NADYA

NADYA
SAH!



"Halo, Assalamualaikum!" Sambut Nadya setelah mengangkat telepon dari Reza. Tadinya Nadya sudah mengirim pesan ke calon kakak sambungnya itu kalau ia sudah boleh pulang dari butik.


"Masih di butik, Nad?"


"Iya, masih. Katanya Mas Res kau jemput?" Tagih Nadya pada Reza.


"Duh, maaf banget, Nad! Jangan ngambek, ya! Tapi aku nggak bisa jemput karena masih ada kerjaan di toko. Tapi tadi aku udah telepon Papa, nanti kamu dijemput Papa."


"Yah, jadi ngrepotin Papa, Mas!" ucap Nadya merasa sungkan.


"Nggaklah! Kan kamu calon putri kesayangannya papa. Kamu tunggu dulu, ya! Papa masih perjalanan ke butik kayaknya. Mungkin masih nyari-nyari juga."


"Nggak Mas Res kasih ancer-ancer?" Tanya Nadya menyelidik.


"Udah. Kamu berdiri di depan butik, ya! Jangan ngumpet."


"Iya, ini Nadya udah di teras, Mas! Mobilnya Papa yang putih kemarin itu, kan? Atau bawa pick up-nya?" Tanya Nadya sekali lagi untuk memastikan.


"Yang minibus putih. Katanya tadi habis pergi sama bunda, kok."


"Mosok? Nge-date lagi?" Tebak Nadya seraya terkekeh.


"Nyari seserahan sama cincin kawin katanya."


"Hah-" Nadya belum menyelesaikan kalimatnya, saat mobil minibus putih milik Pak Teddy berjalan pelan di depan butik.


"Papa udah sampai, Mas! Nadya tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum!" Pamit Nadya cepat.


"Oke, Walaikum salam."


Setelah menyumpalkan ponselnya ke dalam saku rok, Nadya bergegas keluar ke depan butik, agar Pak Teddy melihatnya.


Bim bim!


Pak Teddy membunyikan klakson dan langsung menghebtikan mobilnya di depan butik. Nadya buru-buru menghampiri mobil warna putih tersebut.


"Sudah boleh pulang, Nad?" Tanya Pak Teddy setrlah menurunkan kaca jebdela mobil.


Benar kata Mas Reza, ada bunda juga yang duduk disamping Pak Teddy yang wajahnya terlihat sumringah.


"Sudah, Pa! Nadya pamit dulu ke dalam, sekalian ambil tas," izin Nadya pada sang calon papa.


"Baiklah! Papa tunggu, sekalian putar balik," jawab Pak Teddy yang langsung membuat Nadya berlari ke dalam mobil. Nadya berpamitan pada Mbak Riska yang memang menjadi penanggung jawab di butik, saat Bu Lala tidak ada di tempat.


"Dijemput Reza, Nad?" Tanya Mbak Riska menyelidik.


"Bukan. Dijemput Bunda sama Papa," jawab Nadya seraya meringis.


"Oh, yaudah! Hati-hati pulangnya, ya! Besok masuknya jam delapan dan bajunya nggak harus hitam putih. Pakai baju bebas boleh, asal sopan," pesan Mbak Riska pada Nadya yang sudah memakai tas ranselnya.


"Siap, Mbak! Nadya pulang dulu, ya! Assalamualaikum," pamit Nadya sekali lagi.


"Walaikum salam!" Jawab Mbak Riska dan dua karyawan butik lain.


Nadya berjalan riang ke arah mobil Pak Teddy yang sudah terparkir di seberang butik. Remaja tujuh belas tahun tersebut langsung membuka pintu belakang, dan naik di jok belakang. Nadya menengok sejenak ke arah bagian paling belakang mobil yang penuh dengan tas belanja.


"Habis mborong, ya, Bund?" Tanya Nadya sedikit menggoda sang bunda.


"Bukan Bunda yang mborong," kilah Bunda Maya menampik godaan sang putri.


"Calon papa kamu itu, yang habis mborong," lanjut Bunda Maya menatap malu-malu ke arah Pak Teddy yang sudah mulai melajukan mobilnya.


"Nadya nggak dibelikan apa, gitu?" Tanya Nadya masih denagn nada menggoda.


"Lha Nadya mau dibelikan apa? Nanti Papa antar ke toko," jawab Pak Teddy dari kursi pengemudi.


"Bercanda, Pa," kikik Nadya seraya membuka ponselnya. Ada pesan masuk dari Mas Reza.


[Sudah jalan?] -Reza-


[Naik mobil, Mas! Capek dong kalau jalan pulang] -Nadya-


[Iya, maksud aku mobilnya udah jalan?] -Reza-


[Udah. Bunda sama Papa mborong banyak. Padahal nikahnya kan masih belum tentu kapan] -Nadya-


[Papa belum bilang ke je kamu? Bunda sama Papa nikah hari Jumat, Nad] -Reza-


"Hah? Serius?" Pekik Nadya setelah membaca pesan dari Reza.


"Apanya yang serius, Nad? Kamu kok teriak-teriak ngagetin begitu. Habis baca apa?" Tegur Bunda Maya sedikit bercerocos.


"Emang benar, Bunda sama Papa nikah hari Jumat?" Tanya Nadya menyelidik pada dua orang tua di depannya tersebut.


"Yang bilang siapa?" Pak Teddy malah balik bertanya.


"Mas Res," jawab Nadya membaca sekali lagi pesan Mas Reza.


Iya, benar. Nadya tidak salah baca.


"Berarti benar," jawab Pak Teddy seraya terkekeh.


"Iya, Nad! Nanti rencananya hari Jumat ijab sah," jawab Bunda Maya seraya menoleh ke arah Nadya.


"Alhamdulillah! Akhirnya Nadya akan punya Papa sebentar lagi!" Sorak Nadya yang sepertinya senang sekali.


Bunda Maya dan Pak Teddy hanya tersenyum dan saling lempar pandang, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Nadya.


****


"Assalamualaikum, Maya!" Suara seorang pemuda serta ketukan di pintu kamar kost Maya, segera membuat Maya beranjak dan membuka pintu.


"Walaikum salam."


"Kok malam-malam kesini, Mas?" Tanya Maya yang langsung mempersilahkan tamunya yang ternyata adalah mas Yoga masuk ke dalam kost-nya.


Kost yang ditempati Maya memang bukan kost putri dan rumah pemilik kost juga berjarak beberapa rumah dari bangunan kost. Jadi kost-an ini termasuk bebas dan penghuninya perempuan dan laki-laki membaur jadi satu.


"Jaket Mas Yoga basah," Maya membantu melepaskan jaket Yoga.


"Kehujanan dikit."


"Tadi ke tempatnya teman di dekat sini. Eh, pas pulang hujan, jadi aku belok kesini bentar bunat berteduh," jawab Yoga yang sudah duduk di lantai beralaskan karpet plastik tipis.


"Maya buatin teh hangat, ya!" Ucap Maya yang langsung menyalakan dispenser dan menyeduh teh dengan cekatan.


"Iya." Jawab Yoga seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya, mungkin karena merasa dingin. Sementara hujan di luar kost terdengar semakin deras dan malah disertai sambaran kilat dan petir.


Yoga sudah menyesap teh hangat yang disajikan oleh Maya. Pria itu menatap pada Maya yang kini kembali berkutat dengan tugas kuliahnya.


"Tugasnya banyak, ya, May?" Tanya Yoga seraya mendekat ke arah Maya.


"Iya, Mas. Tapi sedikit lagi selesai, kok," jawab Maya seraya menundukkan wajahnya dan pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di depannya.


"Mas Yoga nanti nginep atau menunggu hujan reda?" Tanya Maya akhirnya setelah keheningan beberapa saat.


"Hujannya semakin deras dan sepertinya akan awet," sambung Maya lagi menerka-nerka.


"Nanti aku tidur di karpet saja, May!" Jawab Yoga seolan memberikan kodevkalau ia akan menginap.


"Motor sudah dikunci?" Tanya Maya mengingatkan.


"Sudah! Sudah aku naikin ke teras juga," jawab Yoga yang langsung membuat Maya mengangguk.


Maya beranjak berdiri dan mengunci pintu kost-nya.


"May," Yoga tiba-tiba sudah memeluk Maya dari belakang, dan tentu saja hal itu membuat Maya berjenggit kaget, meskipun sebenarnya ini bukan kali pertama Yoga memeluk dan mebdekap Maya seperti ini. Bahkan mereka juga sudah beberapa berciuman. Tapi kalau Yoga yang menginap di kost-an Maya, ini baru pertama kali.


"Kita akan menikah setelah kamu wisuda, kan?" Tanya Mas Yoga tiba-tiba masih sambil mendekap Maya.


"I-iya, Mas."


"Tapi apa kedua orangtua Mas Yoga akan setuju?" Tanya Maya khawatir mengingat perbedaan strata sosial yang begitu jauh antara Maya dan Mas Yoga. Maya yang hanya anak dari oedagang souvenir di Prambanan, dan Mas Yoga yang keluarganya termasuk berada karena punya beberapa konveksi serta toko yang tersebar di beberapa kota.


"Mereka akan setuju," ucap Yoga yakin seraya membalik tubuh Maya. Kinkndua insan yang saling mencintai itu sudah berdiri dan berhadapan.


"Aku akan memperjuangkan hubungan kita, May," tangan Yoga sudah meraih dagu Maya, dan tanpa menunggu lama, keduanya sudah saling berpagutan.


Hujan deras yang mengguyur bumi serta cuaca dingin yang tearas menusuk malam itu menjadi saksi hilangnyabkesucian Maya di tangan Yoga yang selalu mengatakan kalau ia sangat mencintai Maya.


"Sah!"


Jawaban dari para saksi serta beberapa tamu yang hadif di KUA pagi ini menyentak lamunan Maya.


Maya bahkan tak memperhatikan saat Pak Teddy mengucapkan ikrar ijab sah tadi, karena wanita itu terlalh larut dalam lamunannya.


"Alhamdulillah!" Ucapan syukur selanjutnya terdengar bersahutan dari ruangan tersebut.


Maya menoleh ke samping kanannya dan menatap pada Pak Teddy yang kini sudah sah menjadi suaminya. Senyuman bahagia tersungging di bibir pria yang hari inj mengenakan peci warna hitam tersebut.


"Kok cuma senyum-senyum saja, May?" Tanya Pak Teddy seraya mengendikkan dagu ke arah tangannya yahg sudah terulur.


"Astagfirullah!" Maya buru-buru meraih tangan Pak Teddy dan menciumnya dengan takzim. Pak Teddy ganti mencium kening Maya dan semua yang hadir langsung bertepuk tangan.


Kini Bunda Maya dan Papa Teddy sudah sah menjadi suami istri.


.


.


.


Episode selanjutnya kira-kira ngapain?


😅😅😅


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.