NISSA

NISSA
BAB 76 PILIH SALAH SATU



Sesampainya di rumah sakit, Nissa langsung di larikan ke UGD. Tak berselang lama Nissa di pindahkan ke ruang persalinan untuk di lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tubuh Yusuf bergetar sejak awal melihat Nissa tak sadarkan diri sedangkan darah segar banyak keluar dari pangkal pahanya. Saat ini baju dan sarungnya sudah banyak terkena darah karena menggendong Nissa. Meskipun tubuhnya lemas dan bergetar ia masih berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengangkat Nissa dan sesegera mungkin membawanya ke rumah sakit.


"Bagaimana dokter?" tanya Yusuf yang langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kami harus melakukan operasi secepat mungkin karena detak jantung janinnya semakin melemah dan keadaan vital ibunya pun semakin turun karena perdarahan" terang dokter.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri dan anak saya dok" pinta Yusuf. Dokter yang memeriksa Nissa adalah salah satu dokter yang selalu memeriksa kehamilan Nissa.


"Maaf pak kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan salah satu nyawa"


"Apa maksudnya dok?" pekik Yusuf tak terima mendengar keterangan dokter.


"keduanya dalam keadaan sangat lemah pak kami harus memprioritaskan salah satunya"


Yusuf terdiam mengingat ucapan Nissa sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. Yusuf menghela nafas dalam dalam. "Tolong usahakan selamatkan keduanya dok…" pinta Yusuf. "Namun jika memang ada yang harus mengalah, tolong selamatkan istri saya dokter" tambah Yusuf lirih dengan suara bergetar namun masih di dengar dokter dengan baik. Susah dan senang memang harus dilalui semua pasangan suami istri, maka Yusuf lebih memilih istrinya yang kini telah mendampinginya dan mau hidup bersamanya.


Konsekuensinya akan Yusuf tanggung nantinya termasuk amarah Nissa. Entah benar atau salah, entah egois atau tidak namun nyatanya itulah keputusan yang diambil Yusuf.


"Baik pak! Teruslah berdoa" ucap dokter kemudian pergi meninggalkan Yusuf.


"Maafkan ayah nak jika ayah lebih memilih bunda sayang" gumam Yusuf lalu tubuhnya merosot ke lantai.


.


.


.


Semua keluarga sudah berada di rumah sakit. Setelah mengurus semua berkas Yusuf langsung menelpon ke rumah bundanya, Wati. Dan juga mengabari mertuanya. Yusuf sudah berganti baju dengan pakaian yang di bawakan Wati.


"Nissa…" lirih Jumiasih yang sejak tadi tak mampu menahan air matanya. Jaya terus menangkan istrinya dengan menepuk punggung Jumiasih.


"Istighfar bu… kita doakan semoga anak dan cucu kita selamat" ucap Jaya.


Yusuf sendiri sejak tadi hanya diam membisu menatap pintu ruang operasi yang sudah satu jam lebih belum juga terbuka.


Tak lama kemudian seseorang keluar mendorong box bayi. Yusuf langsung berdiri menghampiri suster.


"Suster" panggil Yusuf.


"Permisi pak saya akan membawa anak bapak ke ruangan bayi karena harus mendapatkan perawatan intensif" ucap suster yang langsung pergi dan di ikuti Yusuf, Wati dan juga Reina.


Setelah beberapa menit suster yang membawa anak Yusuf tadi keluar dan menghampiri Yusuf sekeluarga.


"Kalau bapak mau mengadzani anak bapak silahkan masuk kedalam pak' tambahnya lagi.


"Baik sus" lirih Yusuf.


Setelah mengadzani anaknya, Yusuf langsung kembali ke ruang tunggu dimana Nissa operasi.


"Bapak" panggil Yusuf.


Jaya yang paham pun langsung menjawab. "Belum keluar nak. Kita tunggu dulu mungkin sebentar lagi"


Yusuf langsung duduk di kursi. Tubuhnya terasa lemas mengingat ucapan dokter jika memang hanya salah satu yang dapat di selamatkan. Beberapa menit yang lalu iya menyentuh tubuh mungil dan mengadzaninya.


"Ya Allah apa hamba egois jika berharap istri hamba selamat, biarkan ia bertahan untuk kami setidaknya biarkan anak kami merasakan kasih sayang ibunya ya Allah. Hamba sungguh tidak ingin apa yang di rasakan anak hamba Rere pun di rasakan anak kami yang baru saja lahir" Yusuf terus merapalkan doa di dalam hati.


.


.


.


Tanpa terasa satu minggu sudah berlalu, dengan jejak air mata yang selalu membasahi pipi Yusuf tanpa di ketahui orang terdekatnya. Sedangkan anak laki-laki yang dilahirkan Nissa satu minggu yang lalu sudah memiliki kemajuan pesat. Kesehatannya sudah mulai normal.


Hari ini Yusuf kembali ke sebuah pemakaman seorang diri. Meski cuaca buruk karena sejak tadi pagi hujan namun tak mengurungkan niatnya untuk datang ke peristirahatan terakhir manusia. Yusuf menaburkan bunga yang ia bawa di atas tanah yang basah. Ia langsung membaca doa dengan sesekali mengusap air matanya yang jatuh tanpa bisa ia cegah.


"Nissa…" gumam Yusuf.


Bersambung...


Selamat pagi dan selamat beraktifitas


jangan lupa tinggalkan jejak ya kasih like dan komen buat author pecinta gaya rebahan😂


jangan lupa mampir di karya baru author ya🥰


HUJAN, Beri Aku Cinta



thinkiss all 💋💋💋