NISSA

NISSA
BAB 81 HAPPY



Waktu sudah semakin berlalu, setiap momen adalah hal yang paling berharga bersama seluruh keluarga. Hari ini rumah Yusuf dan Nissa sudah di hias dengan banyaknya balon berwarna warni.


Hari ini adalah hari ulang tahun Zen yang pertama. Anak laki-laki itu kini sudah mulai belajar berdiri sejak satu bulan yang lalu. Zen semakin aktif, belum lagi celotehnya yang mampu membuat orang tertawa.


Wati, Adam, Luna dan Qia sudah sejak tadi datang di rumah Yusuf. sedangkan Reina sudah sejak satu minggu yang lalu di rumah Yusuf. Tak lupa juga dengan Jaya, Jumiasih dan Amira sudah terlihat bercengkrama dengan anak-anak yang sudah berkumpul.


Yusuf merayakan ulang tahun anaknya dengan acara syukuran bersama anak yatim piatu. Berharap doa yang di berikan oleh anak yatim piatu untuk Zen dan keluarganya akan di ijabah oleh sang pencipta.


Tak butuh waktu lama, acara pun di mulai dengan doa yang di pimpin ustadz yang mengajar ngaji di panti asuhan tersebut. Setelah seluruh acara selesai, kemudian semua yang hadir menikmati hidangan yang telah di sediakan.


Tak lupa juga membagikan rezeki yang sudah di masukkan ke dalam amplop berwarna putih. Hingga puncak acara selesai baru seluruh tamu yang telah di undang sudah mulai keluar meninggalkan acara.


.


.


.


"Ya Allah cucu mbah uti ini aktif banget" ucap Jumiasih yang langsung menggendong Zen karena melihat cucunya bertingkah sangat menggemaskan.


"Amira mau gendong mbah" rengek Amira. Kini ia sudah dengan jelas menyebut huruf R jadi sudah nggak cadel lagi. Betapa senang hati Amir jadi nggak di jahili Nissa lagi.


Jumiasih meletakkan Zen di pangkuan Amira. Namun Zen yang memang sangat aktif pun membuat Amira yang memang masih kecil tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya.


"Adek Zen, mbak mau gendong kok nggak mau diem" gerutu Amira.


"Adeknya sama mbah kung aja sini" ucap Jaya sambil mengambil Zen di gendongan Jumiasih. Ia langsung mengambil Zen dari pangkuan Amira.


"Ehh… mbah kung ini main rebut-rebut aja to" gerutu Jumiasih melihat Jaya membawa Zen keluar rumah.


Wati sedang menggendong Qia. Wati mencoba menidurkan cucunya dalam gendongannya. Karena Qia nampak sudah mengantuk. Sedangkan Luna, Adam, Yusuf, Nissa dan Reina sedang membantu asisten rumah tangga membereskan rumah. Setelah Qia lelap Wati pun langsung menuju kamar tamu untuk membaringkan Qia di sana.


"Sayang" Yusuf langsung memeluk Nissa dari belakang.


Nissa yang sedang fokus mencuci piring pun terkejut. "Astagfirullah ayy ngagetin tau" ucap Nissa sambil memukul tangan Yusuf pelan.


"Ayy ihh lepas lagi banyak orang, malu kalau ada yang lihat" ucap Nissa pelan karena Yusuf mencium lehernya. Nissa masih terus melanjutkan pekerjaannya.


"Sebentar aja" bisik Yusuf. Dan dengan masih nggak lihat keadaan, Yusuf membalik tubuh istrinya itu dan langsung mencecap bi*bir yang membuat candu. Hanya sebentar kok, kemudian Nissa melanjutkan pekerjaannya sedang Yusuf masih terus memeluknya.


"Ya ampun ayah, nda kalau mau mesra-mesraan di kamar dong. Nggak kasian apa sama yang jomblo" ucap Reina sambil membawa dua gelas kotor.


"Tadi di depan liat om sama tante lagi kejar-kejaran ngalah-ngalahin film in*dia romantisnya sekarang malah liat yang lebih ekstrim aduh mata suci ku ternoda" tambah Reina.


Yusuf tetap tidak melepaskan Nissa ia hanya menatap anak gadisnya yang tengah ngedumel karena kesal.


"Re, kalau senggang mau kan kamu tem…" ucapan Yusuf terhenti.


"Maaf ayah Rere potong. Saat ini Rere nggak mau di jodohin. Nanti kalau memang udah mentok bin mampet baru deh terpaksa" ucap Reina yang langsung duduk di kursi.


"Umur kamu sudah cukup kok untuk menikah nak" ucap Yusuf yang langsung merenggangkan pelukannya di tubuh Nissa. Akhirnya.


"Rere masih muda ayah."


"Nda kamu juga nikah sama ayah umurnya lebih muda dari kamu sekarang."


Nissa langsung mengeringkan tangannya dan langsung mencubit pinggang Yusuf.


"Awww…" pekik Yusuf. "Sakit sayang" ucapnya sambil menggosokkan tangannya pada area yang di cubit Nissa. Sedangkan Reina menertawakan ayahnya.


"Nah tu ada yang belain Rere pasti ini."


"Ayy… jangan paksa Rere. Kalau dia memang belum ingin menikah biarkan. Nanti juga pasti ada yang ia bawa pulang ke rumah untuk di kenakan ke kita."


"Nduk… ini Zen tidur bapak gendong" ucap Jaya yang memotong pembahasan orang yang berada di dapur.


"Aduh anak nda ini kalau udah sama mbah kungnya gampang banget tidur" ucap Nissa. Ia lalu mengambil Zen dari gendongan Jaya. Nissa lalu membawanya ke kamar.


Malam harinya Yusuf, Nissa dan Zen sudah berada di dalam kamar karena waktu memang sudah waktunya tidur. Zen tidur berada di antara Yusuf dan Nissa.


"Nggak kerasa Zen udah satu tahun aja" ucap Nissa sambil mengusap pipi Zen yang tengah meng-asi.


"Udah cocok punya adek lagi" celetuk Yusuf sambil membelai pucuk kepala Nissa dan terus menatap wajah istrinya.


Nissa spontan memukul tangan Yusuf pelan. "Adek!!! Zen masih asi ayy"


"Berarti kalau udah selesai ASI-nya boleh dong" goda Yusuf sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"Ayy ihh…" wajah Nissa mulai memerah karena malu. Nissa langsung membenarkan bajunya karena Zen sudah selesai asi.


Nissa turun dari atas ranjang menuju kamar mandi berniat membersihkan diri dan ganti dengan pakaian tidur.


"Ayy mau buang air" tanya Nissa saat ia akan menutup pintu dan ternyata Yusuf membuntutinya.


"Enggak."


"Terus ngapain kok ikutin aku kesini?" tanya Nissa. perempuan yang baru melahirkan satu anak itu mulai was-was.


"Mau nyicil sayang."


Kedua alis Nissa mencoba saling bertautan. "Nyicil apaan?" bingung juga Nissa sama maksud suaminya ini.


Yusuf maju melangkah mendekati Nissa. "Nyicil nyetak kuping" bisik Yusuf lalu memberikan kecupan disana.


.


.


.


Yusuf mencium kening Nissa setelah ia dengan mesranya menggendong Nissa ala pengantin baru. Lalu merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Lalu Yusuf juga mencium Zen setelah ikut merebahkan diri. sepasang pasutri itu tidur di samping Zen.


Yusuf menatap Nissa yang sejak tadi sudah menatap nya. "Kalian semua adalah surga. Terimakasih sayang" ucap Yusuf membelai pipi Nissa.


Nissa dan Yusuf bersama-sama mencium pipi Zen lalu mereka bertiga seolah sedang berpelukan. Kemudian Yusuf juga Nissa menyatukan kening mereka.


"Good night sayang" bisik Yusuf mesra.


"Mimpikan aku ya ayy" ucap Nissa nggak kalah gombal dia sekarang. Kemudian Nissa tersenyum manis. Yusuf yang gemas memajukan wajahnya pada nissa.


"Ayy mau apa?" pekik Nissa lirih takut membangunkan anaknya.


"Kecup doang sayang" ucap Yusuf dan langsung mengecup istrinya.


Hingga tanpa terasa mereka pun terlelap dalam mimpi.


...THE END...


Selamat pagi sayang kesayangan🥰 kita sudah berada di puncak cerita dan memang hanya ini yang bisa saya suguhkan😌 Awalnya saya ingin sedikit mengulur waktu namun otak mampet saya ini berkata tidak. Saya nggak bisa bikin cerita dadakan karna ngurus satu bab aja bisa seharian mikir kalau lagi buntu 🙏Ceritanya tetap nggak bisa saya ulur-ulur biar kalian nggak merasa saya PHPin😀


Maaf ya kalau endingnya nggak sesuai ekspektasi 😓


Terimakasih untuk semua sayang kesayangan yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Maaf karna cerita ini nggak sempurna apalagi tulisan yang masih amburadul 😓


like dan komen kalian semua sungguh jadi vitamin buat saya😊


Silahkan yang mau menuangkan keluh kesahnya selama membaca karya saya ini. sebisa mungkin akan saya tanggapi semua kritik dan saran dari temen-temen semua disini😊


Semoga ini bukan kebersamaan kita yang terakhir ya. dan saya harap sayang kesayangan disini masih mau mengikuti karya terbaru saja "HUJAN, Beri Aku Cinta". Mohon dukungannya ya 🥰



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️