
Keesokan harinya mereka sudah siap berangkat pulang ke rumah. Namun sebelumnya mereka menyempatkan diri untuk singgah ke kediaman Wati. Setelah memasuki pekarangan rumah, Yusuf langsung memasukan mobilnya ke garasi.
"Alhamdulillah anak-anak bunda sudah datang" ucap Wati sambil memeluk anak dan menantunya setelah berucap salam.
"Pada kemana bun? Kok sepi" tanya Yusuf sambil menelusuri setiap sudut ruangan.
"Sepi apanya sih Ayy… Noh rame banget di lantai atas" celetuk Nissa. "Agaknya perlu di bawa ke THT ini laki ku" gerutu Nissa sambil melangkah menuju lantai dua bersama Wati.
Wati yang mendengarkan gerutuan nissa hanya tersenyum. Sedang Yusuf mengikuti langkah kedua wanita kesayangannya.
Sesampai di lantai dua Nissa langsung menghampiri Luna yang tengah memangku baby Qia.
"Minggir" usir Nissa sambil memukul lengan Adam.
"Ya Allah aku punya mbak ipar satu ini hobinya ngusir free mukul orang" ucap Adam yang langsung berdiri dan pindah duduk. Membiarkan Nissa duduk bersama Luna.
Nissa abai dengan ocehan Adam. "Uluh-uluh makin gembul aja ini anak Nda" ucap Nissa yang langsung mengambil alih Qia dari Luna. Sedangkan baby Qia terus berceloteh membuat Nissa merasa gemas sendiri sampai mengigit pelan pipi gembul Qia.
"Iya dong nda, Qia kan mamam banyak" ucap Luna seolah mengikuti suara anak kecil yang terdengar imut.
"Weh anak ku jangan di gigitin" celetuk Adam was-was melihat anaknya yang terus di gigit Nissa.
"Dah lah ku bawa pulang aja. Ayo Ayy" ajak Nissa.
"Makanya cepet punya anak sendiri" celutuk Adam tak sengaja yang langsung mendapatkan pelototan Luna. "Upsss…" Adam menutupi mulutnya yang terlalu frontal berucap dengan telapak tangannya. Sepertinya mulutnya kini harus di beri ilmu perfilteran.
"Om ih asal banget ngomong. Filter dikit kenapa" ucap Reina kesal. Apalagi semenjak Nissa keguguran, Reina bersikap tak enak hati pada Nissa. Padahal Nissa bersikap seperti biasanya. Karena memang bukan salah siapa-siapa. Kalau memang belum dikehendaki kita bisa apa.
"Gak apa-apa Re, nanti kalau adik mu lahir juga Nda mu nggak akan nyulik Qia lagi" ucap Yusuf sambil merangkul pundak Nissa. sangat nampak jelas rona bahagia di wajah keduanya.
"Maksud Ayah?" tanya Reina mewakili semua orang yang tengah penasaran juga.
"Nda hamil" ucap Yusuf sambil mengelus perut Nissa.
"Alhamdulillah" ucap syukur semua orang.
"Beneran Nda?" tanya Reina yang sedikit belum percaya. Nissa langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nissa sadar kenapa Reina begitu menjaga perasaan Nissa soal kehamilan karena ia masih saja merasa bersalah atas kejadian beberapa bulan lalu.
"Alhamdulillah" ucap syukur Reina lagi yang langsung memeluk Nissa yang tengah menggendong Qia.
Yusuf langsung mengambil alih Qia dari tangan Nissa. Wati pun langsung ikut memeluk Nissa dan Reina.
"Alhamdulillah bunda sangat bahagia. Semoga kalian berdua sehat sampai dia lahir" ucap Wati sambil mengusap perut Nissa yang masih sangat rata.
"Aamiin…" ucap Nissa dalam hati. Setelah melihat rona bahagia dari orang tuanya kini Nissa melihatnya lagi di keluarga dari suaminya ini. Membuat hatinya menghangat.
"Selamat ya Nis” ucap Adam. Bukannya bersalaman mereka berdua malah mengepalkan tangan kanan mereka dan saling menonjokkan di lengan mereka. Tanpa sungkan karena memang sudah terbiasa.
"Thanks adik ipar"
"Nissa selamat ya semoga kalian berdua selalu sehat sampai lahiran nanti" ucap Luna sambil bergantian memeluk Nissa.
Yusuf sudah memangku Qia dengan duduk di sofa single. "Lucu kali ya kalau punya anak gadis lagi" celetuk Yusuf sambil mencium pipi Qia.
"No Ayah, Rere pengen adik laki-laki" Reina yang sudah memiliki Qia kini Ia jadi ingin adik laki-laki dong.
"Perempuan Re"
"Laki-laki ayah" ngengkel Reina. pastilah Reina harus menang.
"Perempuan" jelas Yusuf nggak pernah mau kalah.
"Sudah sudah ini kok Ayah sama anak sama aja. Perempuan atau laki-laki gak apa-apa yang penting Nissa dan bayinya sehat selamat sampai lahiran" ucap Wati menengahi anak dan cucunya. Pusing sendiri Wati melihat tingkah anak dan cucunya kekanak-kanakan. Apalagi Yusuf.
"Taruhan yah. Kalau adik sampai laki-laki ayah bolehin Rere pacaran" ini sih maunya Reina yang jones aja.
"Mau laki-laki atau perempuan rere nggak boleh pacaran" ucap Yusuf tegas. Ia memang masih merasa takut jika suatu saat nanti apa yang pernah terjadi pada Reina akan terulang lagi.
"Rere nggak mau ya ayah kalau harus di jodohin" ucap Reina dengan penuh tekanan.
"Ayah dan Nda juga di jodohin buktinya kami bahagia" bela Yusuf. Ia mencoba memberikan bukti real yang tidak mungkin bisa di bantah lagi. Itu harapannya.
"Itu karena ayah dan nda sama-sama bertemu dengan orang yang tepat. Rere nggak mau bernasib rumah tangga kaya temen rere" ucap reina. Beberapa bulan lalu teman Reina memang ada yang di jodohkan, umur pernikahan yang baru seumur jagung harus kandas karena perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga. Kan ngeri sendiri Reina membayangkan kalau itu terjadi pada dirinya juga.
"Sudah Ayy… Rere berhak menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya. Yang penting kita tetap memantau dan mengetahui keluarga orang yang akan di pilih Rere" ucap Nissa menghentikan bibir Yusuf yang hendak berucap lagi. Mana mungkin dia pasrah saja saat ucapannya di bantah.
"Bener yang di bilang Nissa nak" ucap Wati menepuk punggung Yusuf. Yusuf hanya mampu menghela nafas.
Pas. Apa ini definisi sahabat sefrekuensi.
.
.
.
Setelah makan siang, Nissa mengajak Yusuf istirahat sejenak dikamar mereka.
"Aku mandi dulu ya sayang" rengek Yusuf yang melihat betapa segarnya tubuh Nissa keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
Nissa menggelengkan kepalanya kekeh dengan keinginannya sambil melangkah mendekati Yusuf yang tengah berbaring di atas ranjang.
"Sayang" Yusuf menghentikan tangan Nissa yang akan membuka kancing kemeja selanjutnya. "Nggak enak lah kalau kita begituan saat badan aku nggak seseger kamu" tutur Yusuf menatap sang istri. Menebak apa yang sedang sang istri ingin kan.
Nissa terus melanjutkan membuka kancing baju lalu meminta Yusuf melepas kemeja dan kaos dalamnya. Tentu saja Yusuf dengan semangat empat limanya menuruti perintah istrinya dengan suka cita.
"Tidur sayang" perintah Nissa. Yusuf langsung merebahkan lagi tubuhnya di atas kasur empuknya. Dan detik itu juga Nissa ikut tidur berbantal lengan suaminya dan menelusupkan wajahnya di ketiak suaminya. "Segarnya-" gumam Nissa Mencium Aroma tubuh suaminya. Ibu hamil emang suka aneh-aneh.
Yusuf tersenyum menyeringai merasakan pelukan erat istrinya yang semakin kuat. Yusuf memiringkan posisi tubuhnya membuat wajah Nissa menelusup ke dadanya.
Tangan Yusuf Sudah mulai Pro aktif. Membuka tali bathrobe yang di pakai istrinya dan langsung membelai punggung istrinya sensual.
Plak...
Nissa memukul punggung Yusuf pelan. "Ayy aku tu ngajak tidur siang bukan ngajakin yang itu-itu" sewot Nissa menahan gejolak dirinya yang tidak ingin ia bangkitkan. Kan niat awal dia Cuma mau tidur siang sambil menghirup aroma tubuh suaminya.
"Suruh siapa mengundang. Aku kan jadi 'on'"
Nissa yang tidak terima tuduhan suaminya pun langsung mendongakkan wajahnya menatap suaminya yang entah sejak kapan menatap ke arahnya. "Aku nggak mengundang ayy ya".
Namun kesempatan itu di manfaatkan untuk melahap Bibir yang tengah membela diri dan langsung menjepit tubuh istrinya dalam Kungkungan.
Nissa yang sudah terpengaruh mulai meraba dada Yusuf keasikan. Tangan Yusuf yang sudah mengabsen keelokan bentuk istrinya, Terus memberikan sentuhan sensual sehingga Suara yang ingin keluar dari bibir Nissa tertahan oleh pagutan dalam yang mereka lakukan.
Nissa mendorong tubuh Yusuf karena merasa engap juga. Namun bukan Yusuf jika akan berhenti begitu saja, ia langsung mengabsen leher jenjang istrinya dan membuat tato disana membuat Nissa mendesah pasrah. Dan...
Tok...
Tok...
Tok...
Seketika keduanya berhenti sejenak dengan aktivitas mereka. Awalnya Yusuf dan Nissa tidak ingin menanggapi pengganggu saat momen krusial seperti ini tapi semua gagal.
"Non... Non Nissa"
Nissa yang mendengar suara Mak Ipah pun langsung mendorong Yusuf hingga terduduk. Dan Nissa langsung turun dari ranjang memungut bathrobe yang di lempar suaminya tadi dan langsung memakainya.
"Ini non" mak Ipah memberikan bungkusan plastik putih pada Nissa setelah pintu terbuka.
"Terimakasih Mak"
"Sama-sama, nanti kalau pengen sesuatu bilang sama Mak ya non" Nissa mengangguk. "Mak turun ya"
Nissa langsung menutup pintu setelah Mak Ipah beranjak. "mau ayy?" tawar Nissa.
"Apa itu sayang" suara Yusuf terdengar serak.
"Sempol" jawab Nissa sambil menggigit Sempol yang sudah Nissa campur dengan saos. Dengan tanpa dosa Nissa berdiri di depan suaminya.
Yusuf tercengang. Bagaimana tidak, disaat puncak membara seperti tadi seketika langsung buyar hanya karena 'sempol'. Membuat Juniornya menciut lemes seketika dan meninggalkan kepala cenut-cenutan.
Bersambung...
Siang nanti saya mau otw nyebrang kembali ketanah rantau mengais diamond 😀 doakan selamat sampai tujuan ya sayang kesayangan ❤️❤️❤️
Jangan lupa follow akun saya ya😘 kasih like dan komennya juga🥰 yang penting lagi klik favorit biar nggak ketinggalan saat sudah update 😊
Ikuti juga novel terbaru ku ya 🥰