
"Nanti disana kuliah yang benar, Nad! Nggak usah aneh-aneh, nggak usah mikir pacaran dulu!" Nasehat Bunda Maya yang sepanjang perjalanan ke Jogja tak berhenti memberikan wejangan untuk Nadya.
Pagi ini yang mengantar Nadya ke Jogja memang Papa Teddy dan Bunda Maya
"Iya, Bund!" Jawab Nadya patuh.
"Pacarnya ketinggalan di Solo, May! Bagaimana mau pacaran," kekeh Papa Teddy dari kursi pengemudi.
"Papa sok tahu!" Celetuk Nadya yang malah membuat Papa Teddy dan Bunda Maya tertawa.
"Jadi sama Zikri, kan, Nad? Tinggal nunggu dilamar," celetuk Papa Teddy lagi.
"Masih lama, Pa! Baru juga mau mulai kuliah, masa udah mau dilamar aja," sahut Nadya yang masih mengutak-atik ponselnya sejak tadi. Nadya memang sedang bertukar pesan dengan Lita yang katanya nggak lanjut kuliah dan memilih ikut seleksi di salah satu garment yang ada di kota Ungaran.
"Lita jadi lanjut kuliah, Nad?" Tanya Bunda Maya mengganti topik pembicaraan.
"Lita berangkat ke Ungaran minggu depan, Bund! Mau langsung cari duit katanya buat beli skincare," jawab Nadya seraya terkekeh.
"Yah, sayang sekali. Padahal ibunya Lita waktu itu pernah cerita ke Bunda kalau beliau pengen Lita lanjut kuliah," gumam bunda Maya menyayangkan keputusan Lita.
"Iya Lita-nya udah capek sekolah katanya. Udah mau langsung kerja. Nanti kalau dipaksa tetap kuliah malah tekanan batin," pendapat Nadya sok bijak.
"Iya, bener itu!" Timpal Papa Teddy yang setuju dengan pendapat Nadya.
"Lita bilangnya ke Nadya mau kerja dulu, Bund. Nanti katanya kalau pengen kuliah ya tinggal pulang trus lanjut kuliah," ujar Nadya lagi yang langsung membuat Bunda Maya mengangguk-angguk.
Mobil sudah sampai di rumah Eyang Putri yang tetap sama seperti terakhir kali Nadya berkunjung.
Begitu mobil berhenti, Nadya langsung turun dengan riang meninggalkan Bunda Maya dan Papa Teddy. Sepertinya gadis itu sudah tak sabar untuk segera menyapa Eyang Putri.
****
"Assalamualaikum." suara halus Mas Zikri langsung terdengar begitu Nadya mengangkat telepon.
"Walaikum salam. Mas Zikri gimana kabarnya?" Tanya Nadya serelah menjawab salam.dari Zikri.
"Alhamdulillah sehat, Nad. Kamu sehat juga, kan?"
"Iya, alhamdulillah Nadya juga sehat, Mas." Jawab Nadya seraya tersenyum-senyum sendiri.
"Mmmm, lagi ngapain sekarang? Udah sholat isya'? Udah makan?"
"Udah semua, Mas! Tinggal mapan bobok saja," Nadya kembali tersenyum sendiri.
Ini sudah masuk tahun kedua Nadya kuliah di Jogja sekaligus menjalin hubungan jarak jauh dengan Zikri.
Bukan berarti Nadya tidak pernah pulang ke Solo. Nadya beberapa kali pulang ke Solo selama dua tahun ini. Namun meskipun begitu, waktu untuk bertemu Zikri tetap terbatas dan kadang sama sekali tidak ada waktu mengingat Zikri yang sedang sibuk-sibuknya dengan kuliah.
Paling mentok, ya mereka hanya akan ngobrol via telepon seperti saat ini.
"Nggak ada tugas?"
"Udah beres tugasnya. Kan kata Mas Zikri nggak boleh ditunda-tunda kalau ada tugas, biar nggak numpuk," jawab Nadya yang selalu ingat pesan Zikri yang satu itu.
"Iya, ya! Tapi kenapa malah aku yang suka nunda-nunda tugas. Sekarang jadi numpuk tugas aku."
Terdengar gelak tawa Zikri dari ujung telepon.
"Nah, lho! Ketahuan!" Goda Nadya ikut-ikutan tergelak.
"Mana ini lagi pulang ke Wonogiri, rencana mau jalan-jalan malah sibuk ngerjain tugas."
"Oh, lagi di Wonogiri, ya?" Tanya Nadya memastikan.
"Iya, barusan cerita sama Mama soal kamu. Eh, Mama jadi penasaran pengen ngomong sama kamu."
"Hah? Mau ngomong apa, Mas?" Tanya Nadya yang mendadak jadi grogi dan salah tingkah.
Nadya yang tadinya sudah berbaring di atas kasur, langsung bangun dan berganti posisi menjadi duduk.
"Ya ngobrol-ngobrol biasa. Mama baik, kok! Nggak apa-apa, ya!"
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam, Tante," jawab Nadya sesopan mungkin seraya masih berusaha menyingkirkan rasa groginya.
"Nadya, ya!"
"Iya, Tante. Ini Nadya, temannya Mas Zikri," jawab Nadya lagi yang tetap grogi.
"Kuliah?"
"I-iya, Tante. Kuliah di Jogja jurusan teknik tata busana." Jawab Nadya sedikit menjelaskan.
"Oh. Bagus itu."
Nadya hanya manggut-manggut karena grogi.
"Nadya berapa bersaudara?"
"Dua bersaudara, Tante. Nadya anak bungsu," jawab Nadya seraya meringis.
Mendadak Nadya ingat pada akta lahirnya yang tak tercantum nama sang ayah dan hanya ada nama Bunda Maya.
Ya, Nadya adalah anak yang lahir di luar pernikahan, jadi akta Nadya tentu saja berbeda dari kebanyakan akta yangbada di masyarakat. Mungkin sebaiknya Nadya memberitahu Zikri tentang kenyataan ini sebelum mereka memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius.
Nadya tak boleh berbohong ataupun menutupi identitasnya. Masalah nantinya Zikri bakal menerima atau todak, biarlah itu menjadi urusan yang di atas. Toh yang penting Nadya sudah jujur.
"Nad, kamu tidur?" Teguran dari Mamanya Zikri menyentak lamunan Nadya.
"Eh, tidak kok, Tante. Maaf,"
"Yaudah, kalau Nadya sudah ngantuk, Nadya istirahat saja. Besok kuliah, kan?"
"Iya, Tante! Besok ada jadwal kuliah," jawab Nadya sedikit salah tingkah.
"Yasudah, Tante tutup teleponnya, ya! Nadya istirahat, gih! Assalamualaikum!"
"Walaikum salam warohmatullah wabarokatuh." Jawab Nadya lengkap sebelum kemudian telepon terputus.
Nadya hanya menatap pada layar ponselnya yang semakin meredup dan masih memikirkan bagaimana ia akan mulai bicara pada Zikri tentang identitasnya yang sebenarnya.
Layar ponsel Nadya kembali menyala saat tiba-tiba ada pesan masuk dari Zikri.
[Tadi lupa mau bilang. Minggu depan aku udah mulai koas. Jangan sedih kalau aku jarang hubungi kamu, ya!] -Zikri-
[Hehe, Nadya paham, kok, Mas! Tetap semangat, ya! Semoga cita-cita Mas Zikri buat jadi dokter segera tercapai] -Nadya-
[Aamiin! Satu cita-cita aku yang lain semoga cepat tercapai juga, ya!] -Zikri-
[Cita-cita lain? Apa memangnya?] -Nadya-
[Menjadikan kamu halal bagiku] -Zikri-
Wajah Nadya seketika bersemu merah membaca pesan terakhir Zikri.
Nadya tersenyum sendiri dan langsung membenamkan wajahnya ke bawah bantal.
Perasaan Nadya mendadak jadi campur aduk.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.