
Mentari pagi sudah mulai memancarkan sinar yang memasuki celah celah jendela kamar. Langit begitu Nampak cerah sehingga terdengar burung saling bersahut dengan kicauan indah. Seperti alunan lagu kebahagiaan menyambut hari penuh ceria.
Berbeda dengan suasana hati nissa yang Nampak mendung. Nissa melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan perlahan seolah sedang menghitung jumlahnya. Saat pada anak tangga terakhir tubuh nissa terdorong secara tiba – tiba. Beruntung karena nissa mampu menyeimbangkan dirinya sehingga tubuhnya tak mencium lantai yang Nampak kinclong setelah di bersihkan oleh mak ipah.
“astagfirullah” ucap nissa terkejut dan langsung membalikkan badan melihat sang pelaku. “awas ya kamu dam, untung aku nggak nyium lantai” ujar nissa kesal.
“lagian lemes banget kaya belum makan” ejek adam.
“lah emang kan belum makan” cicit nissa kesal.
“ada yang kangen nih. Makanya jangan jual mahal nis. Nanti kalau sudah pulang langsung serang duluan” goda adam.
“apaan sih, pagi – pagi udah ngelantur kemana – mana. Lagian siapa juga yang jual mahal” ucap nissa yang langsung ,mengamati penampilan adam. “mau kemana kamu pagi buta udah rapih wangi tapi sayang nggak ganteng”ejak Nissa.
“iya sih percaya yang ganteng Cuma suami tercinta. eh nis ntar antar luna periksa hamil ya, aku mau ke lamongan”
“ngapain?”
“luna pengen soto lamongan, maunya beli di tempat yang pernah kita datengin dulu. Mana maunya aku sendiri yang beli kesana, dia nggak mau ikut” keluh adam.
“selamat berjuang calon bapak”ucap nissa memberikan semangat.
Sekitar pukul 10.00 wati, nissa dan reina berada di rumah sakit mengantarkan luna periksa kehamilan. Mereka berjalan saling bergandengan, wati menggandeng luna dan nissa bersama reina. Bak empat bidadari mereka berjalan melewati lorong rumah sakit. Wati dan luna yang masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
“re, aku ke toilet dulu ya” ucap nissa.
“ok nda” jawab reina.
Nissa langsung bergegas menuju toilet namun belum sampai ke tempat tujuan nissa bertabrakan dengan seseorang. Kepala nissa terbentur dada seseorang.
“awww” pekik nissa sambil memegang keningnya.
“kamu… kamu yang di taman itu kan?” tanya seorang lelaki.
Nissa menatap lelaki di depanya sambil mengerutkan dahinya bingung dan mencoba mengingat wajah orang di hadapannya.
“ohhh… itu. Hai”
“kenalan dong nama kamu siap…” ucapan lelaki itu terputus.
“aduh maaf ya aku mau ke toilet dulu. bye…” ucap nissa yang langsung melangkah cepat karena memang sudah tidak mampu di tahan lagi.
Luna dan wati keluar dari ruang pemeriksaan.
“Alhamdulillah cucu oma sehat” ucap wati sambil mengusap perut luna yang sudah mulai sedikit membuncit.
“re… mana nissa?” tanya wati.
“nda lagi ke toilet oma” jawab reina.
“luna kamu disini sama rere biar bunda nebus obatnya” ucap wati.
“biar rere aja oma yang nebus obatnya” ucap reina yang langsung mengambil resep obat di tangan wati.
Saat sedang menunggu antrian netra reina melihat seseorang yang sangat ia kenal karena telah menolongnya saat pertama kali reina akan di lecehkan oleh ray pacarnya, dulu. sekarang sudah mantan dan sudah di jebloskan ke dalam penjara.
Reina melangkah mendekati seseorang yang ia kenal “ hei kak”
“reina. Apa kabar?”
“baik kak. Kak arya apa kabar?” tanya reina dengan wajah berbinar.
“aku baik. Kamu lagi ngapain disini?”
“nebus obat lah kak”
“siapa yang sakit?” tanya arya penasaran.
“bukan sakit kak ini nebus obat buat tante aku yang hamil. Kakak sendiri?”
“oh ini, aku nebus obat punya temen ku”
“wah kakak baik ya sama temen aja perhatian banget. Temen cewek apa cowok nih kak?” tanya reina selidik.
“cewek”jawab Arya singkat.
"pacar atau temen nihhh..." goda Reina. padahal dia masih penuh dengan selidik.
"temen Rei"
“oh iya kak boleh minta nomor hpnya kan. Biar tetep berhubungan baik” ucap reina sambil mengulurkan ponselnya dan sedetik itu juga arya mengambil ponsel reina dan meninggalkan nomor hp nya.
“nih”
“terima kasih ya kak” ucap reina sambil menggenggam tangan arya.
“sama – sama. Eh itu nomor antrian ku. Udah dulu ya rei”.
Seusai dari rumah sakit wati mengajak ke tiga perempuan tersayangnya makan terlebih dahulu. Kemudian mereka pun melakukan spa untuk memanjakan diri. Sesungguhnya Nissa tidak mau ikut tapi mau bagaimana pun tiga lawan satu pasti kalah. Dan dengan terpaksa dia ikut juga.