
Satu bulan sudah berlalu, namun hubungan Nadya dan Hengki masih belum baikan, Nadya selalu sengaja menghindar dari Hengki. Nyonya Rima yang melihat mereka belum akur juga menjadi prihatin, bagaimana cara mempersatukan mereka kembali.
Selama ini Nadya selalu bergantung pada Nyonya Rima agar dapat menghindar dari suaminya, nyonya Rima mencari cara agar dirinya bisa jauh dari mereka untuk sementara waktu. Dan secara kebetulan teman teman sosialita mengajaknya untuk keliling Eropa menggunakan kapal pesiar. Dan ini adalah kesempatan untuk menghindari anak dan menantunya selama.beberapa waktu.ke depan.
"Sayang ada di dalam?" nyonya Rima mengetuk pintu kamar Nadya
"Masuk aja mah ga di kunci kok." sahut Nadya
"Kamu lagi apa sayang?" tanya nyonya Rima
"Ini mah lagi ngerjain tugas, ada apa mah?" tanya Nadya
"Sayang teman teman arisan mamah mau ngajakin mamah keliling eropa pake kapal pesiar."
"Mamah mau naik kapal pesiar?"
"Iya sayang, mamah lagi kangen jalan jalan bareng temen, karena selama ini mamah hanya di butik, kumpulan sama temen juga cuma ga jauh jauh dari dari kota, paling jauh Bali."
"Mah, Nadya boleh ikutan bareng teman teman mamah ga?"'Nadya terlihat sedih.
"Maunya mamah juga kamu ikut biar ada temen, tapi mereka semua berangkat sendiri ga ada keluarganya yang ikut, jadi mamah ga bisa ajak kamu sayang."
"Di rumah Nadya sama siapa?"
"Kan ada suami kamu sayang." Nyonya Rima tertawa gemas melihat menantunya manja seperti.
"Mamah kapan berangkat nya?"
"Lusa berangkat dari Singapore, Kenapa?"
"Mas Hengki sudah tahu?" Nadya balik bertanya
"Belum, mamah belum bicara dengan Hengki, rencananya nanti malam mamah mau bicara sama Hengki."
"Mamah harap kepergian mamah akan membuka hubungan baik kamu dan Hengki menjadi seperti sebelum kecelakaan terjadi, coba kamu dengarkan penjelasan suami kamu sayang."
"Ya udah mamah mau beres beres dulu takutnya ada yang ketinggalan." nyonya Rima beranjak keluar kamar meninggal kan menantunya yang sedang termenung.
Sebenarnya nyonya Rima tidak tega harus meninggalkan Nadya menantu yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. Nadya juga selalu manja kalau berada di dekatnya, mungkin karena sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, apalagi sekarang sudah yatim piatu. Nyonya Rima harus menahan rasa rindu dengan segala celotehnya, manja yang akan menghampiri nya. Namun semua dia lakukan demi kebaikannya.
Makan malam seperti biasa nya hanya bertiga, nyonya Rima bermaksud menyampaikan tentang kepergian nya keliling Eropa dengan lapar pesiar.
"Hengki mamah sama teman teman mau traveling ke Eropa pakai kapal pesiar, kami berangkat dari Singapore dan lusa kami berangkat." ucap nyonya Rima
"Kok mendadak, atau sudah ada rencana?"
"Rencananya sudah lama sekitar satu bulan yang lalu karena kalau mendadak tidak akan dapat tiket, kenapa mamah bicaranya dengan kalian berdua mendadak, karena segala sesuatu nya baru selesai satu minggu yang lalu. Kalau mamah bicara sebelum urusan surat surat terus perginya batal kan mamah malu banget."
"Mamah pergi bukan karena kami ada masalah kan?" Hengki melirik Nadya.
"Bukan, memang mamah mau traveling aja." jawab nyonya Rima santai.
"Kalau malah sudah sampai Eropa dan kalian ada waktu, susul mamah pake pesawat, biar sekalian bulan madu lagi." Nyonya Rima.tersenyum penuh makna
"Karena mamah mau berangkat lusa, malam ini boleh ga tidur sama mamah?" pinta Madya
"Sebaiknya kamu tidur sama suami kamu lagi ya, biar nanti terbiasa lagi tidur sama suami kamu kalau mamah tidak di rumah." nyonya Rima menjawab.
"Mamah sudah selesai, mamah duluan mau istirahat dulu, cape." Nyonya Rima berlalu ke kamarnya
...****************...
Hari keberangkatan nyonya Rima sudah tiba, Hengki dan Nadya mengantarkan nya ke bandara karena semua teman teman nya berkumpul di sana. Sampai di bandara, kumpulan sosialitanya sudah berada di sana, kehebohan terjadi saling pamer perhiasan dan pakaian aksesoris branded. Ternyata memang benar, mereka berangkat hanya sendiri sendiri tidak ada keluarga yang ikut serta. Panggilan keberangkatan sudah di umumkan, pesawat yang akan membawa mereka ke Singapore sudah lepas landas.
Nadya berbaring di tempat tidur dan tidak terasa matanya terpejam, menjelang sore baru bangun karena perutnya yang lapar. Masuk ke dapur tidak ada makanan yang bisa di makan hanya ada bahan mentah saja so dalam lemari pendingin. Nyonya Rima menyuruh para Art untuk libur hanya security saja yang masih tetap masuk.
Selesai memasak dan menyantapnya, Nadya kembali ke kamar, berdiri di balkon, udara di luar sangat dingin melihat langit sudah mendung, sebentar lagi akan turun hujan.
Hujan pun turun dengan lebatnya disertai petir yang saling menyambar, Nadya naik ke tempat tidur dan memakai selimut karena takut akan suara petir. Tiba tiba listrik padam, karena hari menjelang malam, kamar menjadi gelap. Keringat dingin mulai keluar, yang ada dalam pikiran Nadya hanya menghubungi Hengki.
"Aku harus telpon mas Hengki dari pada ketakutan sendiri."
Panggilan pertama tidak di jawab, yang ke dua juga, baru panggilan yang ke tiga ada sahutan dari Hengki
" Halo sayang ada apa?" Hengki bertanya dengan nada khawatir
"Mas cepat pulang, aku sendirian dirumah, listrik padam, aku takut." Jawab Nadya sambil menangis.
"Sayang kamu jangan nangis, mas pulang sekarang." Hengki segera bergegas pulang, padahal Hengki sedang meeting dengan seluruh stafnya.
Hengki seorang CEO yang sangat dingin dan disiplin, para karyawannya sudah sangat tahu, kalau istri dan mamah nya saja yang dapat menghentikan meeting yang sangat penting.
Meeting di teruskan Andri asistennya nya.
Sekitar setengah jam, Hengki sudah sampai di rumah. Keadaan masih gelap, Hengki segera naik ke atas menuju kamarnya.
"Sayang kamu ada di mana?" teriak Hengki
"Mas aku ada di kamar."
Hengki masuk ke dalam kamar dan segera mendekati Nadya.
"Sayang..."
"Mas aku takut." Nadya memeluk Hengki sangat erat.
"Sudah jangan takut, mas ada di sini." Hengki mengeratkan pelukannya.
Sudah sangat lama Hengki tidak memeluk istrinya, dan berterimakasih pada hujan dan listrik yang padam, karenanya Hengki merasakan kehangatan pelukan istrinya kembali.
"Sayang'"
"Apa?"
"Bisa lepas sebentar ga, mas mau ke kamar mandi sebentar."
"Jangan jauh jauh aku takut, kalau mas mau ka kamar mandi aku ikut."
"Ya sudah ayo."
"Tapi gendong." mulai mode manisnya
"Ayo, naik di belakang mas." dengan senang hati Hengki menggendong Nadya di belakang. Hatinya sangat bahagia karena Nadya nya sudah kembali ke pelukan nya.
Diturunkannya Nadya dengan perlahan,
"Mau duduk di situ atau mau peluk mas dari belakang, tapi mas buka sepatu dan jas dulu."
"Iya."Sahut Nadya
Selesai melakukan ritualnya, Hengki berbalik badan berhadapan langsung dengan Nadya dan mengangkat tubuh melingkarkan kalo Nadya ke pinggangnya me..... bibir Nadya tanpa perlawanan. Hengki membawanya kembali ke kamar dan segera menyalurkan rindu yang selama ini terpendam.
...****************...
Hai reader, jangan lupa koment, like dan vote favoritnya dan juga kasih rata bintang 5 yah