NISSA

NISSA
BAB 63 NISSA HAMIL! TAPI...



Semua nampak khawatir melihat seorang kesayangan yang baru saja membutuhkan pertolongan. Semua orang yang tengah menunggu di ruang tunggu UGD rumah sakit. Beberapa saat yang lalu seorang nampak menangis meminta tolong melihat seseorang yang ia sayangi tak sadarkan diri. Belum lagi darah yang keluar dari tubuh seseorang yang tengah berada di pangkuannya.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu hik… hik… hik…” tangis seseorang yang sedari tadi berada dalam pelukan wanita paruh baya.


"Doakan semoga semua baik-baik saja" ucap Wati sambil terus menenangkannya.


Tak lama kemudian seorang dokter menghampiri semua orang yang nampak khawatir akan keadaan orang yang mereka kasihi.


"Keluarga nyonya Nissa" tanya seorang dokter.


Jumiasih yang sejak tadi menangisi anak satu-satunya pun langsung berdiri dari posisi duduknya dan langsung menghampiri dokter. "Kami semua keluarganya dokter, saya ibunya. Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Jumiasih sambil menyeka air mata yang terus saja mengalir. Meskipun sejak tadi Jaya berusaha menenangkan Jumiasih namun bagaimana pun menahan air mata tetap saja tidak terbendung. Rasa trauma tetap tidak bisa di hindari oleh Jumiasih.


Bagaimana ia mengingat anak pertama dan menantunya kecelakaan. Beruntung Amira yang kala itu masih berada di dalam kandungan masih dapat terselamatkan. Kini Amira yang sangat mirip dengan ibunya kala masih kecil pun mampu membuat Jumiasih dan Jaya seolah melihat anak pertamanya kala masih kecil dulu.


"Alhamdulillah bu anak ibu sudah melewati masa kritis. Saat ini pasien sedang tidak sadarkan diri kita hanya menunggu pasien sampai siuman. Tapi mohon maaf…” dokter menghentikan ucapannya.


Semua orang langsung mendekat ke dokter. "Ada apa dokter? Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Jaya. Meskipun sejak tadi nampak tenang namun siapa yang tahu hati seorang ayah yang tinggal memiliki satu puteri.


"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Wati sambil terus memeluk Reina.


"Maaf kami tidak dapat menyelamatkan kandungan nyonya Nissa" ucap dokter.


"Apa?" pekik Jumiasih dan Wati bersamaan.


"Jadi anak saya sedang hamil dok?" tanya Jumiasih menatap sendu sang dokter. Lalu ia menatap Wati mereka saling menatap tanda sama-sama tak mengetahui kehamilan Nissa.


Jaya langsung memegangi bahu Jumiasih yang nampak akan merosot ke lantai karena syok. "Istighfar bu" bisik Jaya.


"Karena saat kecelakaan terjadi benturan pada perut pasien mengakibatkan terjadinya keguguran pada janinnya. Di perkirakan kehamilan pasien berusia enam minggu. Namun setelah kami melakukan pemeriksaan secara menyeluruh tidak ada yang perlu di khawatirkan pada pasien karena tidak ada luka dalam. Dan pasien masih bisa hamil lagi" jelas dokter.


"Ini semua salah Rere" ucap Reina sambil terus menangis.


"Kalau begitu saya permisi, segera kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan" ucap dokter yang langsung meninggalkan seluruh keluarga yang nampak tengah terpukul.


"Oma, ayah sama nda pasti marah sama Rere hik… hik… hik…" Reina terus terisak mengingat semua yang baru di ucapkan dokter. "Rere udah buat adik Rere pergi"


"Sudah sayang. Semua ini takdir, kita tidak bisa menyalahkan siapapun yang terpenting nda selamat" ucap Wati sambil terus menenangkan Reina.


"Mbah uti, mbah kung. Maafin Rere" ucap Reina menghampiri Jumiasih dan Jaya.


Jumiasih langsung memeluk Reina. "Sudah lah nak semua memang sudah takdir. Mungkin memang belum rezeki kita semua" ucap Jumiasih sedangkan Jaya mengusap pucuk kepala Reina.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. Sejak tadi Yusuf menelpon Nissa namun ponselnya tidak aktif, akhirnya ia memutuskan menelpon Wati. Awalnya ia ingin langsung pulang ke rumah dan bertemu semua keluarga dirumah terutama istrinya. Namun ia di minta Wati untuk ke rumah sakit.


"Waalaikumsalam" jawab Jaya. "Sehat nak?" tanya Jaya.


"Alhamdulillah sehat pak"


"Sudah cepat masuk sana" perintah Jaya. Yusuf hanya mengangguk dan langsung membuka pintu.


"Assalamualaikum" salam Yusuf setelah membuka pintu.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang.


Reina yang melihat kedatangan Yusuf pun langsung menghambur ke pelukan Yusuf. "Ayah hik… hik… hik..." lagi, Reina terisak dalam pelukan Yusuf.


"Ada apa sayang? Anak ayah kok jadi cengeng" ucap Yusuf menggoda. Ia masih belum melihat siapa yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas brankar rumah sakit karena wajah Nissa tertutupi Jumiasih yang sedang duduk di pinggir brankar dan mengusap wajah Nissa berharap agar anaknya segera sadarkan diri.


Wati mendekat. Yusuf pun langsung mencium pipi bundanya. Wati pun langsung memeluk anak dan cucunya membuat Yusuf keheranan di buatnya. "Ini ada apa? Kok tiba-tiba pada meluk dan nangis?" heran Yusuf. Perasaannya jadi ikut kacau tiba-tiba.


Jumiasih berdiri dan langsung mendekati tiga orang yang tengah berpelukan. "Yang sabar ya nak" ucap Jumiasih sambil menepuk punggung Yusuf. Ucapan Jumiasih membuat Yusuf langsung mengangkat kepalanya yang tengah menunduk karena menenangkan Wati dan Reina.


Deg


Netranya langsung melihat jelas siapa orang yang tengah berbaring di atas brangkar dengan mata tertutup. Hati Yusuf terasa bergetar hebat. Kali ini bukan lagi getaran karena jatuh cinta atau rasa rindu. Melainkan rasa syok dan takut serta tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.


"Nissa" lirih Yusuf. Reina dan Wati langsung melepaskan pelukannya. Yusuf langsung mendekati Nissa, Yusuf menusuk pipi Nissa beberapa kali dengan jari telunjuknya seolah masih belum percaya dengan yang ia lihat. Berharap semua ini mimpi yang tak akan pernah jadi kenyataan.


Namun semua yang Yusuf harapkan sia-sia. Kenyataan yang ia harap mimpi ternyata benar adanya. Wanita yang sangat ia rindukan tengah terbaring tak sadarkan diri. Rasanya kaki sudah tak mampu menopang lagi. rasa rindu yang menggebu seketika berganti rasa takut yang menggetarkan raga.


"Apa yang terjadi bun?" tanya Yusuf lirih. Yusuf mencium pucuk kepala Nissa lalu memeluk istrinya. "Bangun sayang. Aku pulang" Bisik Yusuf tepat di telinga Nissa. Air matanya sudah tak mampu ia tahan lagi. Jatuh begitu saja meski sesungguhnya ia ingin sekali menahannya.


Merasa Nissa tetap tidak bangun setelah ia peluk dan cium beberapa kali. Yusuf membalikkan tubuhnya menghadap Jumiasih, Wati dan Reina. "Apa yang terjadi pada istri ku bunda, buk?" tanya Yusuf lagi. Nampak kilatan sedih dan amarah dari pancaran mata Yusuf secara bersamaan.


Reina yang melihat pertama kali raut wajah ayahnya seperti saat ini, membuat seluruh tubuhnya bergetar takut.


"Maaf ayah" lirih Reina nyaris tak terdengar.


bersambung...


terimakasih untuk hari ini 🥰


jangan lupa like atau komennya ya ❤️


selamat malam dan selamat beristirahat 😊


sampai ketemu besok pagi 😌


Ikuti juga novel terbaru ku ya 🥰