
"Assalamualaikum," ucap Reza seraya menggandeng tangan Nadya untuk masuk ke rumah sang eyang.
"Eyang! Eza datang!" Seru Reza yang langsung memeluk sang Eyang kesayangan.
"Makin ganteng, kamu, Za!" Puji Eyang Putri seraya terkekeh.
"Ini siapa? Calon istrimu?" Tanya Eyang Putri selanjutnya menunjuk ke arah Nadya yang sudah meraih tangan Eyang Putri lalu menciumnya dengan takzim.
Namun seaat, Eyang Putri merasa tertegun melihat wajah Nadya yang sekilas mirip dengan sang Putra yang sudah berpulang delapan belas tahun lalu.
Ah, tapi mungkin hanya kebetulan.
"Iya, ini calon istri Eza, Eyang!" Jaeab Reza sambil kembali memeluk Eyang Putri. Terlihat Reza yang begitu menyayangi Eyang-nya tersebut.
"Trus Papa kamu mana? Katanya punya ietri baru, Za? Bapak sama anak kok sukanya saingan, satu nikah, satunya ikut-ikutan nikah," tanya Eyang Putri selanjutnya sedikit bercerocos.
"Masih pacaran tadi sama Bunda di belakang."
"Biasa, Eyang! Pengantin baru," seloroh Reza yang sontak membuat Eyang Putri dan Nadya tertawa bersamaan.
Eyang Putri kembali menatap wajah Nadya yang saat tertawa semakin mirip dengan mendiang Yoga Permana, putranya yang sudah berpulang.
"Assalamualaikum," salam Pak Teddy yang sudah masuk seraya menggandeng Bunda Maya yang masih terlihat gemetaran.
"Bunda kenapa gemetaran begitu?" Tanya Nadya yang buru-buru menghampiri sang bunda dan ikut menggandeng tangan wanita yang sudah melahirkannya tersebut.
"Bundamu grogi, Nad! Mau ketemu mertua," kelakar Pak Teddy yang langsung membuat semuanya tergelak kecuali Bunda Maya yang hanya tertawa kaku dan menundukkan wajahnya. Wanita paruh baya itu tak berani menatap pada Eyang Putri yang kinj duduk di kursi dan masih dirangkul oleh Reza.
"Itu istri barumu, Ted?" Tanya Eyang Putri yang sepertinya penasaran sekali.
"Iya, Bu! Namanya Maya," jawab Pak Teddy yang langsjng menyuruh Maya untuk mendekat pada Eyang Putri dan mencium punggung tangan wanita tua tersebut.
"Kok ndingkluk saja, Nduk? Malu atau bagaimana?" Tanya Eyang Putri seraya memaksa Bunda Maya untuk mengangkat wajahnya.
Sedikit ragu, Maya akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap pada wajah tua yang kini sudah dipenuhi oleh keriput tersebut. Namun raut wajahnya yang sejak dulu mirip Mas Yoga tak pernah berubah.
"Assalamualaikum, Bu! Bagaimana kabarnya?" Tanya Maya berbasa-basi meskipun sedikit tergagap.
"Walaikum salam. Alhamdulillah, sehat, Nduk," jawab Eyang Putri seraya mengusap wajah Maya.
Sepertinya Eyang dari Reza ini tak mengenali Maya.
Aneh sekali!
Atau mungkin faktor usia yang membuatnya lupa pada wajah Maya?
"Cantik dan masih muda istri kamu, Ted! Ndmu dimana ini?" Tanya Eyang Putri selanjutnya sedikit berkelakar.
"Nemu di Solo, Buk," jawab Pak Teddy seraya terkekeh.
"Bulik Ningsih kemana, Buk? Kok nggak kelihatan? Biasanya paling heboh kalau Eza datang," tanya Pak Teddy selanjutnya pada sang Ibu.
"Embuh kemana tadi. Sudah dibilang disuruh nungguin Eza mau datang. Malah pergi dan bilang kalau Eza datangnya pasti besok. Dibilangin kok ngeyel," jawab Eyang Putri sedikit mengomel.
"Siapa yang ngeyel, to, Mbakyu?" Sebuah suara muncul dari dapur, bersamaan dengan wanita tua yang rambutnya sudah memutih separuh.
"Mbah Uti!" Sambut Reza yang langsung menghambur ke pelukan Mbahnya yang lain tersebut.
"Gimana? Katanya kamu punya Mama baru, Za?" Tanya Bulik Ningsih yang langsung ikut bergabung ke ruang tengah bersama yang lain.
"Masih muda, Ning! Cantik ini mama barunya Eza." Sahut Eyang Putri yang tentu saja semakin membuat Bulik Ningsih penasaran.
"Wah, wah. Teddy mujur, nho!"
"Mana?" Bulik Ningsih mencari sosok asing yang ada di ruangan tersebut sebelum kemudian pandangannya tertumbuk ke arah Bunda Maya yang masih berdiri di dekat Pak Teddy. Wanita tua itu langsung tertegun saat melihat wajah Maya.
Maya keluar dari rumah Yoga seraya berurai airmata. Baru saja Maya menjejakkan kakinya keluar dari halaman nan luas tersebut, hujan gerimis langsung menyambut langkah Maya.
"Nduk!"
"Maya!" Seru Bulik Ningsih yang berlari-lari mengejar Maya yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Maya! Berhenti dulu, Nduk!" Panggil Bulik Ningsih yang akhirnya berhasil menyusul langkah Maya dan merengkuh kedua pundak gadis itu.
Bulik Ningsih langsung memeluk Maya yang menangis tersedu-sedu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bulik Ningsih pada Maya yang masih terus menangis.
"Pulang, Bulik! Pulang ke rumah bapak sama ibu," jawab Maya di sela-sela isak tangisnya.
"Ini, buat ongkos pulang, ya, Nduk! Maaf atas sikap Mbakyu tadi," ucap Bulik Ningsih seraya mengusap kepala Maya yang sudah basah terkena air hujan.
"Bulik boleh minta alamat lengkap kamu? Nanti Bulik akan memcoba mrmbujuk Mbakyu saat sudah tenang, agar datang ke rumah kamu," pinta Bulik Ningsih yang langsung membuat Maya mengangguk. Maya menyebutkan alamat lengkap toko souvenir milik kedua orang tuanya di Prambanan, karena biasanya Maya memang pulang ke sana saat liburan.
"Hati-hati, ya, Nduk!" Pesan Bulik Ningsih pada Maya setelah gadis itu pamit pergi.
Bulik Ningsih masih menatap lekat ke arah wajah Maya yang kadang tertunduk.
"Maya." Ucap Bulik Ningsih akhirnya.
"Kau Maya, kan?" Taya Bulik Ningsih yang sudah dengan cepat menghampiri Maya dan merengkuh kedua pundak wanita yang kini telah sah menjadi istri Pak Teddy tersebut.
"Bulik kenal sama Maya?" Tanya Pak Teddy menyelidik.
"Maya siapa, Ning? Kok kamu heboh begitu?" Eyang Putri ikut-ikutan bertanya pada Bulik Ningsih.
"Maya yang hamil anaknya Yoga delapan belas tahun lalu, Mbakyu!"
"Mbakyu ingat, kan?" Jawab Bulik Ningsih yang langsung membuat semua orang di ruangan tersebut mematung.
Maya hamil anaknya Yoga?
Apa itu artinya papa kandung Nadya adalah Yoga?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.