NADYA

NADYA
PULANG SANA!



"Nggak ditawari mampir, Ris?" Tanya Reza setelah Risa turun dari motor dan hanya mengucapkan terima kasih.


Calon pengantin itu baru saja mengecek souvenir untuk bingkisan pernikahan mereka nanti.


"Yaudah, mampir sholat Maghrib dulu! Nanti pulangnya habis maghrib. Udah hampir jam enam juga," jawab Riska seraya melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Reza tersenyum dan segera memarkirkan motornya di halaman rumah Riska. Rumah terlihat sepi, karena memang Riska hanya tinggal berdua saja dengan sang bapak.


Mas kandung Riska yang juga merupakan suami dari Mbak Tatik tinggal di rumah sendiri yang berjarak tiga rumah dari rumah Riska.


"Assalamualaikum!" Salam Riska seraya membuka pintu depan. Pak Sapta tak terlihat di ruang depan. Mungkin sedang di belakang rumah mengurusi ayam-ayamnya yang sudah waktunya masuk kandang.


"Bapak mana?" Tanya Reza yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


"Di belakang biasanya kalau jam segini. Ngurusin ayam," jawab Riska seraya melepas tas selempangnya dan ikut duduk di kursi bersama Reza.


Kursinya terpisah tapi. Bukan satu kursi.


"Mau numpang mandi disini?" Tawar Riska pada Reza.


"Udah mandi tadi sebelum jemput kamu ke butik," jawab Reza cepat.


"Oh, ya? Kirain wangi parfum aja. Udah mandi ternyata," sahut Riska seraya terkekeh.


"Yaudah, aku mandi dulu kalau begitu. Sekalian aku panggilkan Bapak biar ada teman ngobrol," izin Riska selanjutnya pada Reza yang hanya mengangguk.


Riska sudah beranjak dan meninggalkan Reza sendirian di ruang tamu.namu tak berselang lama, Pak Sapta sudah keluar menemui Reza . Lalu dua pria itu langsung larut dalam obrolan ringan hingga waktu Maghrib menjelang.


****


Riska membawa dua cangkir kopi untuk Reza dan Pak Sapta yang masih asyik bermain catur seraya mengobrol di teras depan. Sekalian menikmati semilir angin malam katanya.


"Pak, udah jam tujuh. Katanya mau kumpulan bapak-bapak?" Ucap Riska mengingatkan sang bapak.


"Loh, ini malam apa memangnya?" Pak Sapta malah balik bertanya pada Riska.


"Malam Sabtu, Pak! Awal bulan," jawab Riska yang langsung membuat Pak Sapta menepuk keningnya sendiri.


"Astagfirullah! Bapak lupa, Ris!"


Pak Sapta bangkit dari duduknya dengan cepat dan langsung masuk ke dalam rumah untuk ganti baju.


"Nggak pulang, Mas?" Tanya Riska yang sudah duduk di kursi di depan Reza yang tadi diduduki oleh Pak Sapta.


"Kopinya belum habis. Mosok pulang?" Jawab Reza santai.


Pria itu menyesap perlahan kopi yang tadi disuguhkan oleh Riska.


Pak Sapta sudah keluar lagi dari dalam rumah membawa sebuah buku agenda.


"Undangannya udah dibawa, Pak?" Tanya Riska mengingatkan.


"Sudah! Kain seragam juga sudah," jawab Pak Sapta seraya menunjukkan isi kantong kresek yang ia bawa.


"Bapak kumpulan dulu, Za! Kamu lanjut main caturnya sama Riska saja!"


"Assalamualaikum!" Pamit Pak Sapta sebelum kemudian bapak kandung Riska itu kembali lagi ke teras.


"Kumpulannya dimana, Ris? Bapak lupa," tanya Pak Sapta pada Riska yang langsung menepuk keningnya sendiri.


"Di rumah Pak RT, Pak! Nanti disuguhi sop matahari," jawab Riska sedikit berkelakar.


"Bisa saja kamu, Ris! Memangnya resepsi pernikahan?" Sahut Pak Sapta yang sudah kembali pergi lagi.


"Kan juragannya sop matahari, Pak!" Celetuk Riska yang entah didengar oleh Pak Sapta entah tidak.


Kini tinggal Riska dan Reza di teras rumah.


"Kamu bisa main catur, Ris?" Tanya Reza menyelidik.


"Bisa! Apa sih yang Riska nggak bisa," jawab Riska sombong seraya membubarkan pasukan pion catur yang tadi berbaris di atas papan, lalu memasukkan semuanya ke dalam kotak.


"Lah, Ris! Kok malah dibubarin?" Decak Reza merasa tak terima.


"Pulang, Mas! Udah Isya' ini!" Perintah Riska pada Reza.


"Halah! Baru Isya'. Aku mau temani kamu sampai Bapak pulang, biar kamu nggak ada yang nggondol," jawab Reza mencari alasan.


"Udah adzan, kan, tadi?" Tanya Reza tiba-tiba pada Riska.


"Udah dari tadi. Udah iqamat malahan. Telat kalau mau jamaah ke masjid, Mas!" Celetuk Riska masih bersedekap.


"Yaudah, jamaah sama kamu aja. Ayo!" Reza sudah bangkit berdiri dan meraih tangan Riska lalu memaksa calon istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Mas!" Tegur Riska karena takut terjadi hal yang tak diinginkan.


Laki-laki dan perempuan berduaan di dalam rumah, yang ketiga kan syetan.


"Sholat isya' aja, Ris! Kalau jamaah kan lebih besar pahalanya," ujar Reza mengiming-imingi.


"Tapi kan..." Riska bingung menyusun alasan.


"Tapi apa? Anggap saja latihan sebelum besok jamaah setiap hari," ujar Reza sedikit menggoda Riska.


Calon istri Reza itu langsung mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah, Mas Reza wudhu dulu sana! Riska siapin dulu tempatnya," tukas Riska akhirnya yang tak bisa lagi membantah.


"Di ruang depan saja, Ris!" Saran Reza sebelum pria itu berlalu ke sumur yang berada di belakang rumah untuk mengambil wudhu.


"Iya!"


****


Reza dan Riska baru selesai menyantap sate ayam yang tadi mereka beli di tukang sate keliling.


"Udah jam sembilan malam, Mas!" Ucap Riska mengingatkan.


"Bapak Belum pulang," Reza masih saja mencari alasan.


"Paling sebentar lagi. Udah Mas Reza pulang sana!" Usir Riska pada calon suaminya tersebut.


Meskipun keduanya sejak tadi hanya ngobrol di teras rumah, tapi tetap saja tetangga pasti akan ngomong macam-macam karena Reza yang main lama sekali di rumah Riska.


"Iya, iya!" Reza bangkit berdiri dan mengusap kepala Riska yang tertutup bergo warna hitam.


"Tinggal seminggu lagi udah bisa ngobrol sampai pagi di atas kasur," celetuk Reza yang sontak membuat Riska ingin mentowel bibir calon suaminya tersebut.


Tapi tak Riska lakukan, agar Reza tak kepedean.


"Besok aku antar ke butik, ya!" Pesan Reza seraya menyodorkan tangannya ke arah Riska agar dicium oleh gadis itu.


"Nadya?" Tanya Riska yang langsung meraih tangan Reza dan menciumnya secara kilat. Reza saja sampai bingung dan bertanya-tanya.


"Nanti aku pinjem mobilnya Papa. Biar bisa ngangkut kalian berdua," jawab Reza enteng.


"Ck! Ngrepotin!"


"Aku biar diantar Bapak saja seperti biasa," tukas Riska menolak ajakan Reza.


"Udah pokoknya aku jemput besok. Titik!" Sahut Reza memaksa.


Dasar keras kepala.


"Yaudah terserah! Pulang sana!" Usir Riska merasa pasrah.


"Oke, Calon Istriku!" jawab Reza lebay yang segera menuju ke motornya yang masih berada di halaman.


Tepat saat Reza hendak pergi, Pak Sapta akhirnya pulang dari kumpulan bapak-bapak.


Reza pun berbasa-basi sebentar dengan calon mertuanya tersebut sebelum kemudian pamit pulang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.