
Nissa langsung memasuki kamarnya. Ia melihat Yusuf sedang duduk di sofa dan fokus pada tabletnya. Nissa langsung masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Tak sampai lima belas menit ia keluar dengan gaun tidur yang seksi namun tidak transparan. Perkara tadi pagi, hingga kini Nissa masih saja irit bicara pada Yusuf. Ceritanya sih ngambek.
Yusuf melihat dari ujung netranya, nampak Nissa menaiki ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Yusuf pun langsung mematikan layar tabletnya dan meletakkan di atas meja. Ia menuju kamar mandi sebentar lalu ikut menyusul Nissa yang sudah Nampak memejamkan matanya. Yusuf tahu bahwa Nissa sebenarnya masih terjaga namun ia seolah mengira Nissa sudah lelap.
Dengan sengaja Yusuf menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Seketika gaun coklat itu Nampak cerah di kulit putih istrinya.
"Cantik meskipun sudah tidur" ucap Yusuf lalu menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Kemudian Yusuf memberikan kecupan di kening, kedua mata, kedua pipi, lalu hidung dan terakhir di bibirnya. Bukan Yusuf namanya kalau nggak memanfaatkan kesempatan yang sangat langka ini. Mumpung Zen ada yang jaga.
Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di samping Nissa sampai tak berjarak. Yusuf memeluk tubuh Nissa posesif. Membuat Nissa ingin sekali memukul tangan suaminya namun urung karena ia masih dalam mode tidur. Lagi ngambek ya harus maksimal aktingnya.
Awalnya Yusuf hanya memeluk saja, namun lama-lama tangan Yusuf terasa mulai nakal mengabsen setiap inci tubuh istrinya.
Dengan mulai kurang ajarnya Yusuf menurunkan lengan gaun Nissa sehingga dapat menampakkan salah satu hal favorit Yusuf. Mulut Yusuf langsung bermain pro dan tangannya mengusap pa*ha nissa dengan lembut. Skinship tipis-tipis mana mungkin Yusuf puaskan.
Tubuh Nissa seketika merasa tegang. Ia menahan belaian memabukkan yang di lakukan Yusuf. sekuat mungkin ia menggigit bibirnya, menahan lenguhan yang ingin sekali ia lepaskan. Jantungnya berdetak dengan cepat. Nafasnya terasa berat dan tubuhnya yang ia harap berpihak padanya, malah dengan spontan bergetar dan menggeliat merespon setiap sentuhan yang begitu lembut.
"Ehhh… ayy…" akhirnya lolos juga lenguhan Nissa. Membuat Yusuf tersenyum penuh kemenangan karena telah membuat istrinya bergetar hebat.
Yusuf langsung mendongakkan wajahnya menatap Nissa yang tersorot kabut gairah di matanya. "Maaf sayang aku ganggu kamu ya?" ucap Yusuf sesal. Bohong, dalam hatinya kini sangatlah bahagia.
"Udah tau tidur masih aja di ciumin di kenyotin di grayangin" kesal Nissa tanpa sadar.
Emang mulut Nissa suka asal ceplos aja kalau sudah berurusan sama Yusuf yang hobby banget mainin Nissa.
"Jadi sayang tahu juga aku cium sayang?" tanya Yusuf telak membuat wajah nissa pias. Sadar kalau ucapannya kebablasan.
"Eh… itu… ayy, aku…" guguplah sudah.
"Jadi dari tadi sudah menikmati semuanya ya?" goda Yusuf senang.
..."Iya… eh enggak… maksud aku…" kok jadi ribet gini sih...
"Jangan ngambek lagi ya sayang. Aku nggak suka kamu diemin, kamu acuhin kaya tadi" ucap Yusuf. "Aku suka sayang cemburu tapi kalau jadi cemburu buta yang akhirnya bikin sayang jauhi aku kaya tadi, aku bener- bener nggak bisa" tambah Yusuf lagi.
"Maaf ya ayy… aku bikin ayy sedih" lirih Nissa menghambur ke pelukan Yusuf.
Yusuf tersenyum menyeringai. "Kena kamu istriku" batin Yusuf. "Iya sayang. Oh iya Zen tidur sama Rere?"
"Iya ayy… katanya dia lagi kangen"
"Ooohhh…" Yusuf langsung turun dari ranjang dan mematikan lampu utama kamar mereka menyisakan lampu temaram.
"Ayo tidur sayang. Mumpung Zen sama Rere kita harus cukup istirahat, good night sayang" ucap yusuf lalu mencium kening Nissa dan langsung merebahkan dirinya menutupi tubuhnya dengan selimut.
Yusuf masih tersenyum licik dengan pikirannya sendiri. "Kita lihat saja siapa yang akan menang. Ini hukuman mu sudah sok marah sama suami mu ini" batin Yusuf.
"Hah… gitu doang!" batin Nissa ikut merebahkan diri. Iya menatap Yusuf yang telah memejamkan mata.
"Ayy…" panggil Nissa. Nggak tahan juga akhirnya.
"Hemmm…"
"Ayy…"
"Hemmm..."
"Isshh… ayyy…"
"Iya sayang" ucap Yusuf sambil melihat istrinya.
"Ehm… itu… emmm… anu…"
"Itu anu apa?" tanya Yusuf sok nggak paham padahal di dalam hatinya sudah bersorak riang gembira karena bendera kemenangan akan segera berkibar.
"Aku mau?" lirih Nissa.
Nissa langsung bangun dan duduk di atas perut Yusuf dan dengan cepat ia bergerak cepat mencecap bibir suaminya dengan penuh hasrat. "Masa bodoh dengan rasa malu, dia suami ku ini" batin Nissa sambil mencumbu suaminya.
Yusuf tak ingin kalah agresif dari Nissa ia pun langsung mengimbangi permainan istrinya yang sudah liar. Sepertinya Nissa sudah tertular kemesuman suaminya.
"Aku mau ayy" ucap nissa dengan nafas tersengal setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Mumpung Zen sama Rere" tambahnya lagi.
Mereka memang sering melakukan hubungan suami istri namun harus pintar mencuri-curi waktu. Sehingga mereka kurang menikmati momen kemesraan inti mereka.
Namun hal itu malah lucu menurut pasangan suami istri itu. Hal langka yang akan jadi kenangan nantinya.
"Tiga ronde" celetuk Yusuf.
"Hah!"
"Masih kurang?" tanya Yusuf jahil.
"Kemaruk banget sih Ayy" Ucap Nissa sambil mencubit perut suaminya.
"Mumpung Zen sama Rere sayang" ucap Yusuf sambil membelai wajah Nissa. "Aku mau tiga ronde"
"Aku milikmu seutuhnya" bisik Nissa sensual.
.
.
.
Tok...
Tok...
Tok...
"Ayah... Nda..." Reina mengetuk pintu sambil teriak kesal karena tumben-tumbenan pukul 05.30 Yusuf dan Nissa belum keluar kamar.
Nissa yang mendengar suara ketukan dan teriakan Reina pun langsung terbangun karena terkejut. Nissa melihat jam yang ada didinding kamar mereka.
"Astaghfirullah kesiangan. Ayy... Ayy... Bangun. Udah jam setengah enam kita belum subuhan" ucap Nissa sambil memakai gaun tidurnya.
Yusuf yang terkejut mendengar jam berapa sekarang ia langsung bangun memakai sarungnya dan lari ke kamar mandi lebih dulu.
"Nda baru bangun?" tanya Reina setelah Nissa membukakan pintu.
"Iya. Zen belum bangun?"
"Udah. Rere ganti Pampers terus ajak mainan sebentar eh bayi tidur lagi abis Rere kasih susu. Nda belum solat kan?" Nissa mengangguk."Ya udah sana solat dulu udah kesiangan nih" ucap Reina.
Reina Langsung menuju kamarnya lagi setelah Nissa menutup pintu. "Dasar ayah pasti ngerjain Nda semalaman Sampek merah semua lehernya" gumam Reina bergidik ngerti. Merinding.
"Apa nanti aku juga bakal kaya gitu sama suami ku?" tanya Reina pada diri sendiri. Dan sedetik itu juga Reina menepuk jidatnya sendiri.
"Astaghfirullah ngomong apa aku. Dasar ya orang tua ku itu bikin otak suci ku ternoda di pagi yang cerah ini" ucap Reina sambil membuka jendela kamarnya.
Bersambung...
Maaf ya baru Update 🙏
Jangan lupa mampir di novel ku yang baru
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Setuju nggak kalau kisah cintanya Reina dibuatin judul sendiri 😀😀😀 Aku udah kepikiran buat bikin kisah Reina tapi belum tahu kapan mau bergelut jari ini di laptop karna sekarang masih fokus sama kisahnya Zantisya dan Arjuno 🥰