NISSA

NISSA
BAB 18 PANGGILAN SAYANG



Sekitar pukul 23.00 Yusuf baru saja pulang ke rumah. Setelah keluar dari mobil Yusuf segera memasuki rumah. Jelas rumah sudah sunyi senyap karena sudah hampir tengah malam. Yusuf pun langsung menaiki anak tangga. Sesampainya di depan pintu kamar Yusuf langsung membuka pintu dan mendorongnya.


"Aduh" pekik Nissa karena dahinya bertatap dengan pintu.


"Nissa, maaf maaf aku nggak sengaja" ucap Yusuf sambil melebarkan pintu setelah Nissa menyingkir dari belakang pintu. "Maaf ya"


"Iya nggak apa-apa om" ucap Nissa sambil menyentuh dahinya.


"Kamu kok belum tidur?"


"Belum ngantuk om. Om sudah makan?" tanyanya iseng.


"Sudah"


"Eemm… Nissa mau turun. Mau di buatkan sesuatu?" Ide brilian tiba-tiba menyala di kepala Nissa melancarkan aksi.


"Memangnya boleh?" tanya Yusuf ragu.


"Boleh lah apa salahnya saling membantu"


Yusuf mengangguk. "Tolong buatkan susu jahe sama di kasih madu" ucapnya.


"Siap" ucap Nissa yang langsung turun.


.


.


Setelah siap dengan 2 gelas susu Nissa pun langsung masuk ke kamar. Di lihatnya Yusuf tidak ada di ranjang dan tidak terdengar suara gemericik air. Nissa pun langsung ke balkon kamar.


"Ini om susunya" ucap Nissa sambil meletakkan 2 gelas susu.


"Terimakasih" ucap Yusuf yang hanya di balas dengan senyuman oleh Nissa.


Nissa berjalan ke pinggir pagar ia melihat ke atas langit. "Bagaimana cara ku membuat om Yusuf jatuh cinta pada ku? Apa aku bisa menggodanya dengan tubuh ku" batin Nissa nggak percaya diri. Dengan tak sengaja Nissa melepaskan ikat rambutnya membuat rambut hitam panjangnya tergerai indah. Tangannya sesekali pun memainkan rambutnya.


Yusuf dengan seksama menatap intens gadis yang memakai piyama satin berwarna hijau dengan lengan pendek dan celana setinggi lutut. Apa lagi melihat gadis itu menggeraikan rambutnya jiwa penasarannya pun ingin melihat wajah Nissa dengan rambut seindah itu.


Nissa mulai mengikat rambutnya lagi dan berbalik badan langsung duduk di salah satu kursi. Ia pun langsung meminum susu hingga tandas tak tersisa.


"Om Nissa tidur duluan ya" Nissa yang hendak melangkah pergi pun terhenti.


"Nissa"


"Iya om" Nissa pun berbalik menatap Yusuf.


"Jangan lupa kita harus ber…"


"Iya om, Nissa ingat kok kalau kita harus bersandiwara dan harus terlihat bahagia seperti Adam dan Luna. Om nggak usah khawatir" Yusuf hanya mengangguk.


"Tahan lah sebentar saja. Kita disini hanya 3 bulan setelah itu kita akan pindah ke rumah baru"


"Eh om beli rumah?"


"Lagi proses pembangunan Niss"


.


.


.


Keesokan paginya Nissa sudah siap dengan berpakaian celana jeans warna ungu dan sweater warna hitam tak lupa tas yang sudah di gendongannya. Sedangkan Yusuf sudah rapi dengan setelan jas. Mereka menuruni tangga secara bersamaan. Tanpa aba-aba Yusuf mengalungkan tangannya di pundak Nissa.


Nissa yang sudah faham mereka akan melakukan drama bak drama korea pun tak menolak perlakuan Yusuf. Dengan segenap hatinya Nissa menahan gejolak yang berbeda membuat tubuhnya bergetar karena merasa grogi. Namun sebisa mungkin Nissa tetap harus tenang.


"Pagi bunda" sapa Nissa dan Yusuf secara bersamaan.


"Pagi anak-anak bunda" ucap Wati. Sedang Adam dan Luna hanya melempar senyum melihat drama dua insan beda generasi itu yang kini terikat tali yang suci.


Yusuf menarik kursi dan mempersilahkan Nissa duduk.


Tak butuh waktu lama Nissa langsung melayani Yusuf bak istri terbaik. "Selamat makan om"


"Kok manggil suami sendiri om sih Nissa" celetuk Wati. Meskipun sudah hampir kepala empat, tapi kan anaknya masih terlihat muda.


"Iya ini mbak ipar gimana sih masak manggil mas ku yang ganteng ini di panggil om. Ya meski pun udah om om tapi dia masih kelihatan remaja baru gede" ucap Adam melebih-lebihkan.


"Terus Nissa harus panggil apa? Kakak, mas, abang?"


"Ya yang romantis dong Nissa" ucap Luna. Ikut jadi kompor juga sekarang si Luna.


"Cinta, sayang ayang, bebeb gitu?"


"Ya itu salah satunya kan bisa" ucap Adam.


"Ya sudah gimana kalau aku panggil ayang" ucap Nissa sambil menepuk lengan Yusuf lembut sambil memberikan usapan membuat debaran jantung Yusuf semakin kencang.


Yusuf yang sedang minum pun langsung tersedak dan batuk. Nissa pun spontan menepuk punggung Yusuf. "Udah enakan om?" tanya Nissa yang hanya di anggukan Yusuf.


"Jadi gimana mas?" tanya Adam.


"Apanya?"


"Panggilan kesayangan Nissa buat kamu mas"


"Om boleh Nissa panggil ayang?" tanya Nissa dengan suara lirih.


"Terserah kamu saja"


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰


Ikuti juga novel terbaru ku ya