NADYA

NADYA
KEPUTUSAN



Reza sudah kembali bergabung bersama Papa Teddy, Bunda Maya, dan Nadya seraya membawa dua lusin donat reguler dan satu box baby donat.


"Banyak sekali, Za? Siapa yang mau makan?" Tanya Bunda Maya yang sebenarnya sangat jarang makan donat sultan ini. Pernah sekali makan saat di pabrik dibelikan sama pak Teddy dan dimakan ramai-ramai bersama karyawan lain.


"Nanti bisa dibawa pulang kalau tidak habis, May!" Jawab Pak Teddy yang langsung membuka satu box donat dan mengambil yang topping oreology.


"Makan lagi, Nad! Biar kuat kawin lari bareng aku nanti," Reza menyodorkan kotak yang berisi baby donut pada Nadya yang kini terkikik.


"Mas Res lucu!" Gumam Nadya yang belum berhenti terkikik.


"Jadi gimana, Pa? Reza pokoknya tetap nggak mau ngalah dan maunya nikah sama Nadya," cecar Reza to the point yang sepertinya sudah tak sabar mendengar keputusan Pak Teddy.


"Yaudah kamu tunggu saja sampai Nadya lulus SMK kalau begitu," jawab Pak Teddy enteng.


"Loh! Emang boleh, Pak?" Tanya Nadya dan Bunda Maya serempak seperti koor paduan suara.


"Apanya? Nadya nikah sama Reza? Ya boleh, to! Kan bukan saudara sedarah," jawab Pak Teddy panjang lebar.


"Tapi kan Pak Teddy dan Bunda mau menikah, berarti Mas Res dan Nadya bakalan jadi saudara-" Nadya tak melanjutkan kalimatnya karena merasa sedih bingung.


"Saudara tiri? Atau saudara ketemu gede?" Sahut Pak Teddy menyambung kalimat Nadya dan sedikit terkekeh.


"Dalam agama sebenarnya boleh, Nad. Karena kamu sama Reza kan memang tidak ada hubungan darah apa-apa."


"Atau kalau kalian ragu, kita besok bisa ketemu sama orang yang lebih paham," tutur Pak Teddy panjang lebar memberikan penjelasan pada Reza dan Nadya.


"Tapi meskipun diperbolehkan oleh agama, dan hukumnya sah, di masyarakat kita tak banyak yang berani mengambil resiko karena ya, begitu!" Bunda Maya ikut menimpali.


"Begitu bagaimana maksudnya, Bund?" Tanya Reza tidak paham.


Pak Teddy dan Bunda Maya saling melempar pandang sebelum kedua orang tua tersebut tersenyum bersamaan seakan sedang bicara lewat tatapan mata.


"Lambe tonggo!" Pak Teddy yang akhirnya buka suara.


"Bakal jadi bahan gunjingan tetangga, Za! Makanya tidak banyak yang berani melakukan dan mengambil resiko. Padahal sebenarnya juga tidak apa-apa dan malah bisa semakin mempererat hubungan antar keluarga."


"Asal kuat aja dengar gunjingan tetangga," jelas Bunda Maya panjang lebar yang sepertinya paham sekali dengan hal-hal semacam ini.


"Ck! Nggak usah urus sama lambe tonggo, Bund! Orang kita makan juga nggak minta sama mereka!" Sahut Reza penuh percaya diri.


"Tapi ini beneran nggak apa-apa, Bund? Nadya kok masih merasa ragu," sela Nadya menatap bergantian pada Bunda Maya dan Pak Teddy.


"Besok bunda antar ketemu sama bapaknya Lita kalau kamu masih ragu, Nad!" Ujar Bunda Maya memberikan solusi.


"Kok bapaknya Lita, Bund?" Tanya Nadya bingung.


"Ya, karena dulu bapaknya Lita itu juga nikah sama saudara tirinya. Sama kayak kamu sama Reza nantinya," ujar Bunda Maya yang langsung membuat Nadya ternganga.


Kok Lita tak pernah cerita?


Kok Bunda malah bisa tahu?


"Kok bunda tahu?" Tanya Nadya kepo.


"Tahulah! Udah jadi rahasia umum di gang tempat tinggal kita, Nad," jawa Bunda Maya santai.


Nadya garuk-garuk kepala sambil bergumam sendiri.


"Pantesan Lita eyangnya cuma sepasang. Ditanya itu eyang dari bapak apa ibunya malah jawabnya ya dari bapak ya dari ibu. Nadya pikir selama ini Lita hanya berkelakar ternyata memang benar adanya."


"Dor! Melamun!" Reza menegur Nadya seraya mencubit pipi gadis itu.


"Za!" Tegur Pak Teddy yang sepertinya tak suka melihat sikap genit Reza.


"Apa, sih, Pa? Kan kata Papa dan Bunda boleh. Berarti Nadya tetap pacar Reza sekarang, dong! Merangkap jadi calon adik tiri juga," seloroh Reza mencari pembenaran.


"Apa, sih, Pak! Kok jadi saya?" Buhda Maya memukul kecil pundak Pak Teddy yang langsung membuat pria di sebelahnya itu tergelak.


"Ciyee, Bunda udah pukul-pukul! Panggilannya ganti juga, dong, Bund! Masa panggil Pak terus," celetuk Nadya menggoda sang bunda.


"Tu! Dengerin Nadya. Panggil Mas mulai sekarang," Pak Teddy sudah meraih tangan Bunda Maya dan menggenggamnya dengan erat.


"Ck! Tadi nyuruh Reza nggak genit ke Nadya. Itu Papa genit juga ke Bunda," protes Reza mencibir sang papa yang malah semakin erat menggenggam tangan Bunda Maya.


Membuat iri saja!


Reza juga mau menggenggam tangan Nadya saat pulang nanti.


"Kan bentar lagi sah! Kalau kamu sama Nadya masih nunggu setahun lagi," ejek Pak Teddy pada Reza yang merengut.


"Nggak bisa bareng emang, Pa? Nadya nikah dulu sama Reza nanti lanjut sekolah lagi gitu. Daripada kami kebablasan," cengir Reza yang langsung berhadiah delikan dari Bunda Maya.


"Bercanda, Bund! Reza jagain Nadya sampai sah, kok!" Lanjut Reza yang ganti tersenyum manis pada Bunda Maya.


"Bagaimana, May? Mau dinikahkan dulu biar nggak kebablasan, atau suruh Reza nunggu sampai Nadya dapat ijazah, baru lanjut ijab sah?" Pak Teddy meminta pendapat dari Bunda Maya.


"Reza sudah berjanii kalau dia akan menunggu Nadya sampai lulus SMK, Mas! Jadi ya tunggu Nadya lulus," ujar Bunda Maya seraya menatap pada Nadya yang sedang asyik mencoba satu per satu baby donut di hadapannya.


Nadya pasti senang sekali ditraktir makan donat oleh Reza dan Pak Teddy di dalam mall. Secara, donat yang biasa dimakan Nadya made in budhe samping rumah yang cuma pakai taburan gula donat.


"Harus sedia gembok tambahan berarti buat kamarnya Nadya nanti," gumam Pak Teddy sedikit keras yang tentu saja berniat menyindir Reza.


"Ck! Reza kan bukan Omes, Pa!" Sahut Reza bersungut-sungut.


"Omes apaan, Mas" tanya Nadya yang sudah berhemti memakan baby donut. Hanya tinggal tersisa setengah box. Sepertinya Nadya benar-benar kelaparan.


"Otak mesum," Reza berbisik di telinga Nadya yang sontak membuat gadis remaja itu melebarkan kedua bola matanya.


"Ish!" Nadya ganti memukul lengan Reza sekarang.


Reza hanya tertawa dan tak sedikitpun menghindar dari pukulan Nadya yang tak berasa apa-apa di lengan Reza.


"Jadinya, Papa sama Bunda kapan ijab sahnya? Nanggap campursari, nih!" Reza menaik turunkan alisnya ke arah sang Papa.


"Nggak ada!" Sahut Bunda Maya cepat.


"Ijab saja dan nggak ada bikin acara aneh-aneh, Za!" Lanjut Bunda Maya yang sepertinya cinta kesederhanaan.


Pantas saja Papa sampai klepek-klepek dan maju tak gentar mengejar cinta Bunda Maya.


"Rencananya mau di Jogja saja ijab sahnya. Nanti sekalian kita kenalkan Bunda dan Nadya ke keluarga besar Eyang Putri, kan," tutur Pak Teddy memaparkan rencananya pada Reza.


"Iya benar, Pa! Eyang Putri pasti ngomel kalau Papa nikah nggak ngasih kabar," timpal Reza yang sepertinya juga sudah paham dengan sifat keluarga besarnya.


"Jadi, kapan kita ke Jogja, Pa?" Tanya Reza selanjutnya merasa tak sabar.


"Secepatnya. Nanti Papa cari hari yang pas dulu, biar nggak ganggu sekolah Nadya juga," pungkas Pak Teddy yang langsung membuat semua orang mengangguk setuju.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.