
Beberapa bulan berlalu.
Nadya sudah menyelesaikan tugas akhir sekolah sekaligus ujian akhir nasional. Gadis itu turun dari motornya dengan wajah riang, merasa tak sabar untuk segera menggendong keponakannya yang gantengnya sebelas dua belas denhan mas Reza.
"Assalamualaikum!" Ucap Nadya tergesa yang segera menghampiri Rendra yang sedang dipangku oleh Bunda Maya.
"Rendra-"
"Cuci tangan dulu, Nad!" Sergah Bunda Maya mengingatkan sang putri.
"Ganti baju, cuci kaki," sambung Bunda Maya lagi pada Nadya yang hanya merengut.
"Cium dikit masa nggak boleh, Bund?" Rayu Nadya pada sang bunda.
"Nggak boleh!" Jawab Bunda Maya tegas.
"Yaudah! Rendra jangan dibawa kemana-mana, ya, Bund! Nadya cepet kok ganti bajunya!" Ucap Nadya yang langsung bergegas masuk kamar untuk berganti baju.
Selesai ganti baju, Nadya mencuci tangan dan kaki, lalu kembali menghampiri Bunda Maya dan Rendra.
"Rendra! Ayo ikut bulik!" Nadya memasang wajah gemas dan buru-buru mengambil bayi berusia tiga bulan itu dari pangkuan sang bunda.
"Mbak Riska mana, Bund?" Tanya Nadya yang tak melohat keberadaan Mama dari Rendra tersebut.
"Tidur siang. Kasihan, semalaman nggak tidur karena begadang," jawab Bunda Maya.
"Masih suka begadang, ya, Ganteng?"
"Kayak Papa kamu saja!" Nadya menimang-nimang Rendra dengan gemas.
"Oh, ya, Bund. Nadya jadi daftar ke UNY, ya! Buat kuliahnya," ujar Nadya meminta pendapat sang Bunda.
"Ya,kalau kamu sudah sreg, Bunda dukung aja, Nad!"
"Papa sama Reza kan juga udah dukung kamu. Nanti bisa tinggal di rumah Eyang Putri sekalian nemenin Eyang Putri sambil kuliah," tutur Bunda Maya seraya mengusap kepala sang putri.
Nadya mengangguk-angguk masih sambil menimang Rendra.
"LDR-an berarti habis ini," gumam Nadya yang tak sengaja didengar oleh Bunda Maya.
"LDR-an sama siapa?" Tanya Bunda Maya mengernyit curiga.
"Hehe, bukan siapa-siapa, Bund!" Jawab Nadya seraya meringis.
"Zikri?" Tebak Bunda Maya yang langsung membuat Nadya salah tingkah.
"Eeeee. Kok Bunda tahu, sih?"
"Jadi sebenarnya kami sama Zikri itu pacaran atau bagaimana, Nad?" Tanya Bunda Maya memastikan.
"Nggak ada pacaran, Bund!" Kilah Nadya cepat.
"Kata Mas Zikri jangan anggap pacaran, takutnya ada masalah, putus malah musuhan." Sambung Nadya lagi sedikit menjelaskan.
"Trus?" Bunda Maya semakin menyelidik.
"Ya teman aja." Nadya masih menimang-nimang Rendra.
"Nanti kalau emang jodoh pasti ada jalannya. Kata Mas Zikri begitu." Lanjut Nadya lagi.
"Mas Zikri juga nyuruh Nadya fokus ke sekolah sama kuliah dulu. Mas Zikri juga kan sekolah kedokteran banyak sibuknya, Bund! Mana sempat pacaran kayak orang-orang," ujar Nadya yang bibirnya sedikit merengut.
"Bunda tanya, boleh?" Bunda Maya menatap serius pada Nadya. Seserius pertanyaan yang akan dilontarkan bunda kandung Nadya tersebut.
"Tanya apa, Bund?"
"Kamu ada perasaan nggak sama Zikri?" Wajah Bunda Maya terlihat serius.
"Memang kalau ada kenapa, Bund? Nggak boleh?" Nadya memberikan Rendra pada Bunda Maya dan wajah gadis itu menunduk takut-takut.
"Mas Zikri juga katanya mau serius sama Nadya, Bund. Asal Nadya sabar nunggunya," sambung Nadya lagi masih menunduk.
"Kamunya sabar, nggak?" Tanya Bunda Maya lagi.
"Kan Nadya mau kuliah, Bund! Ya sabar-sabar aja," kali ini Nadya sudah mengangkat wajahnya dan menatap pada sang Bunda.
"Yakin nggak kepincut sama cowok lain nanti pas kuliah di Jogja?" Tanya Bunda Maya memastikan.
"Ish! Bunda! Nadya kan bukan tipe yang mudah berpaling," sanggah Nadya cepat.
Bunda Maya tertawa kecil.
"Yaudah, kamu jalanin dulu saja sama Zikri. Tapi jangan aneh-aneh, lho, ya!" Pesan Bunda Maya.
"Iya, Bund! Nadya bakal jaga diri, kok!" Janji Nadya pada sang Bunda.
****
"Malam, Mas Reza!" Zikri yang sedang menyesap tehnya menyapa Reza yang baru keluar dari dalam rumah.
"Masuk, Nad! Periksa lagi sana biar barangnya nggak ada yang ketinggalan!" Titah Reza pada Nadya yang sejak tadi menemani Zikri mengobrol di teras.
"Udah diperiksa dari tadi, Mas! Udah tinggal angkut besok pagi," rengut Nadya yang enggan masuk ke dalam rumah karena masih mau ngobrol bersama Zikri.
"Yakin?" Tanya Reza tak percaya.
"Iya, yakin!"
"Mas Reza kenapa, sih?" Sergah Nadya mulai bersungut.
"Nad, bicara sama Masnya yang sopan! Jangan teriak-teriak begitu!" Ujar Zikri menyela perdebatan Reza dan Nadya sekaligus menasehati Nadya.
"Nah, itu! Dengerin kata Zikri!" Timpal Reza sok-sokan ikut menasehati.
"Mas yang bikin Nadya kesel!" Nadya kembali merengut.
Reza akhirnya ikut duduk di teras dan tidak memaksa Nadya untuk masuk lagi.
"Kuliah semester berapa, Zik?" Tanya Reza membuka obrolan bersama Zikri.
"Masuk semester lima, Mas," jawab Zikri yang nada bicaranya selalu sopan dan ramah.
Seperti Reza dulu kayaknya pas masih pedekate sama Nadya.
"Calon dokter, ya?" Tanya Reza lagi.
"Insyaa Allah, Mas. Semoga bisa lancar semuanya." Jawab Zikri serta membenarkan kacamatanya.
"Trus disini nge-kost? Rumah asli mana?" Tanya Reza seklai lagi yang sudah mirip wawancara calon mantu.
Eh, calon adik ipar maksudnya.
"Wonogi-" Nadya menyahut dengan cepat, tapi juga dipotong Reza dengan cepat.
"Mas tanya ke Zikri, Nad! Bukan ke kamu!" Tegur Reza yang langsung membuat Nadya merengut.
Sedangkan Zikri hanya tertawa kecil.
"Wonogiri, Mas. Bapak sama ibu wirausaha. Trus Zikri anak bungsu dari tiga bersaudara," jawab Zikri lengkap sekali.
"Sama-sama anak bungsu berarti kalau sama Nadya. Nanti cakar-cakaran," gumam Reza sedikit terkekeh.
"Nggaklah, Mas! Mas Zikri kan pemikirannya dewasa meskipun anak bungsu! Ngemong juga!" Jawab Nadya mencari pembelaan.
"Udah kepedean!" Reza mengacak rambut Nadya.
"Belum tentu juga Zikri mau sama kamu, Nad!" Lanjut Reza yang tak berhenti mengejek Nadya.
Sementara Zikri hanya tertawa melihat keakraban Reza dan Nadya.
"Ya, kalau memang nggak mau sama Nadya, kenapa mas Zikri rajin apel kesini?"
"Kenapa? Kenapa?" Nadya mencibir-cibir pada Mas Reza.
"Mau nengokin Rendra," jawab Zikri yang langsung membuat Reza tergelak. Sedangkan Nadya semakin merengut.
"Tu! Dengerin sendiri. Zikri kesini mau nengokin Rendra. Bukan ngapelin kamu! Dasar geer!" Reza kembali mengacak rambut Nadya.
"Ish! Yaudah!" Nadya yang masih merengut bangkit dari duduknya.
"Nadya mau masuk. Males temenin Mas Zikri ngobrol!" Gerutu Nadya bersungut-sungut sekaligus menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
Gadis itu masuk ke dalam rumah meninggalkan Reza dan Zikri di teras.
"Ngambekan anaknya," ujar Reza yang masih tertawa kecil.
"Lucu tapi, Mas," pendapat Zikri sebelum kemudian pemuda itu menunduk malu.
"Bisa sabar nantinya ngadepin yang kayak gitu?" Tanya Reza serius.
"Insyaa Allah bisa, Mas," jawab Zikri menatap bersungguh-sungguh pada Reza.
"Semoga ada jalannya nanti kalau memang kalian berdua berjodoh," ucap Reza penuh harap.
"Aamiin."
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.