NISSA

NISSA
BAB 60 PECAH KETUBAN



Keesokan paginya Nissa sudah menyibukkan diri di dapur. Setelah solat subuh Nissa memang langsung menuju dapur karena merasa ingin sarapan dengan lauk pindang ikan patin. Mak Ipah sendiri di buat heran karena selama ini setahu mak Ipah Nissa tidak menyukai ikan patin di pindang. Alasannya gak tega makan ikan mentah, menurut versi Nissa ikan matang itu ya di goreng, di panggang atau di pepes. Hanya versi Nissa.


"Pagi mbak ipar" sapa Luna yang baru memasuki dapur. "Masak apa sih sedep banget baunya?" tanya Luna sambil mengendus-endus dan melihat apa yang sedang di masak Nissa.


"Aku masak pindang Lun" jawab Nissa.


"Wah langka nih. Tumben amat. Sejak kapan kamu suka makan pindang patin?" tanya Luna keheranan.


"Sejak aku pengen aja" jawab Nissa sambil menata ikan yang telah matang ke dalam mangkuk lalu meletakkan di atas meja yang sudah ada beberapa menu untuk sarapan.


Tak lama kemudian semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Wati, Adam, Luna dan juga Reina pun terus menatap Nissa. Mereka menggoda Nissa karena telah mendapatkan pernyataan cinta Yusuf yang di sampaikan secara live semalam. Nissa yang memang tidak melihat acara sampai selesai pun hanya kikuk sendiri, bahkan tidak percaya dengan semua yang mereka ucapkan. Membuat semua orang pasrah karena tahu Nissa tidak menyaksikan acara sampai selesai.


"Nda harus lihat ulang acarnya. Apa lagi part ayah menaiki podium" ucap Reina.


"Nah anak sama ayah emang kompak nyuruh aku nonton ulang" batin Nissa. "Iya nanti aku lihat lagi"


Semua orang pun mulai menyantap makanan. Semua yang melihat Nissa makan dengan ikan patin pun di buat keheranan.


"Tumben nda makan itu?" tanya Reina sambil menunjuk piring Nissa.


"Lagi pengen aja Re" jawab Nissa singkat.


"Kok aneh" celetuk Wati."Apa jangan-jangan" batin Wati sambil memikirkan sesuatu.


"Aneh kenapa sih bun, hoek… hoek…" Nissa mulai merasa mual. Tangannya mulai menutup mulutnya sambil berlari ke arah wastafel dekat kamar mandi asisten rumah tangga.


Wati yang mulai khawatir pun langsung menghampiri Nissa dan memijit tengkuk Nissa. Hal itu membuat Nissa merasa ingin memuntahkan semua isi perut yang baru saja ia makan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Wati.


"Nissa nggak apa-apa bun, hanya masuk angin deh kayanya" jawan Nissa sambil membasuh mulutnya menggunakan air.


"Apa jangan-jangan kamu ham…" ucapan Wati terputus karena mendengar teriakan Luna.


"Aduh sayang ini apa?" tanya Luna yang melihat air bening keluar dari area intinya.


"Bunda…" panggil Adam sambil berteriak.


Wati dan Nissa yang mulai khawatir pun langsung menghampiri Luna.


"Ini air ketubannya sudah pecah" ucap Wati.


"Apa. Anak ku" Luna nampak panik sambil membelai perutnya.


"Sudah jangan khawatir sayang" ucap Wati menenangkan Luna. "Adam siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang. Rere kamu ambil perlengkapan bayi di kamar Adam" perintah Wati.


Wati dan Luna memang sudah nampak berkemas dari dua minggu yang lalu. Semua perlengkapan bayi dan Luna sudah di tata rapi ke dalam tas jika sewaktu-waktu Luna melahirkan, tak perlu repot lagi berkemas. Karena hanya perlu menjinjing tas.


"Baik oma" jawab Reina yang langsung menuju kamar Adam.


Sesampainya di rumah sakit Luna langsung di bawa ke ruangan persalinan. Semua orang nampak cemas menunggu dokter yang tengah memeriksa Luna. Adam yang sejak tadi mondar mandir penuh khawatir pun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tenang nak, jangan terlalu khawatir. Semua akan baik-baik saja, kita berdoa terus. Ini wajar terjadi pada ibu hamil yang akan melahirkan" ucap Wati yang menghampiri Adam. Mengusap punggung anaknya menenangkan kekhawatiran sang anak. "Ayo duduk" ajak Wati dan Adam pun menurut.


Beberapa saat kemudian dokter pun keluar menghampiri semua orang yang tengah menunggu.


"Bagaimana istri saya dok?" tanya Adam yang langsung menghampiri dokter.


"Alhamdulillah, setelah di lakukan pemeriksaan keadaan nyonya Luna baik. Tekanan darah normal, sudah pembukaan 4 cm pak, tunggu sampai pembukaan lengkap baru proses persalinan bisa di lakukan. Dan detak jantung janinnya juga normal dan air ketubannya masih banyak sehingga masih aman untuk menunggu persalinan normal" terang dokter.


"Alhamdulillah" ucap Wati bersyukur.


"Butuh berapa hari dok sampai bisa lahir?" pertanyaan konyol Adam pun membuat dokter tersenyum paham. Memaklumi karena memang ini anak pertama bagi mereka.


"Tidak sampai berapa hari pak, hanya perlu beberapa jam untuk menunggu pembukaan lengkap atau pembukaan 10 cm. Di dalam ada bidan yang akan memantau kemajuan persalinannya. Silahkan bapak menemani istri di dalam" ucap dokter.


Bersambung...


lanjut besok lagi ya😊


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋


Ikuti juga novel terbaru ku ya 🥰