
Reza masih mengelap motornya yang baru selesai ia cuci dengan kanebo di halaman, saat Nadya pulang dari pasar bersama Bunda Maya.
"Wah, wah! Pagi-pagi motornya udah kinclong. Mau kemana, Mas?" Tanya Nadya sedikit menggoda Masnya tersebut.
"Emang kalau motor kinclong harus kemana, gitu?" Sahut Reza sedikit mencibir.
"Ya kan kali aja mau dipake apel ke cewek baru," kikik Nadya seraya duduk di kursi teras sambil tetap memperhatikan Reza yang telaten sekalo mengelap motornya.
"Memang Reza sudah punya pacar baru, Nad?" Tanya Bunda Maya merasa kepo.
"Tanya langsung aja sama orangnya, Bund!" Jawab Nadya sebelum menggigit kue pukis di tangannya.
"Bagi kue pukisnya, Nad!" Seru Reza saat melihat sang adik yang membawa satu kresek kue pukis.
"Mau yang ori, keju, apa coklat, Mas?" Tanya Nadya memberikan pilihan.
"Coklat!"
Nadya segera mengambil satu kue pukis topping meses coklat dan menyuapkannya ke Reza yang tangannya masoh sibuk ngelus-ngelus body motor vixion-nya.
"Mas Reza nanti pergi jam berapa?" Tanya Nadya selanjutnya pada Reza.
"Jam sembilan. Kenapa?" Reza balik bertanya dan membuka mulut lebar-lebar minta disuapi kue pukis lagi oleh Nadya.
"Anterin Nadya ke rumah Lita, dong! Nadya kangen sama Lita," jawab nadya meminta tolong.
"Boleh! Ambil lagi kue pukisnya! Enak," perintah Reza karena kue yang tadi ada di tangan Nadya sudah ludes dan berpindah ke dalam perut Reza.
"Ck! Dasar tukang makan!" Gerutu Nadya seraya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Namun gadis itu tetap mengambilkan kue pukis untuk Reza dan menyuapi masnya itu lagi.
"Katanya mau di antar ke rumah Lita? Suapin dulu makanya!" Celetuk Reza tanpa dosa.
"Makanya cepat nikah, Za! Biar ada yang nyuapi dan ngelus-ngelus!" Seru Pak Teddy yang entah muncul darimana.
"Nggak Papa lamarin. Bagaimana mau nikah?" Sahut Reza seraya mengunyah kue pukis di mulutnya.
"Kalau makan jangan teriak-teriak, Mas! Nanti tersedak!" Omel Nadya memperingatkan.
"Memang sudah ada calonnya?" Tanya Pak Teddy menyelidik. Pria paruh baya itu sudah mendekat ke arah Nadya da Reza.
"Lha Papa sudah siap mantu belum? Nanti kalau sudah siap, Reza carikan calon mantu yang siap di lamar," jawab Reza yang malah berkelakar.
"Woh lha! Reza! Reza!" Decak Pak Teddy dengan nada kesal.
"Papa kira sudah serius dan beneran ada. Malah guyon!" Gerutu Pak Teddy yang sudah meninggalkan Reza dan Nadya yang hanya terkikik berdua.
"Ak!" Perintah Nadya pada Reza agar membuka mulutnya.
Reza menurut dan Nadya segera menjejalkan pukis terakhir ke mulut masnya tersebut.
"Habis!" Ucap Nadya sebelum mengunyah pukisnya sendiri.
"Mandi sana!" Gantian Reza yang memerintah Nadya.
"Siap, grak!" Jawab Nadya lebay seraya berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah. Bunda Maya dan Pak Teddy sudah tak terlihat di teras dan kedua orang tua itu rupanya pindah ke dapur dan sedang cekikikan berdua. Entah sedang membahas apa.
****
"Nanti pulangnya telepon Papa saja, ya!" Pesan Reza setelah Nadya turun dari motornya.
"Nanti diantar Lita," jawab Nadya santai.
"Sukanya ngrepotin!" Reza mengacak rambut Nadya.
"Ish! Mas bikin poni Nadya berantakan!" Gerutu Nadya seraya merapikan kembali poninya.
"Potong pendek aja poninya. Biar kayak Dora!" Usul Reza yang kembali usil mengacak rambut Nadya.
"Mas Reza, ih!" Nadya yang kesal memukul-mukul lengan Reza yang pagi ini tertutupi jaket warna abu-abu.
"Ampun! Ampun, Nad!" Mohon Reza seraya cengengesan.
"Udah sana! Jemput Mbak Riska sana! Hush hush!" Usir Nadya pada Reza.
"Memangnya ayam? Hash hush!" Decak Reza seraya memakai kembali helmnya.
"Nanti beliin stroberi satu kranjang, ya, Mas!" Pesan Nadya sebelum Reza pergi.
"Mau yang warna putih apa merah?" Tanya Reza sedikit berkelakar.
"Preet!" Sahut Reza mencibir.
Reza menyalakan mesin motornya dan segera pergi meninggalkan Nadya setelah berpamitan.
"Loh loh loh! Kok ditinggal, Nad?" Tanya Lita yang tiba-tiba sudah njedul di samping Nadya.
"Lah ngapain juga ditungguin? Kurang kerjaan!" Jawab Nadya.
"Sebagai pacar dan calon suami yang baik, ya harus ditungguin, dong!" Pendapat Lita sok tahu.
"Ck!" Nadya langsung mencubit gemas bibir Si Lit Lita yang sok tahu itu.
"Udah dibilang kalau Mas Reza itu bukan calon suami aku lagi kok ngeyel!" Gerutu Nadya sebal.
"Aku sama Mas Reza itu kakak adek, Lit! Saudara satu bapak. Jadi kami udah nggak pacaran apalagi berencana menikah," sambung Nadya lagi yang sudah duduk di kursi teras rumah Lita.
"Jadi yang kemarin kamu ceritain itu bener, Nad?" Tanya Lita menyelidik.
Sahabat Nadya itu sudah ikut duduk di kursi teras dan menggeser kursinya kd dekat Nadya.
"Ya benerlah!"
"Masa iya aku bikin lelucon sampai kayak gitu. Sampai aku mewek balas pesan kamu," sungut Nadya seraya berdecak berulang kali.
"Puk puk puk! Yang sabar, ya Nad!" Lita menepuk-nepuk punggung Nadya dan menunjukkan raut keprihatinan.
"Telat! Tapi makasih udah ngasih aku semangat," Nadya segera memeluk Lita dengan lebay.
"Berarti aku boleh pedekate sama Mas Reza, dong, Nad? Kan kamu adeknya Mas Reza sekarang." Celetuk Lita tiba-tiba yang langsung membuat Nadya melepaskan pelukannya pada teman reseknya tersebut.
"Maksudnya pedekate?" Nadya pura-pura polos.
"Aku jadi mbak ipar kamu," Lita menaikturunkan alisnya ke arah Nadya.
"Emoh! Masa mbak iparku somplak, Lit?" Sahut Nadya dengan wajah pura-pura illfeel.
"Sialan kamu, Nad! Masa aku dikatain somplak!" Sungut Lita seraya menoyor kepala Nadya yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Comblangin aku sama Mas Reza, ya!" Bujuk Lita sekali lagi pada Nadya.
"Mas Reza nggak mau sama kamu, Lit!" Jawab Nadya seraya terkikik.
"Sok tahu! Aku cantik lho!" Celetuk Lita narsis.
"Preeet! Cantikan juga Mbak Riska!" Sahut Nadya seraya mencibir Lita.
"Siapa lagi itu Mbak Riska?" Tanya Lita kepo.
"Calon mbak ipar aku lah! Emangnya kamu aja yang punya mbak ipar? Bentar lagi aku juga punya!" Jawab Nadya pamer.
"Hiks! Patah hatiku." Lita mulai berekspresi lebay.
"Belum juga nyatain cinta ke Mas Reza. Ternyata Mas Reza udah mau nikah sama Mbak Riska!" Ucap Lita memulai drama mercusuarnya.
"Ku menangis!" Timpal Nadya meledek Lita yang sedang bertingkah lebay.
"Aku nangis beneran, Nad!" Lita semakin lebay.
"Bentar-bentar! Aku cari baskom dulu biar nggak banjir," ujar Nadya ikut-ikutan lebay.
"Cari ember sekalian, Nad! Toren, toren! Air mataku se-Samudera Hindia ini!" Timpal Lita yang malah membuat Nadya tertawa terbahak-bahak.
"Ya Allah! Punya teman kok ya koplak begini!" Celetuk Nadya yang langsung berhadiah toyoran dari Lita.
Dua sahabat itupun lanjut mengobrol sambil bercanda dan cekikikan hingga hari beranjak siang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia