
Riska melipat mukenanya, usai menjalankan ibadah sholat maghrib di kamar sendirian. Reza tadi pamit jamaah sholat Maghrib ke Masjid dekat rumah bareng Pak Sapta dan Mas Heru yang merupakan Mas kandung Riska.
"Assalamualaikum!" Salam Reza seraya membuka pintu kamar, lalu menyelinap masuk sebelum kembali menutupnya.
"Walaikum salam. Udah pulang, Mas?" Tanya Riska seraya bangkit berdiri dan menyimpan mukenanya ke rak plastik di sudut kamar.
"Iya," jawab Reza seraya mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
Riska ikut duduk di samping Reza dan keduanya sama-sama diam.
"Ris,kami capek, nggak?" Tanya Reza yang akhirnya memecah kebisuan.
"Dikit. Kenapa?" Riska balik bertanya sekaligus menoleh ke arah Reza.
Reza balik menatap pada Riska.
"Ini kenapa masih dipakai terus bergonya? Udah di kamar juga," Reza menarik tali bergo yang melingkar di kepala Riska dan lalu membuka kain penutup kepala tersebut.
"Ba!" Goda Reza setelah melihat Riska yang kini tak lagi mengenakan jilbab.
Riska hanya menunduk malu.
"Cantik," puji Reza seraya mengusap lembut kepala Riska yang hanya tertunduk malu. Wajah istri Reza itu juga sudah bersemu merah.
"Tadi kamu bilang capek dikit, ya?" Reza bertanya sekali lagi pada Riska.
"Iya." Jawab Riska yang masih menundukkan wajahnya.
"Kerokin aku bentar, ya!" Badan aku kok rasanya agak meriang," pinta Reza yang langsung membuat Riska refleks meletakkan punggung tangannya di dahi Reza.
"Demam?" Tanya Riska yang masih mengukur suhu tubuh Reza dengan tanganmeter-nya.
"Nggak tahu. Demam nggak menurut kamu?" Reza malah balik bertanya pada Riska.
"Enggak, sih,"jawab Riska yangvsidah menurunkan tangannya dari kening Reza.
"Tapi badan aku rasanya greges greges. Kayaknya gara-gara kebanyakan ngadep.kipas angin di panggung tadi," ujar Reza mencari alasan.
"Yaudah, aku kerokin bentar," ucap Riska seraya bangkit berdiri dan mengambil minyak kayu putih serta uang koin dari meja rias yang ada di kamarnya.
Reza sudah membuka kemejanya dan berpindah posisi menjadi tengkurap di atas tempat tidur.
"Nggak duduk aja, Mas?" Tanya Riska sedikit canggung.
"Lebih enak begini, Ris," jawab Reza mencari alasan.
"Udah, kamu duduk di atas sini kan masih muat," Reza menepuk ruang kosong di sampingnya.
Riska akhirnya ikut naik ke atas tempat tidur dan mulai mengerok punggung Reza yang kini tak tertutupi sehelai benangpun.
"Terlalu keras, nggak? Atau malah nggak berasa?" Tanya Riska meminta pendapat Reza sambil tangannya terus bergerak di punggung Reza, membuat garis-gaeis warna merah dengan uang koin.
"Udah pas. Udah enak," jawab Reza seraya bergumam.
Dan detik selanjutnya setelah itu hanya ada keheningan. Riska begitu cekatan mengerok punggung Reza hingga suaminya itu keenakan dan tanpa sadar memejamkan matanya.
"Mas," panggil Riska karena Reza yang sepertinya sudah tertidur masih dengan posisi tengkurap.
"Mas Reza," panggil Riska sekali lagi seraya menepuk pipi Reza.
Wajah suami Riska itu terlihat lucu sekali saat tidur.
Karena Reza yang tak kunjung bangun, Riska akhirnya beranjak dari atas tempat tidur dan hendak mengambil satu kaus Reza.
"Mau kemana? Yang depan belum, Ris!" Reza sudah berbalik dan kini pria itu ganti telentang di atas tempat tidur.
"Riska kira tadi Mas Reza udah tidur. Dibangunin nggak jawab," ujar Riska yang kembali duduk di atas tempat tidur, dan mengoleskan minyak kayu putih ke dada Reza bagian atas sebelum mengeroknya dengan uang koin.
"Kok kayak nggak enak gitu posisi kamu, Ris!" Komentar Reza pada Riska yang terlihat 'ewuh'.
"Mas Reza nggak mau bangun duduk aja, sih," keluh Riska sedikit merengut.
"Yaudah, coba kamu duduk di atas aku aja!" Reza tiba-tiba sudah menarik tibuh Riska hingga terjadi tepat di atas tubuhnya.
"Mas!" Pekik Riska antar kaget dan tak siap.
"Apa? Kan udah sah," kilah Reza mencari pembenaran.
"Mas jadi masuk angin, nggak, sih?" Tanya Riska curiga.
Riska hendak bangun tapi Reza terus menahan tubuhnya dan mendekapnya dengan erat.
"Udah enggak. Udah sembuh. Kan tadi udah kamu kerokin," jawab Reza yang tiba-tiba sudah mengajak tubuh Riska untuk bergulinh dan kini keduanya sudah bertukar posisi.
Riska yang kini berada di bawah Reza wajahnya langsung bersemu merah.
"Udah siap belum?" Tanya Reza seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Riska yang sudah semerah tomat.
"Mas,"
"Belum Isya'." Riska mengingatkan Reza bersamaan dengan adzan isya' yang berkumandang dari masjid dekat rumah.
"Astagfirullah hal 'adzim." Reza tertawa kecil dan segera berguling dari atas tubuh Riska.
"Peluk bentar boleh, kan?" Gumam Reza yang ganti memeluk Riska dari samping. Istri Reza itu hanya pasrah.
"Mau jamaah lagi ke masjid? Atau mau sholat di rumah saja?" Tanya Riska yang masih belum lepas dari dekapan Reza.
"Jamaah sama kamu saja, bagaimana?" Tanya Reza meminta pendapat Riska.
"Yaudah, bangun ambil wudhu dulu," titah Riska seraya mengusap lengan Reza yang masih mendekapnya.
Reza segera bangun dan sekalian membangunkan Riska.
"Mas tadi sudah makan malam?" Tanya Riska seraya memberikan satu kaus baru untuk dipakai Reza.
"Belum."
"Kamu belum juga, kan?" Reza balik bertanya pada Riska yang hanya menggeleng.
"Yaudah, kita makan dulu, nanti baru sholat, trus lanjut ibadah sunnahnya," ucap Reza seraya merangkul Riska dan mengajak istrinya itu keluar dari dalam kamar dan menuju ke ruang makan.
.
.
.
Jiahahaha.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.