada kepentingan Nissa" ucap Wati sambil tersenyum.
"Nis ganti baju dulu yang rapi sana" ucap Jumiasih.
"Nggak apa-apa tetep cantik kok meski pakai piyama" ucap Wati tersenyum penuh arti membuat Nissa bergidik. Mencurigakan.
"Kok perasaan jadi merinding gini ya" batin Nissa.
Nissa yang baru ingat rambutnya masih di lilit handuk pun langsung permisi. "Tante Nissa ke kamar sebentar ya" Nissa pun langsung meninggalkan ruang tamu.
"Pak saya permisi ke kamar tamu mau ganti" ucap Yusuf.
Setelah selesai menyisir rambut dan langsung mengikat rambut khas gayanya Nissa, ia pun langsung mengambil jaket rajut warna hijau tua. Nissa langsung keluar dari kamarnya. Saat mau memasuki pintu ruang tamu Nissa berpapasan dengan Yusuf yang telah berganti menggunakan celana jeans berwarna hitam.
"Silahkan" ucap Nissa sambil mundur memberi jalan untuk Yusuf.
Tanpa mengucap kata Yusuf langsung melangkah terlebih dahulu keruang tamu di ikuti Nissa yang berada di belakang Yusuf.
"Serasi kan mbak?" ucap Wati dan di anggukkan oleh Jumiasih.
Deg
"Serasi? Maksudnya apa?" batin Nissa yang langsung duduk di dekat ibunya dan Yusuf duduk di samping Wati.
Sesaat hening di ruang tamu tanpa pembicaraan sepatah kata. Tak ingin mengulur waktu Wati pun langsung membuka pembicaraan niatnya datang kemari. Pertama Wati memberikan salam untuk membuka percakapan.
"Mas Jaya, mbak Asih dan Nissa. Kedatangan saya dan anak saya kesini karena suatu hajat yang ingin mengikat dua keluarga menjadi satu. Saya Wati Diningrum ibunda dari anak saya Yusuf Dzuhairi Sucipto berniat ingin melamar anak semata wayang mas Jaya dan mbak Asih sebagai istri anak saya Yusuf. Apakah lamaran kami diterima?" ucap Wati.
Deg
"Kalau dia anak tante Wati berarti dia mas Yusuf nya Adam yang sering di ceritakan itu. Itu artinya dia ayahnya Reina" batin Nissa dengan air muka terkejut.
"Terimakasih atas niat baik bu Wati dan Yusuf yang ingin meminang anak saya. Saya dan istri saya menerima dengan lapang niat baik keluarga bu Wati. Namun semua keputusan ada di tangan anak saya. Nissa.” Ucap Jaya.
Wati pun menyenggol lengan Yusuf untuk mengatakan sesuatu. Yusuf pun langsung menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan untuk mengatur kegugupan yang tiba-tiba melanda.
"Zakia Nissa Wardani" ucap Yusuf yang langsung membuat Nissa menatap mata Yusuf.
"Eh dia sudah tau nama lengkap ku?" batin Nissa.
"Saya dan bunda datang kesini karena ingin melamar mu dan menjadikan mu istri saya. Apa lamaran saya bisa kamu terima?" tanya Yusuf dengan nada yang terdengar tak ingin adanya penolakan.
"Kok jadi ambigu gini ya dengernya" batin Nissa sambil menatap kearah Jumiasih, Jaya dan Wati. Mereka bertiga hanya memberikan senyuman namun maknanya meminta untuk menerima.
"Nissa" panggil Yusuf karena melihat Nissa melamun.
"Eh iya"
"Jadi bagaimana jawabnya?"
Sambil mengangguk. "Nissa terima"
Semua orang langsung mengucap syukur. Setelah itu Wati pun memakaikan cincin di jari manis Nissa dan juga kalung sebagai tanda pengikat.
"Jangan di lepas ya" bisik Wati yang hanya di anggukkan oleh Nissa.
Bersambung...
Jangn lupa untuk tinggalkan jejak ya 😊 kasih like dan komennya 💋
Ikuti juga novel terbaru ku