
Maya masuk ke kamar dan langsung terlihat Pak Teddy yang sudah berbaring santai di atas tempat tidur dan hanya mengenakan kaus singlet tanpa lengan. Maya menutup kembali pintu kamar, saat tiba-tiba lampu di seluruh rumah padam.
"Ya Allah!" Pekik Maya merasa kaget karena tiba-tiba mati lampu.
Sementara Pak Teddy malah terkekeh dari atas tempat tidur.
"Listriknya lupa nggak diisi, Mas?" Tanya Maya seraya meraba-raba tembok dan berjalan perlahan agar tidak menabrak meja atau lemari.
"Udah, kok. Sepertinya memang sedang mati lampu," jawab Pak Teddy yang ternyata sudah bergerak dengan lebih gesit. Suami Maya itu menyalakan senter di tangannya dan menyorot ke arah Maya yang masih berdiri tak jauh dari pintu.
"Kamu duduk dulu, May! Biar aku yang mencari lampu emergency. Nadya takut gelap tidak?" Ucap Pak Teddy seraya membimbing Maya menuju kd tempat tidur.
"Nggak takut, tapi anaknya nggak bisa tidur kalau gelap," jelas Maya pada Pak Teddy.
"Yaudah, aku ke kamar Nadya dulu," pamit Pak Teddy seraya meninggalkan Maya di dalam kegelapan kamar.
****
"Bund!" Panggil Nadya yang sudah keluar dari kamar seraya menyalakan lampu senter dari ponselnya.
"Nad, dikamar ada lampu emergency tidak?" Tanya Pak Teddy yang sudah menghampiri Nadya sambil menyalakan senter juga.
"Hah? Nggak tahu, Pa," Nadya garuk-garuk kepala.
"Cek di laci, coba! Biasanya Reza nyimpen satu di laci," titah Pak Teddy yang langsung memeriksa laci di dekat tempat tidur.
"Ada, Pa!" Lapor Nadya setelah menemukan satu lampu emergency bentuk hello kitty warna pink.
Mas Reza lucu juga, nyimpen lampu emergency bentuknya hello kitty.
"Bisa nyalainnya?" Tanya Pak Teddy memastikan.
"Bisa, Pa!" Jawab Nadya yang langsung menekan tombol switch. Kamar Nadya langsung terlihat terang.
"Kamu kunci lagi pintunya, Nad! Langsung tidur, ya!" Pesan Pak Teddy sebelum keluar dari kamar Nadya.
"Siap, Pa!" Jawab Nadya patuh yang langsung menutup pintu dan menguncinya. Gadis itu lanjut merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, saat tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela kamar Nadya.
Hah?
Siapa itu?
Tuk tuk tuk!
Ketukan terdengar lagi dari luar bersamaan dengan ponsel Nadya yang bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Mas Res?" Gumam Nadya setelah melihat siapa yang menelepon.
"Halo, Assalamualaikum, Mas!" Sambut Nadya setelah mengangkat telepon dari Reza.
"Walaikum salam. Buka jendela dulu, Nad! Aku yang ketuk-ketuk."
"What?" Nadya sedikit kaget namun gadis itu mengintip ke balik gorden jendela kamarnya. Dan benar saja, Reza sedang berdiri di di balik jendela kamar. Nadya membuka kaca jendela, namun tidak teralisnya.
Teralisnya dipaku.
Bagaimana Nadya mau membukanya?
"Mati lampu, ya?" Tanya Reza yang hanya membuat Nadya merengut.
Udah tahu mati lampu, masih saja tanya.
"Itu dapat lampu emergency dari mana?" Tanya Reza selanjutnya setelah melihat lampu yang Nadya letakkan di dekat tempat tidur.
"Punya Mas Res. Nemu di laci," jawab Nadya sedikit mencibir.
"Masa, sih?" Reza pura-pura tak ingat.
"Udah, ah, Mas! Nadya mau tidur!" Nadya berucap sambil menguap lebar.
"Tutup itu mulutnya, Nad! Nanti nyamuknya masuk bagaimana?" Reza mencolek hidung Nadya setelah tangannya masuk melalui sela-sela teralis.
"Mas Res nggak tidur? Malah ngajakin Nadya ngobrol!" Cebik Nadya yang malah membuat Reza tergelak.
"Iya, tadinya mau nganterin lilin, takutnya kamu takut gelap. Ternyata udah ada lampu emergency," Reza mengulurkan seplastik lilin pada Nadya lewat sela-sela teralis.
"Modus!" Cibir Nadya yang hanya membuat Reza garuk-garuk kepala.
"Ini lilinnya?" Tanya Nadya bingung.
"Kamu simpen aja," jawab Reza seraya menutup kembali kaca jendela kamar Nadya.
"Kunci yang rapat!" Pesan Reza sebelum pemuda itu berlalu pergi.
Nadya segera mengunci jendela kaca dengan rapat sesuai pesan Reza, lalu membenarkan lagi gorden yang menutupi jendela tersebut. Gadis itu lanjut merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan tak butuh waktu lama, Nadya sudah terlelap dengan cepat.
****
Pak Teddy kembali masuk ke kamar yang gelap gulita, dan Maya masih di posisinya semula.
"Sudah, Mas?" Tanya Maya saat melihat Pak Teddy datang.
"Sudah," jawab Pak Teddy seraya meletakkan senter yang masih menyala di atas meja dekat pintu masuk. Cahaya yang berpendar dari senter kecil itu hanya remang-remang.
"Kok belum tidur?" Tanya Pak Teddy selanjutnya yang sudah duduk di samping Maya yang langsung menundukkan wajahnya.
"Masih nungguin Mas. Tadi bilangnya mau dipijit," jawab Maya malu-malu masih dengan wajah yang menunduk.
"Oh, iya! Sedikit pegal ini habis angkat-angkat tadi," kekeh Pak Teddy yang langsung mengambil posisi tengkurap di atas tempat tidur.
"Mau pakai minyak gosok, Mas?" Tawar Maya pada suaminya tersebut.
"Nggak usah! Kamu pijat biasa saja," titah Pak Teddy yang hanya membuat Maya mengangguk. Tangan Maya mulai memijat punggung dan pundak Pak Teddy.
"Besok sore kita berangkat ke Jogja, May," ucap Pak Teddy memecah keheningan.
"Tunggu Nadya pulang dari tempat prakerin, nanti baru berangkat, biar Nadya tidak membolos lagi," lanjut Pak Teddy.
"Berapa hari rencanya di Jogja, Mas?" Tanya Maya yang tanagnnya masih bergerak lincah di pundak sang suami.
"Hari Senin kan harpitnas, Nadya biar ijin satu hari. Nanti diijinkan sama Reza. Kita pulang Selasa siang atau Selasa sore, jadi Rabunya Nadya sudah bisa masuk prakerin lagi," jelas Pak Teddy yang hanya membuat Maya mengangguk.
"Bawa beberapa baju ganti, ya, nanti! Rumah eyangnya Reza dekat pantai juga, nanti kita jalan-jalan ke pantai," ucap Pak Teddy yang tiba-tiba sudah berguling dan berganti posisi menjadi telentang. Maya sedikit kaget, karena pria yang baru siang tadi sah menjadi suaminya tersebut menatap ke dalam wajah Maya dengan tatapan yang tak dimengerti oleh Maya.
"Yang mana lagi yang mau dipijat, Mas?" Tanya Maya yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Enaknya yang mana?" Pak Teddy malah balik bertanya.
"Lha yang pegel yang mana, gitu," suara Maya semakin terdengar lirih saat Pak Teddy sudah bangun dan duduk di depan Maya dengan tubuh bagian atas yang tak tertutupi apapun.
"Kamu nggak lagi dapat tamu bulanan, kan, May?" Tanya Pak Teddy memastikan sambil tangannya terulur dan mengusap wajah Maya.
"Enggak, Mas. Udah selesai seminggu yang lalu," jawab Maya yang masih menundukkan wajahnya.
"Masih malu seperti anak perawan, ya?" Goda Pak Teddy seraya tertawa kecil.
Sepertinya sedang berusaha mencairkan suasana.
"Mau buka sendiri atau aku yang bukain?" Tanya Pak Teddy selanjutnya yang langsung membuat Maha mengangkat wajahnha dan menatap bingung ke arah sang suami.
"Apanya, Mas?"
"Daster kamu itu," pak Teddy mengendikkan dagunya ke arah daster bunga-bunga warna coklat muda yang dikenakan Maya malam ini.
Eh!
"Aku bukain pelan-pelan sini!" Pak Teddy sudah menarik tubuh Maya ke dalam dekapannya dan mulai melucuti satu per satu baju yang dikenakan oleh Maya.
Meskipun masih sedikit malu-malu, namun Maya tetap menunaikan kewajibannya sebagai istri pada Pak Teddy di tengah keremangan kamar karena mati lampu yang tak kunjung selesai.
Lewat tengah malam, barulah lampu di kamar dan di seluruh rumah menyala. Maya dan Pak Teddy juga sudah menyelesaikan beberapa ronde dan pasangan paruh baya yang sama-sama lelah itu sudah terlelap sambil saling mendekap di dalam satu selimut.
.
.
.
Duh, takut kuwalat kalau adegan nganunya orang tua aku jabarin 😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.