NISSA

NISSA
BAB 31 RUMAH BARU



Semua keluarga ikut mengantar yusuf dan nissa kerumah barunya. Rumah mewah itu memiliki halaman yang cukup luas dan Nampak asri dengan tanaman hijau yang terlihat tumbuh subur. Setelah bercengkrama sebentar. Wati dan yang lainnya langsung pulang tanpa melihat keseluruhan ruangan. begitu pun dengan jaya dan jumiasih.


“nanti sore ada satu art yang akan bekerja disini” ucap yusuf sambil melangkah memberi tahu kamar yang akan di tempati art. “ini kamarnya. Karna nanti siang aku harus ke kantor. kalau sekiranya kurang art nya kamu tambah saja lagi” ucap yusuf sedang nissa terus menganggukkan kepala dan terus mengikuti langkah yusuf.


“itu dua kamar tamu” ucap yusuf sambil menunjuk dua pintu “disana ruang kelurga dan di sana ruang kerja ku” ucap yusuf yang hanya asal menunjuk lalu melangkah naik ke atas.


“di sana kamar rere jika suatu saat dia akan menginap atau bahkan ikut tinggal disini” ucup yusuf sambil berbalik ingin melangkah ke ruang selanjutnya.


“dua pintu itu ruangan apa?” tanya nissa sambil menunjuk.


“itu kamar anak – anak” jawab yusuf. Sedang wajah nissa terlihat berubah bersemu malu mendengar jawaban yusuf. “siapa tau nanti anak anak adam akan menginap disini” jawab yusuf dan berlalu begitu saja. Sedangkan nissa Nampak raut wajah yang entah apa artinya dengan senyum seringainya.


“ini kamar kita. Ehmm… maksud ku ini kamar ku” ucap yusuf.


Nissa menatap kagum dengan kamar yang sangat luas seperti lapangan bola. “terus kamar ku dimana om?”


Yusuf berjalan dan membuka sebuah ruangan “ini ruangan ganti kita dan kamar mandi ada disini” ucap yusuf lalu ia menggeser sebuah pintu lebih tepatnya terlihat seperti dinding yang Nampak seperti ruangan rahasia. “ini kamar mu”.


Ruangan kecil itu hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup besar, meja belajar, sebuah sofa dan tv. Nissa menatap yusuf penuh tanya karena ruangan ini terlihat seperti bukan kamar tapi lebih tepatnya sebuah tahanan.


“om, aku bisa gunakan kamar di bawah” ucap nissa. “siapa juga yang bisa bergerak di kamar seperti ini” batin nissa kesal sambil menelisik ruangan yang katanya kamarnya itu.


“aku sudah merencanakan sedemikian rupa agar tidak ada yang tahu kalau kita beda ranjang termasuk seluruh pekerja dirumah ini” ucap yusuf yang langsung keluar menuju ranjangnya.


Nissa sendiri pun langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. “ahhh... akhirnya mulai sekarang aku bisa tidur di kasur empuk” ucap nissa sambil bergulung – gulung hingga membuatnya tertidur.


Di kantor yusuf di sibukkan dengan penanda tanganan perpanjangan kontrak.


“pak yusuf kami rencananya akan memproduksi sinetron ini” ucap salah satu klien sambil memberikan lembaran kertas yang terjilid rapih. “jika bapak tertarik kami akan langsung memproduksinya” tambahnya lagi.


“baik setelah saya baca akan segera saya kabari anda” ucap yusuf dan siti pun langsung mengambil jilidan tersebut.


Setelah selesai meeting yusuf pun langsung memasuki ruang kerjanya kembali. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Terdapat nama hendri yang sedang memanggilnya dari sebrang sana.


“halo pak, pak saya ingin…”ucapan sekertaris hendri terpotong.


Hendri adalah sekertaris sekaligus tangan kanan yusuf yang telah mengurus kantor pusat selama yusuf berada di malang. Saat ini hendri berusia 35 tahun, duda tanpa anak. Selama 10 tahun terakhir hendri bekerja dengan yusuf setelah sekertaris sebelumnya terdepak dari jabatannya karena telah menerima suap menjadi mata – mata pesaing.


“tuntut jurnalis yang telah melakukan hal bodoh itu” ucap yusuf tegas.


“baik pak, ternyata dia mata – mata dari perusahaan xxx pak”


“oh jadi ini balas dendam karena acaranya ku hentikan sepihak”


“iya bapak benar”


“buat jurnalis itu mengaku dan kumpulkan segala buktinya. Aku menunggu kabar baik dari mu”


“baik pak. Dan ini ada beberapa acara yang perlu perpanjangan kontrak pak. dan ini harus bapak sendiri yang harus menandatangani"


“datanglah ke malang. Aku belum bisa untuk ke Jakarta”


“dan satu lagi pak…”


Yusuf menghela nafas kesal. “ada lagi”


“soal maya pak”


“kenapa dengannya?”tanya Yusuf, suaranya terdengar tidak suka ketika Hendri menyebutkan nama itu.


“dia terus saja meneror saya pak. Meminta alamat bapak disana”


“lakukan seperti biasanya kamu mengatasinya”


Maya perempuan berusia 28 tahun yang selama 5 tahun terakhir selalu mencoba menarik perhatian yusuf. Dengan kecantikan dan keseksian serta kepiawaian rayuan mautnya, ia tampil percaya diri untuk menggoda yusuf. Dengan segala cara maya mendekati yusuf namun seujung jari pun maya tak mampu menyentuh yusuf.