
Tak terasa, Sudah tiga bulan lamanya usia pernikahan dua pasutri yang menikah di hari yang sama. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tak terasa juga yusuf dan nissa sudah mulai berkemas untuk pindah ke rumah baru mereka.
“selamat pagi semua” sapa adam dan luna bersamaan. Mereka Nampak berseri bahagia sambil bergandeng tangan dan menebar senyum cerah hingga terasa mengalahkan kecerahan sang surya. (lebay author mana ada yang bisa menandingi ciptaan tuhan yang maha esa).
Semua yang ada di ruang makan pun menyapa kembali kedatangan pasutri yang Nampak berseri.
“kami punya kejutan” ucap adam.
“kejutan apa nak?” tanya wati yang penasaran sama seperti yang lainnya.
Luna memberikan sebuah kotak kecil persegi panjang di hadapan wati. “ini kejutannya bun”
Wati pun langsung segera membuka sebuah kotak itu, kedua netra nya langsung membulat ia pun berdiri menatap luna dan adam yang ada di sampingnya.
“kamu hamil sayang?” tanya wati sambil menyentuh perut luna.
“iya bun. Nanti rencana kami akan periksa ke dokter kandungan” jawab adam sambil membelai rambut luna.
“Alhamdulillah terimakasih ya sayang akhirnya bunda akan punya cucu lagi” ucap wati sambil mencium luna dan adam secara bergantian lalu memeluk mereka berdua.
“selamat ya dam, lun” ucap yusuf.
“terima kasih mas” ucap luna dan adam bersamaan.
“selamat ya om dan tante” ucap reina sambil mencium pipi luna.
“terimakasih sayang” ucap luna dan adam bersamaan.
Nissa pun berdiri dan menghampiri luna lalu mencium perut luna sekilas lalu memeluk luna “selamat ya lun, semoga kalian sehat sampai lahiran nanti”
“terimakasih ya nis”
Nissa lalu melonggarkan pelukannya dan langsung memberikan tinjuan kepada lengan adam. “selamat ya adek ipar ku sebentar lagi udah mau jadi bapak jadi jangan banyak tingkah lagi” ucap nissa usil lalu kembali duduk di kursinya begitupun luna dan adam.
Saat tengah menikmati makan “nissa, yusuf bunda juga menunggu kabar kehamilan dari kalian” ucap wati memecahkan keheningan.
Yusuf dan nissa sama sama tersedak makanan yang sedang mereka makan. secara bersamaan juga mereka segera minum air yang sudah ada di hadapan mereka.
“doakan saja ya bun” ucap yusuf. “kita nggak harus buru – buru punya anak ya kan sayang” ucap yusuf lagi sambil membelai rambut nissa.
“iya ayy” nissa tersenyum manis kepada wati.
“merinding bulu kuduk adek bang di panggil sayang mana pakai di belai lagi” gumam nissa dalam hati sambil membalas tatapan dan senyuman Yusuf.
Malam ini adalah malam terakhir bagi yusuf dan nissa tinggal di rumah wati. Sejak kemarin nissa dan yusuf memang sudah memindahkan sebagian barang penting mereka namun sebagian lagi tetap disini. Reina sendiri tidak mau ikut pindah bersama ayahnya meskipun yusuf sudah memaksa reina untuk tinggal bersamanya.
Reina lebih memilih tinggal bersama wati karena memang sejak kecil ia selalu di sisi wati. Namun reina tetap di sediakan kamar khusus untuknya dan beberapa barang kebutuhan reina pun tersedia disana jika sewaktu – waktu reina mau menginap di rumah baru ayahnya.
Malam semakin larut. Semua orang sudah terlelap dan sudah terbuai mimpi. Namun berbeda dengan pasangan yang tengah di mabuk kebahagian. Mereka sepertinya tidak mengingat, bahwa janin yang baru saja Nampak jelas sudah ada di dalam rahimnya. Mereka selalu berperang gairah hingga berkali – kali dan akan berhenti ketika sudah pada puncak kepuasan surgawi.
Nissa menggeliat mengerjapkan matanya lalu melihat jam, masih pukul 02.30 nissa memutuskan untuk segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan akan melaksanakan sholat malam.
Saat ia sedang mengenakan mukena tiba – tiba seseorang memegang kedua pundaknya.
“tunggu, kita solat berjamaah” bisik yusuf dengan suara khas orang bangun tidur.
Deg
Ini pertama kalinya mereka solat berjamaah hanya berdua dengan yusuf, membuat jantung nissa berdetak seolah gemuruh air laut pun memenuhi jiwanya. Namun ia langsung mengatur nafas beberapa kali dan menggelengkan kepalanya.
“ini bukan saat nya untuk bucin bucin an. Kita akan beribadah” batin nissa.
Tak lama Yusuf keluar dari kamar mandi dan langsung mengimami solat malam. Setelah solat malam yang ditutup dengan solat witir, nissa dan yusuf pun masih berdzikir. Setelah selesai yusuf langsung berbalik badan dan mengulurkan tangannya.
Nissa yang paham pun langsung menyambut tangan yusuf dan mencium punggung tangannya. Namun saat nissa berusaha melepas tangannya. Yusuf menarik dagu nissa membuat wajah nissa mendekat ke wajah yusuf.
Meski kamar hanya di terang i oleh lampu tidur namun netra mereka masih tetap saling berpandangan. Nafas mereka saling menerpa wajah satu sama lainnya. Yusuf mencium kening nissa dengan cukup lama. Nissa yang merasa kan kecupan penuh kelembutan pun ikut hanyut dalam keheningan.
Tanpa kata, yusuf menatap lekat nissa sejenak lalu akan menyambar lagi bak semut mesum dalam keadaan keduanya sadar. Saat yusuf akan mencium nissa, tiba – tiba nissa menutupi bibirnya dengan tangan yang masih tertutup mukena. Namun yusuf masih tetap mencium seolah bibir mereka tengah bersentuhan cukup lama.
Nissa yang tidak tau harus bagaimana pun langsung melepas mukena dan melipat asal. Ia pun langsung menuju sofa dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
“dasar bodoh nissa kenapa malah kabur. Om yusuf sudah tertarik padamu. Bodoh bodoh bodoh kenapa kamu setengah hati melakukannya” umpat nissa pada diri sendiri di dalam hatinya.
Yusuf tersenyum melihat tingkahnya. “dengan hatimu yang bahkan belum mencintai aku atau bahkan tidak mungkin, bagaimana mungkin kamu menggoda ku dengan sikap mu yang seperti itu.
Didalam selimut nissa terus merutuki dirinya sendiri karena telah menghindar.
“bodoh… bodoh… bodoh…” gumam nissa.