NISSA

NISSA
BAB 24 SAYANG



Setelah selesai membersihkan diri Reina yang sudah berdandan akan berangkat ke kampus pun berlari mencari Wati sambil membawa sisir dan tali karet rambut yang berwarna warni. Reina yang menggunakan dress lengan pendek motif bunga dan panjang kebawah lutut pun berlari menuruni tangga.


"Oma… Oma…" panggil Reina berlari ke ruang keluarga di lantai bawah.


Wati yang sedang berbincang dengan Nissa pun langsung menyahuti Reina. "Kenapa sayang?"


"Oma tolong kepang in rambut Rere" pinta Reina sambil memegang rambut panjangnya.


Nissa yang memberikan kode dengan kedipan mata pada Wati pun langsung paham. "Aduh tiba-tiba Oma pengen BAB"


"Ya udah oma BAB dulu, jangan lama-lama ya Oma. Rere tunggu”


Wati pun langsung berdiri sambil memegangi perutnya dan berjalan sok menahan rasa sakit, seolah aktingnya sempurna.


"Kamu mau kuliah Re?" tanya Nissa yang hanya di anggukkan Reina. "Kalau buru-buru sini biar aku aja yang kepangin " Nissa menawarkan jasa keterampilan yang terpendam yang hanya ia salurkan pada rambut Amira.


"Nah kalau gitu biar Nissa aja yang kepang rambut Rere ya" Celetuk Wati dari balik pintu kamarnya.


"Oma katanya sakit perut?"


"Oh iya lupa" Wati langsung menepuk jidatnya dan langsung berlalu. Aslinya tetep di belakang pintu.


"Gimana?" maju tak gentar Nissa.


"Eh… emang bisa?" tanya Reina ragu.


"Bisa dong. Sini" dengan langkah ragu Reina pun langsung duduk di samping Nissa. Nissa pun langsung menyisir rambut Rere yang panjang dan sedikit bergelombang. "Mau di kepang dari atas sini atau hanya di bawah?" tanya Nissa.


"Dari atas" ucap Reina singkat. Sedang Nissa pun langsung melakukan permintaan Reina. Wati yang berada di balik pintu kamarnya pun menitikkan air mata haru melihat sang cucu sedikit membuka hati untuk nissa. Sedangkan Yusuf yang entah sejak kapan melihat semua itu pun mengulas senyum. Senyum yang bahkan mampu membuat jantungnya berdetak seperti sedang mendapatkan sejuta kebahagiaan.


"Sudah selesai" Ucap Nissa.


"Cepat sekali" Reina membalikkan badan menatap Nissa. "Terima kasih" ucap Reina sambil mencium pipi Nissa sekilas. Bagi Nissa, Ciuman yang di dapat Nissa terasa seperti ciuman yang biasa ia terima dari Amira.


"Sama-sama" ucap Nissa sambil tersenyum.


Lalu Reina pun hendak melangkah menuju kamarnya. "Eh ayah" Yusuf hanya tersenyum melihat Reina. "Cantik nggak yah?"


"Cantik. Anak Ayah selalu cantik" ucup Yusuf sambil mengusap lembut pucuk kepala anaknya.


"Ini sangat rapi" gumam Reina. "Apa dia tidak terlalu imut menjadi istri ayah" gumam Reina lagi. "Apa aku harus menerima dia menjadi ibu sambung ku? Tunggu aku harus menunggu sampai yakin. Kalau dia bisa membahagiakan ayah. Gak semudah itu kan"


.


.


.


Wati yang berada di balik pintu pun menghampiri Nissa bersamaan dengan Yusuf. Nissa yang menyadari keduanya pun harus memutar otak untuk memuluskan aksinya lagi.


"Eh Ayang ku udah ganteng aja" ucap Nissa sambil menghampiri Yusuf dan langsung mengajaknya duduk berdampingan.


"Udah mau berangkat nak" tanya Wati sambil duduk.


"Iya bun"


"Mak Ipah belum selesai masak loh ayy" ucap Nissa sambil sok membenarkan jas yang di kenakan suaminya. Sambil memberikan sentuhan lembut meski nggak skin to skin.


"Aku ada janji sama orang nis" ucap Yusuf sambil mengambil dompet di sakunya dan mengambil benda pipih milik sultan. "Ini buat kamu" ucap Yusuf sambil memberikan kartu tipis impian semua wanita yang menjadi istri orang kaya raya.


"Tapi o… eh ayy… biasanya juga Ayang kan kasih aku cast dan uang itu pun masih cukup bahkan lebih dari cukup" ucap Nissa sambil mendorong tangan Yusuf.


Yusuf menarik tangan kanan Nissa dan meletakkan benda itu di dalam telapak tangan Nissa. "Ini kamu yang pegang sayang. Untuk kebutuhan mu agar aku nggak repot kasih kamu uang toh aku juga nggak tau kebutuhan yang mendadak buat kamu apa. Jadi ini kamu gunakan saja dan Reina setiap bulan sudah ku transfer uang jajannya tapi mulai sekarang kalau dia kekurangan uang dia minta sama kamu bukan sama aku dan kamu pun harus tahu uang itu akan di gunakan untuk apa sama reina" tutur Yusuf.


"Terima kasih ayang ku" ucap Nissa sambil mencium pipi Yusuf. Jangan lupakan senyuman yang terbit cerah untuk sang suami.


"Wah dia nyerang aku lagi" batin Yusuf. "Pin nya tanggal pernikahan kita sayang" ucup Yusuf sambil mengusap lembut pipi Nissa. Jari jemari Yusuf membawa beberapa anak rambut ke belakang telinga Nissa. Sentuhannya lembut ujung jari Yusuf membuat tubuh Nissa bergetar. Wati yang menjadi obat nyamuk makin mengulas senyum seolah melihat kenangannya bersama ayah dari kedua anaknya.


"Sayang?" batin Nissa. "Sepagi ini om Yusuf memanggil ku sayang hingga dua kali. Oh jantung ada apa dengan mu?" batin Nissa lagi. "Jangan berkhianat pada tubuh pemilik mu yang asli" maki Nissa pada jantung nya sendiri.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋


Ikuti juga novel terbaru ku ya