NADYA

NADYA
Part 9



Malam harinya Nadya tidur menggunakan kaos milik Hengki, walaupun kebesaran, tapi nyaman di pakai. Keduanya tidur sangat lelap, dan seperti biasa Hengki tidur memeluknya sepanjang malam dan akan melepaskan pelukannya saat adzan subuh, ketika Nadya sudah bangun dari tidurnya, walaupun dengan hanya memeluk dan mencium aroma tubuhnya, sudah merasa puas bagi Hengky. Dirinya tidak akan meminta haknya kalau Nadya sudah mau membuka hati dan memberikan seluruh jiwanya.


Suara adzan subuh terdengar berkumandang, Nadya bergerak dan segera bangun dari tidurnya untuk segera mengambil wudhu, selesai dirinya mengambil wudhu, membangunkan Hengki untuk segera bangun melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Dengan segera Hengki bangun ke kamar mandi, wudhu dan melaksanakan subuh berjama'ah.


Selesai menunaikan kewajibannya, beranjak ke.dapur, membuat sarapan untuk mereka berdua. Hengki melihat Nadya yang sedang memasak di dapur sangat cekatan menggunakan peralatan dapur.


"Kamu cekatan sekali memasak, apa kamu biasa malakukannya?"


"Aku biasa memasak untuk ayah, sejak mamah meninggal dunia, aku yang menyediakan keperluan ayah, kami berdua saling membutuhkan, saling menyayangi, ketika ayah meninggal kan aku untuk selamanya, dunia terasa runtuh, pada siapa harus berpegangan." ucap Nadya dengan sendu


"Ketika ayah sudah tiada, alhamdulillah ada mamah Rima yang dapat menyanggaku, setelah sekian lama mamah Ria meninggal, ku dapatkan kembali kasih sayang seorang mamah dari mamah kuning."


"Dalam keadaan terpuruk, mamah tidak sedikitpun meninggalkan aku."


"Sejak saat itu aku berjanji, kalau mamah meminta sesuatu dan aku dapat mengabulkan, akan ku lakukan." ucap Nadya lirih


Hengki terbaru mendengar cerita Nadya. Yang membuat dirinya makin mencintai nya.


"Sudahlah, sekarang ada mas yang akan selalu ada untuk kamu, mamah juga lebih menyayangi kamu dari pada sama mas."


Mendengar ungkapan hati Hengky, Nadya jadi tertawa kecil, ternyata suaminya cemburu sama mamah nya sendiri.


"Kalau kamu mau mengabulkan semua keinginan mamah, berarti mas boleh minta hak mas agar dapat memberikan mamah cucu."


Mendengar ucapan Hengki membuat wajah Nadya merah seperti tomat, Hengki yang melihatnya gemas, lalu mendekati Nadya, mencium bibir merah nya yang selama ini hanya di pandang. Ciuman itu semakin lama menjadi ciuman yang meminta lebih, kehabisan nafas, ciuman di hentikan. Nadya merasa malu, berlari ke dalam kamar. Hengki menyangka kalau Nadya marah karena berani menciumnya.


Hengki mendekati kamar tempat Nadya yang sedang terduduk di pinggir tempat tidur,


"Maafkan mas yang sudah berani mencium kamu tanpa persetujuan kamu." Hengk i menyesali nya.


"Aku bukan marah tapi malu." siapa Nadya dengan perlahan namun masih bisa terdengar oleh Hengki.


"Jadi mas boleh?"


Nadya mengangguk malu.


Hengki mendekati Nadya,mengangkat dagunya dan kembali mencium bibir Nadya. Bibir keduanya menjadi pagutan yang saling menuntut, hasrat Hengki yang selama ini hanya angan, sekarang bisa di lakukan. Perlahan tapi pasti, Hengki dan Madya melakukan yang seharusnya di lakukan sejak lama, namun ke duanya masih sungkan untuk meminta nya. Pagi hari itu semua hasrat di salurkan, hingga di lakukan berkali kali, karena Nadya mengeluhkan lelah dan juga lapar, Hengki masih ingin melakukannya.


"Mas udah ya, aku lelah sama laper, dari tadi pagi belum makan apa apa."


"Iya sayang, kita udahan dulu, kita mandi lanjut makan. Yang tadi pagi kamu masak juga belum di makan."


"Iya mas, bantu bangun, bagian intim aku sakit banget." Nadya mengeluh kesakitan ketika akan bangun.


"Yuk, mas bantu, di gendong ya."


Hengki mandi berdua, dan melakukan permainan lagi, hingga membuat Nadya cemberut.


"Mas udah yuk, katanya cuma mandi tapi ini udah berapa lama, aku laper banget."


"Iya sayang, ini yang terakhir, janji." Ucap Hengki tar engah engah.


Selesai mandi, mereka melanjutkan dengan makan siang menjelang sore. Saat santap makan, pintu depan ada yang mengetuk, dan ternyata kurir yang di utus mamah membawakan pakaian buat Nadya, karena kemarin Hengki minta di kirim pakaian untuk Nadya yang sudah tidak nyaman memakai pakaian Hengki.


Setelah tiga hari mereka tinggal di villa, sore ini Nadya dan Hengki kembali pulang ke rumah, akan melakukan aktivitas seperti biasa. Sepanjang perjalanan, Hengki terus memegang tangan Nadya dan mencium punggung tangannya.


"Sayang kalau ngantuk tidur saja, nanti mas bangunkan kalau sudah sampai di rumah."


"Iya mas, aku ngantuk banget, ga apa apa mas kalau aku tidur?"


"Ga apa apa sayang."


Walaupun mengendarai mobil sendirian, namun hari Hengki sangat bahagia, wanita yang selama ini di cintai nya sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Tidak terasa mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan rumah yang sudah dalam ke adaan gelap.


Namun sangat tidak di sangka mamah masih bangun dan menyambut ke datangan anak dan menantu kesayangan nya.


"Sayang, kalian sudah sampai rumah, Nadya tidur ya?"


"Kamu gendong aja perlahan, awas kepalanya tersandung pintu."


Dengan sangat hati hati, Hengki menggendong Nadya sampai ke kamarnya. Di kecupnya kening Nadya dengan penuh kasih sayang. Setelah membaringkan Nadya di tempat tidur king size nya, Hengki berlalu ke kamar mandi membersihkan badan yang lengket setelah mengendarai mobil. Selesai melakukan ritual mandinya, naik ke tempat tidur menarik Nadya dalam pelukannya, di dalam selimut berdua dalam kehangatan.


Malam makin larut, udara semakin dingin, dua orang insan yang saling memeluk dalam tidur. Menjelang subuh, Nadya terbangun dan segera ke kamar mandi mengambil wudhu, membangunkan suaminya untuk sholat subuh berjamaah. Kedua nya sholat dengan.tenang, selesai sholat Nadya menuju dapur membantu bi Tuti memasak untuk sarapan suaminya. Selesai memasak, naik ke kamarnya yang ada di lantai dua, membuka pintu, suaminya tidur lagi. Nadya mendekati tempat tidur, begitu sampai Hengki dengan cepat memeluk Nadya dan mencumbunya. Permainan di pagi hari di lakukan kembali, do lanjut di kamar mandi. Sekitar dua jam mereka melakukannya. Saat turun ke bawah, sudah ada mamah nya


"Kalau lima menit lagi tidak turun pasti mamah akan pingsan karena kelaparan menunggu pasangan yang sedang bercinta. Semoga saja mamah cepat dapat cucu dari hasil pengorbanan mamah."


"Loh mamah kenapa belum makan, maaf kami terlambat." Sahut Nadya yang merasa tidak enak sama mertuanya karena harus menunggu kegiatan panas mereka.


"Ga apa apa sayang, mamah malah bahagia, karena anak dan menantu mamah sudah saling menerima perjodohan ini. Ayah kamu pasti sangat bahagia, karena kamu sudah dapat mewujudkan ke inginan terakhirnya."


Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Nadya berangkat kuliah pagi, dan Hengki sudah mulai bekerja lagi. Hengki mengantar Nadya sampai kampusnya, an melanjutkan ke kantor nya.


...****************...


Hai reader, komentarnya jangan lupa yah. juga like dan vote.Kasih bintang lima juga ya