NADYA

NADYA
Part 1



Suara mesin mobil yang sangat bising, sama sekali tidak membuat gadis manis itu merasa terganggu lamunannya. Semalam ayahnya memintanya untuk segera menikah dengan anak sahabatnya Karena hutang budi di masa lalu, dan janji yang telah mereka ucapkan untuk menikahkan anak anak mereka ketika sudah dewasa.


"Ayah, Nadya belum mau menikah, masih ingin melanjutkan kuliah dan mengejar cita cita yang selama ini aku impikan. Semoga ayah mengerti." ucap Nadya


"Nak, ayah sangat mengerti sekali kalau kamu ingin mengejar mimpimu, namun sekarang ayah sedang sakit, ayah merasa kalau umur ayah tidak akan lama lagi."


"Kalau kamu sudah menikah, akan ada yang menjagamu setelah ayah tidak ada." Ayah berkata sambil mengusap kepala Nadya yang tertunduk menangis.


"Tapi ayah......" perkataan Nadya tersendat melihat ayahnya memejamkan mata menahan rasa sakit yang dideritanya.


Percakapannya dengan ayah semalam masih terbayang teringat. Nadya tidak ingin mengecewakan ayahnya yang sedang sakit, namun hatinya tidak mau menerima pernikahan dengan orang yang tidak dikenalnya, yang akan mengikatnya seumur hidupnya.


"Hei, dari tadi gue panggil, lu ga denger ya?" Nisa sahabat dekatnya yang selalu menjadi tempat curhat.


"Maafin gue Nis, tadi gue ga denger lu manggil." Nadya tersentak dari lamunannya.


"Ngapain lu melamun di halte, ntar kesambet setan halte baru tahu rasa lu. Tuh bisnya udah datang, ayo kita naik." ajak Nisa


Sampai di dalam bis, Nadya dan Nisa mendapat tempat duduk di belakang.


"Memangnya lu ada masalah apa, sampai anteng banget melamun, kalau ada masalah kita bisa bicarakan, mungkin gue bisa bantu. Jangan lu simpan sendiri, kita udah bersahabat dari jaman putih abu." Nisa berkata setelah mereka duduk


"Nanti aja gue cerita kalau udah sampai rumah, biar enak suasananya, disini terlalu ramai." ucap Nadya


Nisa mengangguk, mendengar Nadya berbicara, dan memang suasana di dalam bis sangat bising, sangat tidak nyaman untuk membicarakan sesuatu yang sangat serius.


Di halte berikutnya mereka berhenti dan segera turun dari bis menuju komplek perumahan Nadya dan Nisa yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh hanya berbeda beberapa block saja.


"Lu mampir ke rumah ya, gue pengen cerita, siapa tahu bisa meringankan beban dalam.dada gue." ajak Nadya.


Nadya dan Nisa masuk ke dalam kamar dengan perlahan karena takut membangun ayah yang sedang istirahat di dalam kamar.


"Lu ke kamar duluan, gue mau lihat ayah sebentar."


"Iya gue ke kamar sekalian mau numpang ke.toilet, udah kebelet banget dari tadi."


"Ya udah sana, nanti sekalian gue bikin.minuman."


Nadya berjalan menuju kamar ayahnya. Di ketuk pintu kamar perlahan, namun tidak ada jawaban. Nadya mau ke dalam kamar ayahnya yang tampak sedang tertidur pulas. Nadya duduk di pinggir tempat tidur memandangi wajah ayahnya yang sangat pucat.


"Kamu sudah pulang nak, sudah makan?" a.tanya ayah yang terbangun karena ada gerakan di sebelah tempat tidurnya.


"Iya ayah, Nadya baru pulang kuliah, obat nya sudah dimakan?"


"Obatnya tadi sudah ayah makan di bantu sama bi Ani."


"Sebentar lagi Nadya makan siang sama Nisa, sekarang lagi ada di kamar. Ayah lanjut kan tidurnya ya, kalau ada perlu apa apa panggil saja Nadya"


"Iya nak, makanlah sulit, kamu masih cape pulang kuliah, nanti kalau ayah ada perlu pasti akan panggil kamu."


Nadya bangkit dari tempat tidur yang tadi diduduki nya, merapikan selimut dan mencium pipi ayahnya.


"Nadya keluar dulu ya, kasian Nisa sendiri"


Hanya di balas anggukan dan senyuman oleh ayah. Nadya membuka pintu perlahan, menuju dapur meminta bi Ani menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Nisa.


"Bi Ani, bisa tolong siapkan makan siang buat aku sama Nisa"


"Baik non, akan bibi siapkan."


"Sama sama non"


Nadya pergi ke kamar untuk mengajak Nisa makan siang.


"Kita makan dulu yuk, lu udah laper kan?"


"Setelah makan gue akan cerita semua masalah gue."


Keduanya berjalan ke arah meja makan yang sudah di siapkan bi Ani. Mereka makan sangat lahap sekali, karena saat ini mereka makan sudah lewat jam makan siang.


Selesai makan, Nadya dan Nisa masuk ke dalam kamar.


"Sekarang kita sudah selesai makan, katanya lu mau cerita." Nisa berkata sambil tiduran di atas tempat tidur.


"Ayah minta gue nikah sama anak sahabatnya, dulu ayah banyak hutang budi pada beliau, mereka berjanji akan menikahkan anak anaknya kalau sudah dewasa." Nadya menghela nafasnya sebentar


"Sekarang ayah sedang sakit, karena putus asa dengan penyakit yang tidak sembuh juga, sehingga merasa bahwa hidupnya tidak akan.lama lagi."


""Terus sekarang keputusan lu gimana?"


"Gue masih mau kuliah, ingin mencapai semua impian gue, tapi melihat kesehatan ayah yang kian hari semakin menurun. Gue masih bimbang kalau gue tolak keinginan ayah, gue ga tega. Kalau gue terima pernikahan ini, hati gue ga bisa terima."


"Lu udah pernah ketemu sama orang yang bakal jadi suami lu?"


"Belum pernah, foto nya aja gue ga punya."


"Ayah lu ga ngasih foto cowok itu, ga cerita tinggal dimana gitu?"


"Ga..." Nadya menggelengkan kepala


"Terus lu ga minta sama ayah lu?"


""Siapa tahu orangnya ganteng, tajir"


"Lu gimana sih, bukannya kasih masukan yang bikin gue tenang." Nadya cemberut mendengar Nisa berkata seperti itu.


"Sorry, sorry. Maksud gue biar ga jadi beban pikiran buat lu, jangan terlalu tegang, di buat santai." Nisa.berkata sambil sedikit tertawa takut Nadya tersinggung lagi.


Tak terasa obrolan mereka sampai sore. Kalau orang tua Bisa tidak menelpon nya, mungkin akan menginap di rumah Nadya, karena memang Nisa selalu tidur di rumah Nadya.


"Nyokap gue telpon nih, di suruh pulang. Mau minta antar ke rumah tante."


"Ya udah, makasih ya udah mau denger curahatan gue. Lu memang besti terbaik yang gue miliki selama ini."


Nadya mengantarkan Nisa sampai depan pintu. Kembali ke kamar untuk membersihkan badan lalu istirahat sebentar.


Suara pintu di ketik dari luar terdengar bi Ani memanggil manggil. Nadya yang baru bangun dari tidur tersentak kaget ketika bi Ani mengatakan kalau ayah jatuh dari tempat tidur saat akan bangun. Dengan sekuat tenaga Nadya lari ke kamar ayah. Dan tampak dokter yang di panggil bi Ani sedang memeriksa pak Ridwan, ayah Nadya.


"Dokter bagaimana keadaan ayah?"


""Kesehatan Pak Ridwan kurang baik, sebaiknya di rawat di Rumah Sakit agar dapat terkontrol sampai keadaannya lebih sehat." Dokter menuturkan tentang kesehatan ayah Nadya.


"Kalau menurut dokter ayah akan lebih baik kesehatan nya, tidak apa apa ayah di rawat saja."


Hai reader, ini karya terbaru aku, jangan lupa koment, like dan tekan tombol favoritnya. Rate bintang 5 ya