
"Maaf kan Rere ayah" suara Reina terdengar bergetar karena rasa takut akan kemarahan Yusuf dan rasa bersalah akan semua kejadian.
"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Yusuf sambil menatap kedua perempuan paruh baya dan satu gadis.
Wati menghampiri Yusuf menuntun Yusuf untuk duduk di sofa. "Kita duduk semua biar lebih enak ceritanya" ucap wati mengajak anaknya ikut serta duduk di sofa.
Setelah semua orang duduk di sofa Yusuf langsung menghela nafas kasar. "Ceritakan bun, Yusuf ingin tahu" ucap Yusuf tidak sabar mendengarkan penjelasan semua orang.
"Sabar nak" ucap Jumiasih mencoba menenangkan semua orang. "Istighfar" tambahnya lagi.
"Siang tadi setelah Nissa dan Rere pulang kuliah, mereka langsung ke rumah sakit melihat Luna dan baby" ucap Wati mencoba memulai cerita. "Tak berapa lama sampai ke ruangan Rere ke indoma*rt membeli sesuatu sendiri. Sedangkan Nissa yang awalnya sedang di kamar mandi, mengetahui Rere keluar ia berniat menyusul Rere karena ingin membeli es degan, aneh bukan dia sangat menginginkan sekali es degan itu” ucap Wati sambil menyeka air matanya yang mulai membasahi pipi. Ia sendiri merasa bersalah karena telah mengabaikan Nissa padahal ia sudah berfikir jika Nissa tengah hamil.
"Rere nggak tau kalau nda nyusul rere yah" Reina menarik nafas. Ia tetap menunduk tak berani bersitatap dengan ayahnya. "Tadi jalan nampak sepi. Rere nggak tengok kiri kanan waktu mau nyebrang hik… hik… hik… Rere pake headset dengerin lagu sambil nyebrang. Mungkin nda lihat bapak-bapak tadi nelakson Rere tapi rere nggak denger jadi nda nolongin Rere" jelas reina sambil terisak dalam pelukan Wati.
"Gara-gara Rere adik jadi nggak ada" tambah Reina.
"Adik?" lirih Yusuf menatap Reina bingung.
"Nissa keguguran nak" ucap Wati.
Deg
Jantung Yusuf berdetak. Syok akan penjelasan yang ia terima saat ini. Buah hati yang selama ini mereka nanti telah tiada sebelum lahir ke dunia ini bahkan sebelum ia mengetahui kalau istrinya tengah mengandung buah cinta mereka berdua.
"Nissa hamil, di perkirakan usia nya enam minggu" tambah Jumiasih yang mulai terisak lagi.
"Maaf kan Rere ayah. Ini semua salah Rere" ucap Reina sambil terus menundukkan wajahnya.
"Ini juga salah bunda. Sejak kemarin bunda sudah curiga kalau Nissa tengah hamil tapi…" Wati menghela nafas merasakan sesak di dalam dadanya.."Bunda terlalu fokus akan kelahiran baby" lirih Wati. "Kalau saja bunda segera mengikuti kata hati bunda mungkin ini semua tidak akan terjadi"
"Bapak itu, siapa dia?" tanya Yusuf penasaran.
"Ayah maafin Rere"
"Bunda yang salah"
Yusuf menghela nafas kasar. Terasa frustasi dengan keadaan yang mengejutkannya. "Sudahlah tidak ada yang perlu disalahkan. Mungkin memang belum rezeki kita semua" ucap Yusuf lirih, begitu menyayat hatinya karena penantian yang mereka tunggu harus pergi untuk selamanya.
"Sabar nak, nanti kalian pasti di kasih amanah lagi" ucap Jumiasih sambil menepuk bahu Yusuf.
Yusuf menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sedangkan Reina langsung menghambur ke pelukan Yusuf menangis sesenggukan menyesali atas apa yang telah terjadi.
"Maafkan Rere ayah" ucap Reina yang terus saja terisak.
"Sudah, kita harus ikhlas sayang" ucap Yusuf sambil menepuk punggung anak gadisnya itu. "Lain kali jangan gunakan headset saat di jalan, selalu hati-hati. Tambah Yusuf mengingatkan.
Sedari dulu memang Wati selalu memberi tahu agar selalu fokus pada jalan di saat sedang dalam berkendaraan mau pun jalan kaki. terutama di jalan raya karena terdapat banyak nya kendaraan lalu lalang. keselamatan itu penting.
Reina mengangguk paham.
Bersambung...
pendek banget part ini mohon maaf ya🙏
selamat menjalankan aktivitas hari ini 💪💪💪
sampai jumpa nanti siang 🥰👋👋👋
Ikuti juga novel terbaru ku ya 😊