
Dengan amarah yang tidak terbendung lagi, Hengki terus melajukan kendaraan nya menuju sebuah hutan di pinggiran kota, sebuah bangunan yang sudah tua, tumbuhan liar gelap bau lembab sangat terasa, aura mencekam begitu kental. Beberapa orang penjaga yang berwajah tidak bersahabat membungkukkan badan.
"Di mana wanita itu di tempatkan?"
"Di kamar paling ujung tuan."
"Buka pintunya saya ingin melihat wajah wanita ular itu."
"Baik tuan."
Krrekkk......
Suara pintu terbuka, di sudut ruangan yang gelap seorang wanita muda sedang duduk di kursi yang sudah rusak, wajah cantiknya berubah pucat seketika melihat siapa yang datang. Tubuh nya gemetar, air matanya berlinang membasahi wajah nya yang sudah kotor karena tidak terurus.
"Lebih baik kamu bunuh saja aku dari pada harus di siksa seperti ini. Kau sangat kejam Hengki, tidak ingat kah kau ketika kita masih bersama, manisnya cinta yang kita rasakan. Dimanakah Hengki yang selalu menjadikan aku seperti ratu. Tapi kenapa hanya karena wanita licik itu kamu campakkan aku begitu saja. Kenapa Hengki?" Jennifer berteriak dan menangis
"Siapa yang kamu sebut wanita licik. Bukankah itu sangat cocok untuk julukanmu, atau harus ku sebut wanita ular. Kamu lelang tubuhmu pada semua lelaki hidung belang, tidak cukup kah kau dapatkan dari ku saja. Dasar wanita serakah."
"Sakit hati istri ku harus kau bayar lebih sakit hati dari yang istriku rasakan. Tubuh yang kau celakai harus ku bayarkan supaya kamu tahu bagaimana rasanya celaka." ucap Hengki geram.
"Hengki lepaskan aku, ku mohon akan aku lakukan apa saja agar aku bisa bebas." pinta Jennifer dengan suara putus asa
"Tidak semudah itu kamu bebas wanita ular, tunggu saja pembalasanku." Hengki berbalik menuju pintu keluar.
Jennifer berteriak teriak minta di bebas kan namun Hengki tidak peduli dengan teriakan Jennifer.
Pintu di buka oleh penjaga yang ada di ruangan itu.
"Apa kamu sudah siapkan binatang pengerat itu?"
"Sudah tuan, tinggal kami masukan ke dalam kamar itu."
"Masukkan binatang pengerat itu ke dalam kamar, biar dia mati perlahan di gigit binatang itu."
"Kalian jangan meninggalkan dia sebelum sekarat."
"Baik tuan, akan kami laksanakan, dan memastikan kalau dia mati."
"Bagus"
Hengki beranjak dari tempat itu dan segera masuk kembali ke dalam mobil yang di parkir tidak jauh dari tempat itu.
Sementara itu penjaga memasukan ribuan tikus got ke dalam kamar yang berisi Jennifer. Terdengar jeritan wanita itu karena di gigit tikus yang kelaparan.
Hengki terus melajukan mobilnya membelah kota yang mulai sepi karena sudah larut malam. Rumah sakit yang menjadi tujuannya. Sudah sangat rindu sekali dengan istri cantiknya. Walaupun Nadya masih marah, walau hanya bisa dekat saja sudah merasa bahagia.
Satu minggu sudah Nadya di rawat, hari ini sudah bisa pulang. Nyonya Rima membantu membereskan barang barang milik Nadya yang selama satu minggu di rawat. Hengki sedang menebus obat di apotik dan membayar biaya rumah sakit di administrasi.
"Sayang tidak ada barang yang tertinggal, coba kamu cek lagi?" Nyonya Rima bertanya pada Nadya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sepertinya sudah semua." sahut Madya
"Mah, boleh ga kalau sekarang aku pulang ke rumah ayah?" Nadya bertanya dengan ragu ragu
"Kenapa sayang, apa kamu masih marah sama suami kamu?" tanya nyonya Rima
"Entahlah mah." Nadya menjawab dengan mata yang berkaca kaca
"Mamah tahu kamu masih marah sama suami kamu, tapi apakah kamu tidak memberikan kesempatan pada suami mu untuk memperbaiki diri?" Nyonya Rima segera memeluk Nadya
"Kita pulang ke rumah malah ya, kalau mau ke rumah ayah, bisa kapan kapan setelah hatimu sudah tenang." bujuk nyonya Rima
"Iya mah." sahut Nadya yang tidak bisa menolak permintaan mertua yang sangat menyayangi nya dengan tulus.
Pintu terbuka, Hengki datang membawa kursi roda dan meminta Nadya untuk duduk,
"Ga usah pake kursi roda mas, aku bisa bisa jalan sendiri." tolak Madya
Nyonya Rima yang melihat perdebatan itu hanya tersenyum dan berdo'a dalam hati semoga anak dan menantunya selalu hidup rukun dan secepatnya di berikan keturunan.
Hengki segera mendorong kursi roda menuju lobi, nyonya Rima membawa tas yang berisi pakaian dan peralatan mandi milik Nadya. Sampai di lobi, Hengki menggendong Nadya masuk ke dalam mobil. Nyonya Rima menyusul dan duduk di jok belakang.
Satu jam perjalanan sampai di rumah, Nadya membuka pintu mobil dan segera turun sebelum Hengki menggendong nya lagi masuk rumah. Hengki hanya menghela nafasnya. Masuk ke dalam rumah sudah ada bi Tuti dan beberapa art lainnya yang menyambut kedatangan nya.
"Selamat datang nona, semoga nona Nadya sehat selalu."
"Terimakasih atas do'anya" Nadya menjawab dengan tersenyum.
"Sayang lebih baik kamu istirahat dulu, jangan lupa minum obatnya."
"Iya mah."
Nadya terdiam sebentar melihat tangga yang sangat tinggi dirasakannya. Kepalanya masih terasa sangat pusing harus menaiki tangga.
"Kepala nya masih pusing, mas bantu naik ke atas." Hengki langsung menggendong Nadya naik ke kamarnya di lantai dua.
Sampai di kamar, Nadya di baringkan di tempat tidur dengan perlahan, di selimuti sampai dada.
"Tidur lah, mas akan menjagamu." Hengki mengecup keningnya.
Tidak ada penolakan dari Nadya, matanya di pejamkan karena terasa lelah dan kepalanya yang masih pusing. Hengki melihat Nadya sudah tertidur pulas naik ke atas tempat tidur berbaring di sebelah Nadya.
Suara ketukan pintu membangunkan Hengki yang sedang terlelap karena lelah beberapa hari dirumah sakit menjaga Nadya.
"Ada apa bi?"
"Nyonya memanggil tuan dan Nona untuk.makan siang."
"Baiklah, sebentar lagi kami turun, bilang aja sama mamah aku membangunkan Nadya."
Hengki menutup pintu, kembali ke tempat tidur membangunkan Nadya.
" Sayang bangun yuk makan dulu, nanti lanjut tidur lagi."
"Iya bentar." Nadya bangkit dari tidurnya.
"Mas tunggu di sini ya."
"Hhhmmmm." Nadya dengan malas menjawab.
"Ayo mau ke bawah sekarang?" Ajak Nadya
Hengki dan Nadya beranjak ke ruang makan, di sana sudah ada nyonya Rima yang sudah dari tadi menunggu.
"Maaf ya mah nunggu lama." ucap Nadya
"Ga apa apa sayang. Mamah sudah lapar makan yuk." ajak nyonya Rima
"Sayang yang banyak makannya, biar cepat sehat lagi. "
"Iya sayang biar cepat bikin dede bayi lagi." ucap Hengki sambil mengunyah makanan
"Hengki istri kamu itu baru saja sembuh dari sakitnya, udah ngomongin bikin anak." Nyonya Rima memarahi Hengki .
"Bercanda mah, iya kan sayang?"
Nyonya Rima dan Nadya saling pandang dan keduanya tertawa.
...****************...
Hai reader jangan lupa like koment dan vote favori