
Setelah selesai mata pelajaran kuliah Nissa langsung menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku dan akan mengambil buku yang akan ia pinjam lagi. Saat sedang terus mencari buku yang Nissa cari tak sengaja ia bertemu Reina.
"Nda"
"Eh Re… udah dari tadi disini?"
"Lumayan nda. Nda cari buku apa biar Rere bantu?" Tawar Reina.
"Ini bukunya" ucap Nissa yang langsung mengambil buku yang sejak tadi di cari. "Masih ada jam kuliah nggak Re?"
"Udah nggak ada nda"
"Ya udah kita pulang. Ayah mu udah otw kesini"
"Rere mau pulang ke rumah oma nda"
"Loh kenapa? Bosan ya dirumah sama aku"
"Bukan bosan. Rere justru senang jadi bisa belajar masak terus sama nda"
"Terus"
"Kasian ayah. Rere seminggu disana wajah ayah cemberut terus karena nda lebih banyak habisin waktu sama Rere" goda Reina.
"Rere…" ucap Nissa sambil menarik pipi Reina.
"Aw… sakit nda"
"Ya udah ayo biar sekalian kita antar ke rumah bunda"
"Nggak mau, Rere udah ditunggu sopir dari tadi. Bye nda…" ucap Reina yang langsung meninggalkan Nissa.
Nissa hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian Reina. Setelah selesai mengurus beberapa buku yang Nissa pinjam, ia pun langsung melangkah menuju ke gerbang utama kampus. Saat sedang berjalan, ponsel Nissa berdering tanda ada yang menelpon. Nissa pun langsung mengambil ponsel yang ada di tasnya.
"Nomor baru" gumam Nissa sambil mengernyitkan dahinya. Tanpa pikir panjang Nissa langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan seseorang dari sebrang sana.
"Halo" ucap Nissa sambil terus melangkah.
"Halo assalamualaikum…"
"Halo… kok nggak ada jawaban, mungkin salah sambung" ucap Nissa yang berniat akan mengakhiri panggilan tersebut.
"Halo…" ucap dari seberang sana.
Nissa yang mendengar suara dari ponselnya pun langsung mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Iya halo"
"Apa ini benar dengan Nissa. Zaskia Nissa Wardani"
"Iya. maaf ini siapa ya?"
"Kamu nggak perlu tau siapa aku tapi yang pasti aku tau semua tentang kamu"
"Lalu ada keperluan apa anda menelpon saya?"
"Tinggalkan Yusuf" ucap seseorang dari sebrang sana dengan tegas.
"Apa. Kenapa saya harus meninggalkan suami saya?"
"Suami! Aku tau kamu hanya anak kecil yang di jodohkan dengan Yusuf. kamu hanya penghalang untuk hubungan ku dengan Yusuf"
"Iya. Selama di Jakarta hubungan kami baik-baik saja. Tapi sejak Yusuf terpaksa menikahi mu, kamu menjadi benalu di antara kami"
"Benalu. Apa semua yang di ucapkan orang ini benar adanya. Tapi aku memang nggak tau apapun tentang om Yusuf kan. Apa lagi hidupnya selama di Jakarta" batin Nissa. Hatinya mulai goyah.
"Aku tau kalian tidak saling mencintai jadi aku harap kamu bisa meninggalkan Yusuf. Untuk apa bertahan dengan hubungan yang sama sekali tak ada cinta"
"Tapi aku mencintai suami ku" ucap nissa lirih namun masih terdengar jelas suaranya di sebrang sana.
"Lalu apa Yusuf mencintai mu?"
Deg
Nissa terdiam tak mampu menjawab pertanyaan yang di ajukan seseorang di sebrang sana. Ia membenarkan ucapan orang yang menelponnya. Karena selama ini Yusuf belum pernah mengungkapkan perasaannya. "Apa hubungan suami istri yang sudah seintim ini masih perlu ungkapan cinta? Apa selama ini om Yusuf melakukannya hanya karena nafsu" batin Nissa dengan memikirkan semua hal yang sudah terjadi di antara mereka.
"Karena kamu diam. Sudah ku pastikan Yusuf tidak mencintai mu dan yang pasti tidak akan pernah. Jadi cepat tinggalkan dia dan biarkan aku dan Yusuf bersatu tanpa ada penghalang" ucap seseorang dari sebrang dan langsung mengakhiri sambungan telepon. Kata-kata orang yang tak di kenal itu pun membuat Nissa melamun.
"Nissa…" panggil Yusuf sambil menepuk bahu Nissa.
"Om…"
"Om?" ucap yusuf mengernyitkan dahinya heran.
"Ehm… aku ingin pulang ke rumah ibu" ucap Nissa.
"Kenapa?"
"Yang pasti aku kangen bapak sama ibu juga Amira. Hanya dua malam mumpung aku libur kuliah 3 hari ke depan"
"Ok. say…" ucapan Yusuf terhenti saat Nissa melaluinya begitu saja. Yusuf pun langsung mengikuti Nissa yang lebih dulu memasuki mobil. Ia heran saat melihat Nissa duduk bersandar sambil memejamkan mata. Tanpa bertanya Yusuf pun langsung mengemudikan mobilnya.
Sudah hampir setengah jam tidak ada obrolan yang menggema di dalam mobil hanya suara kendaraan yang terdengar di telinga keduanya. Mobil masih terhenti saat lampu merah. Yusuf langsung menatap istrinya yang sejak tadi diam memejamkan mata. Yusuf membelai wajah Nissa. "Apa kamu tidur?" tanya Yusuf lirih.
Nissa yang sebenarnya sejak tadi hanya memejamkan mata pun masih mendengar jelas ucapan Yusuf. Namun ia merasa enggan membuka mata dan menanggapi Yusuf karena masih merasa kesal dengan ucapan penelpon tadi.
"Apa begitu melelahkan kuliah mu hari ini" ucap Yusuf yang langsung melajukan mobil karena lampu sudah berganti warna hijau.
Setengah jam kemudian mobil Yusuf sudah memasuki pekarangan rumah orang tua Nissa. Yusuf lebih dulu keluar mobil lalu berjalan membukakan pintu mobil untuk Nissa. Nissa yang sudah terlelap pun masih hanyut tak menyadari kalau mereka sudah sampai.
Yusuf yang menyadari Nissa terlelap pun langsung membuka seatbelt dan hendak mengangkat tubuh Nissa.
"Om mau apa?" tanya nissa dengan nada kerus saat merasakan tangan Yusuf akan menggendongnya.
"Aku mau mengangkat mu karena sejak tadi kamu terlihat nyenyak tidurnya"
"Awas aku bisa sendiri" ucap Nissa sambil mendorong tubuh Yusuf agar ia bisa keluar mobil.
Yusuf yang menyadari sikap Nissa yang tidak seperti biasanya pun langsung menutup pintu mobil dengan sedikit keras lalu menarik tangan Nissa.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰 tab favorit ❤️ follow akun author juga insha Allah di follback 👍
Mampir yuk